Suasana hearing

JOMBANG | duta.co – Setiap pagi, bahkan sebelum lonceng sekolah berbunyi, mereka sudah hadir lebih dulu. Membuka kitab, menata niat, lalu berdiri di depan kelas, mengajarkan huruf demi huruf akhlak kepada generasi muda di Kota Santri. Wajah mereka tenang. Suara mereka sabar. Seolah tak ada beban. Namun di balik keteguhan itu, sekitar 1.000 guru pembimbing muatan lokal (mulok) agama dan pendidikan diniyah di Kabupaten Jombang sedang memikul kegelisahan yang tak kasatmata: honor mereka belum dibayarkan sejak Desember 2025.

Bagi sebagian orang, angka Rp650 ribu hingga Rp700 ribu per bulan mungkin tampak kecil. Namun bagi para guru ini, itulah penopang dapur, biaya sekolah anak, dan ongkos kehidupan yang berjalan tanpa jeda. Honor tersebut dihitung dari Rp30.000 per jam mengajar, dengan jumlah jam terbatas setiap bulan.

Seorang guru pembimbing, yang meminta identitasnya dirahasiakan, menuturkan dengan nada lirih. Ia mengaku sudah berbulan-bulan menunggu tanpa kepastian.

“Honor kami per jam Rp30.000 dari Dinas Pendidikan. Kalau dikalkulasi, rata-rata sekitar Rp650 ribu sampai Rp700 ribu per bulan. Tapi sekarang sudah beberapa bulan belum cair,” ujarnya, Rabu (18/2), saat ditemui di gedung DPRD Jombang.

Meski honor tak kunjung datang, mereka tidak meninggalkan kelas. Papan tulis tetap mereka sentuh. Doa-doa tetap mereka ajarkan. Nilai-nilai iman tetap mereka titipkan kepada murid-murid. Tidak ada yang berubah di hadapan siswa, kecuali kegelisahan yang mereka simpan rapat-rapat di dalam dada.

Bagi mereka, mengajar bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah pengabdian. Sebuah panggilan hati. Namun, pengabdian yang panjang tanpa kepastian perlahan berubah menjadi ujian kesabaran.

Harapan itu kini mereka bawa ke ruang rapat. Perwakilan guru pembimbing mulok agama dan diniyah mendatangi DPRD Jombang untuk melakukan hearing bersama Komisi D, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Mereka datang bukan untuk menuntut lebih, melainkan meminta kepastian atas hak yang telah lama tertunda.

“Kami tetap mengajar karena ini pengabdian. Tapi kami juga berharap ada kepastian. Kami hanya ingin hak kami diberikan,” ungkapnya.

Di tengah berbagai program pembangunan dan semangat memperkuat pendidikan karakter, nasib para guru diniyah ini menjadi potret sunyi yang jarang disorot. Mereka adalah fondasi moral generasi, penjaga nilai-nilai keimanan, namun kesejahteraan mereka masih menggantung di antara janji dan realisasi.

Hari-hari terus berjalan.Kelas-kelas tetap hidup oleh suara mereka. Kitab-kitab tetap terbuka di tangan mereka. Namun di luar ruang kelas, para guru pembimbing mulok agama dan pendidikan diniyah di Jombang masih menunggu menunggu honor yang bukan sekadar angka, melainkan pengakuan bahwa pengabdian mereka tidak diabaikan. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry