Oleh: Suparto Wijoyo*

PROVINSI Jawa Timur telah memasuki usia 72 tahun di tanggal 12 Oktober 2017. Berbagai acara ditampilkan penuh pesona dalam agenda festival maupun pameran. Jatim menyedot perhatian secara nasional dan internasional. Pengunjung hilir mudik di Grand City maupun Jatim Expo serta di arena kabupaten/kota yang “ketiban sampur” tutur berbunga memeriahkan HUT Jatim. Kiai-santri, akademisi-politisi, “toga-tomas”, investor-inovator, pebisnis-pedagang asongan, dan bejibun profesi, termasuk para fotografer, asyik mengabadikan momen HUT di lapangan Tugu Pahlawan, yang kelak akan menjadi cerita sejarah. Jatim hadir “menarikan kemolekan tubuhnya” yang menyedot perhatian pemodal. Kawasan industri dibuka lebar dan destinasi pariwisata diunggah penuh gairah. Semua terkesima, meski terselip ada yang kecewa.

Jatim dalam kepemimpinan Pakde Karwo  memang  melakukan lompatan yang dinilai hebat. Ketahuilah bahwa sebuah lompatan itu lazimnya penuh hentakan dengan deret terjang yang menegangkan sebagai resultan atas gumparan daya yang telah terakumulasi untuk disorongkan secara ekspresif. Keniscayaan yang  terekam dalam tampilan peoples’s dancing senafas Gandrung Sewu di Banyuwangi, karena memang gerak irama rakyat digambarkan selalu eksploratif dalam segala dimensinya. Tarian yang menunjukkan beban hidup yang mengimpit maupun yang menindih sekaligus yang menghibur.

Hal itu tentu berbeda dengan traditional dancing yang bermula dan menyebar dari elite keraton (kekuasaan) yang memiliki keragaman gaya dengan patron utama gemulai. Lompatan yang terekam dalam gerakan rakyat lebih mendeskripsikan gerak juang yang tidak selalu linier. Bahkan dalam bahasa Friedrich Nietzsche (1844-1900) di karyanya, Also Sprach Zarathustra – Thus Spoke Zarathustra, permainan kata lompatan terbidik seitensprange – lompatan ke samping. Seberat apa pun bebannya, seringan apa pun langkahnya, senyaring apa pun suaranya, selirih apa pun bisiknya, atau sekeras apa pun ucapnya, seorang pemimpin pastilah memperhatikan dalam kesadaran terdalamnya bahwa  “gerak tarinya” akan mampu menembus semua sisi panggung tanggung jawabnya.

Di sinilah leader dancing seperti yang banyak ditulis serta diulas para ahli dan praktisi yang mesti diselami oleh siapa saja yang hadir diri menjadi seorang pemimpin. Kepemimpinan yang mengkristalisasi selaksa energi akan dapat ditilik dari tampilan Sang Pemimpin dalam menuntun jalan hidup rakyatnya. “Tarian” Sang Pemimpin kadang-kadang sangat keras menghunjam tetapi diayun cukup dengan langgam yang tidak perlu gaduh, namun kebijakannya mampu mengunduh visi-misi yang telah dicanangkannya. Sang Pemimpin dalam sunyi dapat memotret keriuhan, dan dalam keramaian mampu menangkap pesan sunyi seriang apa pun suasana yang melingkupi lahir-batin rakyatnya.

Dalam pentas dunia yang  telah terlalui latar belakangnya dan kadang-kadang terbaca samar latar depannya, hendak ke manakah masyarakat  berarak, publik membutuhkan pemandu yang mau menyalakan lilin perjalanan, obor karavan, tonggak  jelajah kafilah yang mampu menghantarkan  peran meraih cita-cita idealnya. Merujuk pada kerangka konstitusional  UUD 1945 yang memberikan landasan fundamental bahwa akad pembentukan pemerintah NKRI ini adalah “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Ini adalah tugas konstitusional yang melekat pada diri seorang pemimpin.

Pemimpin itu sejatinya menempuh jalan takdirnya untuk selalu sadar bahwa orang-orang kebanyakan akan berpaling kepadanya untuk memperoleh kekuatan dan tuntunan seperti ditulis Ram Charan (2009) dalam bukunya Leadership in The Era of Economic Uncertainty. Pemimpin harus hadir dengan gerak lompatnya dalam melayani masyarakat pada kondisi yang kompetitif sekarang ini. Gaya tari sesungguhnya hanyalah soal seni tampil yang hakikatnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat secara adil.

Ingatlah bagaimana dialog Allah SWT dengan Nabi Ibrahim AS yang diliterasi dalam Al-Quran.  Dalam Al-Baqarah ayat 124 dinarasikan: wa izibtalaaa ibroohiima robbuhuu bikalimaatin fa atammahunn, qoola inni jaa iluka lin-naasi imaamaa, qoola wa min zurriyyatii, qoola laa yanaalu ‘ahdizh-zhoolimiin – Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Allah berfirman: sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: dan juga dari anak cucuku? Allah berfirman, benar, tetapi janjik-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim”. Pemimpin itu maujud atas alas genetikal atau sosial dengan mekanisme demokrasi itu tidak menjadi soal asal bersikap adil, tidak zalim.

Pakde Karwo yang lahir di Bumi Palur, Kebonsari, Madiun, pada 16 Juni 1950 menorehkan jejak yang inspiratif bagi anak-anak pedesaan sampai perkotaan atas kiprahnya dari Sang Petani muncul leader yang kini mengusung Jawa Timur the emerging province.  Panggilan Pakde sebagai sebutan yang tumbuh secara kultural (cultural branding) di ranah sosial Jawa Timur tidak saja menyangkut segmen genetik dalam padanan uak, melainkan berkenaan dengan daya dekat dan sisi lekat kehadiran Pakde Karwo di masyarakat Jawa Timur. Sejak awal kepemimpinannya ada gerakan Pakde Karwo Sambang Deso di mana beliau berkunjung ke desa-desa menyapa kota untuk melakukan aksi nyata memenuhi harapan rakyat.

Sudah sepatutnya untuk diketahui bahwa Dr H Soekarwo adalah gubernur Jawa Timur pertama yang dipilih secara langsung dalam mekanisme demokrasi pada 29 Agustus 2008, dan publik Jawa Timur mengenalnya sebagai Pakde Karwo. Beliau dilantik menjadi gubernur Jawa Timur pada 12 Februari 2009 untuk periode kepemimpinan 2009-2014. Pakde Karwo terpilih kembali dalam Pemilihan Kepala Daerah pada 29 Agustus 2013 dan dilantik menjadi gubernur Jawa Timur periode kedua pada 12 Februari 2014 untuk masa jabatan 2014-2019. Kepemimpinan Pakde Karwo selama ini telah membawa perubahan besar bagi Jawa Timur dengan basis kerakyatan yang tinggi (public-participation).  Reformasi birokrasi melayani dan berbagai kebijakan “anti sembako impor” telah menjadi rujukan yang mengesankan.

Dalam Seminar Nasional Restorasi Kebijakan Ekonomi untuk Percepatan Kemandirian Bangsa, tanggal 28 Januari 2016 di Surabaya, Pakde Karwo menyatakan bahwa: seorang pemimpin harus jujur dan berani melakukan perubahan kebijakan bila kebijakan sebelumnya sudah tak lagi bisa mengakomodasi problem terkini, sehingga perlu dilakukan reregulasi, yang penting perubahan tersebut bertujuan menyejahterakan kehidupan rakyatnya.

Dari perayaan HUT ke-72 Tahun Jatim  tampaklah Pakde Karwo berupaya memberi­kan apa yang diamanatkan secara demokratis oleh rakyat. Semangatnya  mengingatkan saya atas ungkapan puitis Sastrawan Freiligrath yang acap kali dirujuk Bung Karno dalam berpidato: “man totet de Geist nicht,” yang arti bebasnya:semangat tidak bisa dibunuh.” Maka bersemangatlah menghadapi masa depan,   dengan penuh kemampuan bersaing, bekerja sama, bahu-membahu, tolong-menolong, bergotong-royong, bagi kegemilangan Indonesia dan Jawa Timur.

Saya  mengajak penikmat Tajalli untuk bergabung “membaca tarian” Jatim yang kian kencang tapi jangan sampai melenceng tanpa kendali.   Meningkatnya pengangguran, kekerasan, kemiskinan, kemerosotan lingkungan, dan kesadaran umum bahwa telah terjadi “saling lirik” yang mendasar dalam pengelolaan perekonomian negara, sungguh menggelisahkan.

Dalam deretan masalah demikianlah konstribusi  Jatim  pada perekonomian nasional untuk meningkatkan daya saing bangsa harus terus ditingkatkan. Kinerja pemerintahan yang telah dicapai merupakan pijakan yang harus terus diperkokoh lahirnya Jawa Timur sebagai the emerging province. Peran ini diambil guna menjaga agar suatu negara mampu menjalankan keberadaannya untuk rakyatnya secara adil. Siapa calon pengganti Pakde Karwo yang memiliki “wangsit” itu? Cermatilah. Dirgahayu Jatim.

* Esais, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan