DR H ROMADLON, MM
“Estafet perjuangan menanti tangan-tangan muda yang siap melanjutkan. Bukan sekadar ingin belajar, tetapi yang siap menanggung amanah peradaban. Mereka yang datang bukan untuk mencari status, tetapi untuk memberi arti.”
Oleh Dr H ROMADLON, MM*

ZAMAN telah menuntut lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Dalam kehidupan berbangsa, terasa begitu cepat berubah. Ia membutuhkan moralitas yang kokoh, kepemimpinan arif, dan pencerahan spiritual yang menuntun.

Di tengah lanskap sosial yang kompleks, suara ulama bukan hanya mengggema saat ceramah, melainkan denyut kompas moral masyarakat. Maka, regenerasi ulama tak bisa ditunda. Ia harus disiapkan secara serius, sistematis, dan berkelanjutan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur membaca kebutuhan itu dengan hati dan pikiran. Melalui Program Sarjana Pendidikan Kader Ulama (PKU), MUI Jatim tidak sekadar membangun institusi pendidikan, tetapi membentuk jalan panjang kaderisasi yang berakar kuat dalam tradisi dan melangkah pasti dalam modernitas.

Sebuah ikhtiar mulia yang bukan hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga membangun pondasi kepemimpinan umat untuk masa depan.

Program Sarjana Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Jatim adalah ikhtiar strategis dan berjangka panjang untuk menyiapkan generasi ulama yang tidak hanya mumpuni dalam keilmuan Islam klasik, tetapi juga responsif terhadap perkembangan zaman.

Di tengah tantangan global, kemerosotan moral, dan derasnya arus digitalisasi, Sarjana PKU hadir sebagai benteng peradaban yang merawat sanad keilmuan, memperkuat akhlak, dan menyiapkan kepemimpinan umat berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Program ini tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi membentuk watak, karakter, dan kesadaran peran—bahwa seorang ulama hari ini harus siap hadir di tengah problematika umat dengan solusi yang relevan dan berlandaskan nilai-nilai Qur’ani.

PKU MUI Jatim didesain dengan pendekatan holistik—menggabungkan kedalaman ilmu, keikhlasan pengabdian, dan kecakapan sosial dalam satu ekosistem pendidikan yang terstruktur dan berorientasi masa depan. Kurikulumnya mencakup disiplin ilmu agama, wawasan kebangsaan, literasi digital, serta keterampilan komunikasi dan manajemen dakwah.

Diharapkan dari program ini lahir para kader ulama yang tidak hanya mampu menyampaikan fatwa dan ceramah, tetapi juga menjadi motor perubahan, pembimbing spiritual, penjaga akhlak publik, dan pilar moral bangsa.

Dengan semangat ini, sarjana PKU bukan hanya program pendidikan, melainkan gerakan peradaban—yang menjawab panggilan zaman dengan ilmu, hikmah, dan keberanian.

Program ini diluncurkan dengan semangat kolaborasi: antara LPPD Jawa Timur, BAZNAS Jatim, hingga UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) menjadi mitra strategis. Ini menandai bahwa pendidikan ulama tak bisa berjalan sendiri, melainkan perlu ditopang gotong royong dari berbagai elemen, baik negara maupun masyarakat. Program Sarjana PKU MUI Jatim hadir sebagai laboratorium nilai—memadukan ilmu, akhlak, kepemimpinan, dan pelayanan umat dalam satu tarikan napas pendidikan.

Tak hanya memberi beasiswa penuh selama delapan semester, program ini juga menjamin living cost, asrama, dan pendampingan holistik. Peserta bahkan diarahkan untuk belajar di prodi-prodi kunci seperti Ilmu Hadits, Tafsir, hingga Ekonomi Syariah. Sebuah pendekatan lintas-disiplin yang menandai kesiapan MUI Jatim mencetak ulama intelektual yang mampu menjawab dinamika global dan lokal sekaligus.

Namun yang paling penting, PKU ini bukan sekadar soal gelar akademik. Ia adalah panggilan untuk berkhidmat. Para lulusan kelak tak hanya diminta menjadi ahli, tetapi juga pemimpin. Mereka akan kembali ke kabupaten dan kota masing-masing untuk mengabdi di MUI daerah. Di sinilah esensi kaderisasi diletakkan: menyambungkan ilmu dengan amal, belajar dengan berjuang, dan kampus dengan masyarakat.

Ketua Umum MUI Jatim, KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah menegaskan, Program Sarjana PKU bukan proyek jangka pendek, melainkan investasi peradaban. Dengan penuh harap, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan program ini sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Sebab, mencetak ulama bukan hanya tugas MUI, tetapi juga amanah umat.

Melalui PKU, MUI Jatim seakan menanam benih di ladang sejarah. Sebagaimana para ulama masa lalu pernah hadir sebagai pelita zaman, kini generasi baru ulama disiapkan untuk menerangi masa depan. Tak lagi sekadar menjadi penjaga tradisi, tapi juga penggerak transformasi.

Dalam proses pendaftarannya, calon mahasiswa harus memenuhi syarat yang tidak hanya administratif, tetapi juga substansial: penguasaan dasar keagamaan, hafalan Al-Qur’an, serta kesiapan mental untuk berkomitmen menjalani pendidikan dan pengabdian. Proses seleksi dilakukan di tingkat MUI kabupaten/kota dan dilanjutkan dengan wawancara oleh MUI Jatim. Setiap daerah diberi kuota dua orang kader terbaik, memastikan pemerataan dan kebhinekaan dalam kaderisasi.

Jadwal pelaksanaan sudah disusun dengan ketat, mulai dari pendaftaran 14 Mei hingga 13 Juni 2025, seleksi pada 17-18 Juni, hingga perkuliahan yang akan dimulai Agustus mendatang. Kuliah umum pembuka akan diisi langsung oleh Gubernur Jawa Timur dan Ketua MUI Jatim—penanda bahwa sinergi antara pemerintah dan ulama tidak hadir).

Ulama di Era Digital

Di tengah dunia yang bergerak cepat, di mana arus informasi melaju tanpa batas dan tantangan sosial keagamaan kian kompleks, satu hal tetap menjadi kebutuhan paling mendasar umat: kehadiran ulama yang berilmu, berakhlak, dan berpandangan luas. Ulama yang tidak hanya mampu menjawab persoalan keagamaan, tetapi juga menjadi jembatan antara nilai-nilai ilahiyah dan realitas dunia modern.

Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur (MUI Jatim) menjawab kebutuhan ini dengan menghadirkan Program Sarjana Kaderisasi Ulama (PKU) 2025, sebuah inisiatif strategis yang dirancang untuk mencetak generasi ulama masa depan yang tangguh—dalam spiritualitas, intelektualitas, dan kepemimpinan sosial.

Menurut data Pusat Data dan Statistik Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, rata-rata usia ulama di berbagai pesantren dan majelis taklim besar di Indonesia kini di atas 50 tahun. Regenerasi berjalan, namun belum sistemik. Padahal, tantangan yang dihadapi umat Islam hari ini membutuhkan pendekatan yang jauh lebih adaptif.

Masalah-masalah baru muncul: dari ekstremisme digital, krisis moral generasi muda, hingga fragmentasi sosial akibat polarisasi politik dan budaya. Semua itu menuntut hadirnya ulama yang bukan hanya menguasai ilmu agama secara mendalam, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan, kemampuan komunikasi publik, literasi media, dan sensitif terhadap dinamika global.

Inilah mengapa Program Sarjana PKU MUI Jatim tidak sekadar program pelatihan keagamaan. Tapi ini sekaligus sebagai  ikhtiar besar membangun peradaban.

Sistematis dan Disiplin

Jadwal pelaksanaan program ini disusun secara terukur agar setiap tahap menjadi bagian dari proses kaderisasi yang matang: Pendaftaran 14 Mei sampai 13 Juni 2025. Seleksi dan Wawancara dilakukan 17 – 18 Juni 2025. Pengumuman Peserta Terpilih: 25 Juni 2025. Masa Orientasi dan Pembekalan Awal: Juli 2025. Dan mulai Perkuliahan: Agustus 2025.

Setiap tahapan merupakan pintu pembuka bagi para calon ulama muda untuk menjalani proses tahdzib (penyucian), tafaqquh (pendalaman ilmu), dan tarsyih (pembekalan kepemimpinan umat).

Sinergi: Kuliah Umum Perdana

Program Pendidikan Sarjana Kader Ulama (PKU) MUI Jawa Timur akan dibuka secara resmi melalui Kuliah Umum Perdana, sebuah forum intelektual dan spiritual yang rencananya akan diisi langsung oleh Gubernur Jawa Timur dan Ketua Umum MUI Jawa Timur. Kehadiran kedua tokoh ini bukan sekadar simbol seremoni pembukaan, tetapi merupakan penanda kuat bahwa negara dan ulama berjalan beriringan dalam membangun masa depan bangsa. Di forum ini, akan ditegaskan bahwa penguatan kapasitas ulama harus menjadi bagian dari arsitektur besar pembangunan nasional—karena tidak ada kemajuan yang sejati tanpa ketangguhan moral dan kekuatan spiritual.

Lebih dari itu, momen ini adalah panggung sinergi—di mana suara moral dari para ulama dan kebijakan strategis dari pemerintah bersatu dalam satu visi: menjadikan Indonesia sebagai negeri yang tidak hanya maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi juga kokoh dalam nilai dan iman. Ulama dan pemerintah bukan dua entitas yang saling berjauhan, melainkan mitra sejati dalam merawat kemanusiaan dan keadaban. Kuliah Umum Perdana ini diharapkan menjadi fondasi awal dari gerakan besar yang mempertemukan hikmah keulamaan dan kebijakan kenegaraan dalam satu cita-cita luhur: Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafuur. Yakni,  mewujudkan masyarakat yang adil, beradab, dan diridhai Allah SWT.

Pendidikan Sarjana Kader Ulama (PKU) MUI Jawa Timur tidak sekadar berorientasi pada melahirkan individu yang ‘alim dalam teks, tetapi ulama yang utuh—yang mampu menjembatani antara warisan keilmuan klasik dan realitas kekinian. Sarjana PKU ini  menyiapkan kader ulama yang tidak hanya menguasai fiqih, tafsir, dan tauhid, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan, kecakapan sosial, dan kepekaan terhadap perubahan zaman, termasuk disrupsi digital, krisis identitas, dan tantangan multikulturalisme global. Ulama yang tidak kaku dalam ruang sempit kitab, tetapi lentur dan bijak dalam menghadapi dinamika masyarakat yang kompleks.

Inilah wajah ulama yang dicita-citakan program Sarjana PKU: pemimpin rohani yang membumi, mampu berdialog lintas iman, menjawab problematika umat dengan hikmah, serta mengarahkan arus perubahan ke jalan yang diridhai Allah. Mereka bukan hanya simbol keilmuan, tapi juga penyambung harapan umat, teladan akhlak dalam keseharian, dan agen transformasi sosial. Dengan dasar keilmuan yang kokoh, akhlak yang terjaga, serta wawasan kebangsaan dan kemanusiaan yang luas, Sarjana PKU membentuk ulama yang bukan hanya menjelaskan hukum, tetapi menghidupkan nilai dan mencerdaskan peradaban.

Dalam pernyataan yang tegas dan membanggakan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, menyampaikan apresiasi luar biasa terhadap langkah visioner yang dilakukan oleh MUI Provinsi Jawa Timur. Beliau menegaskan bahwa program Sarjana Pelatihan Kader Ulama (PKU) yang diselenggarakan MUI Jatim merupakan satu-satunya program sejenis di seluruh MUI se-Indonesia. Ini bukan sekadar prestasi administratif—ini adalah lompatan peradaban.

“Kami di MUI Pusat memberikan apresiasi tinggi. MUI Jatim memang paling hebat. Telah melakukan lompatan besar dalam menyiapkan ulama-ulama handal yang mampu menghadapi tantangan zaman, khususnya di era digital yang berkembang sangat cepat ini,” ungkap KH Anwar Iskandar.

Pernyataan beliau bukan basa-basi, melainkan pengakuan nyata atas kekuatan ideologis dan strategis MUI Jawa Timur yang memahami betul urgensi regenerasi ulama. Di tengah arus globalisasi, disrupsi teknologi, serta derasnya informasi tanpa filter, kehadiran ulama yang berilmu tinggi, berakhlak mulia, berpikiran terbuka, dan berjiwa kebangsaan sangat dibutuhkan.

Sarjana PKU MUI Jatim bukan hanya pelatihan biasa. Ia adalah laboratorium kepemimpinan spiritual, intelektual, dan sosial. Ia mencetak kader yang tidak hanya mampu mengaji, tetapi juga mengkaji realitas dan memberi solusi. Para calon ulama ini dipersiapkan tidak hanya untuk berdakwah dari mimbar, tetapi juga dari ruang-ruang digital, ruang publik, hingga ruang kebijakan.

Program ini merupakan model pendidikan ulama berbasis kemitraan strategis antara ormas keagamaan, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil. Dengan kurikulum terpadu yang memadukan antara turats klasik dan pemahaman kontemporer, serta pendampingan langsung dari para ulama dan akademisi, Sarjana PKU MUI Jatim menjadi mercusuar baru bagi pembinaan keulamaan di Indonesia.

MUI Jatim telah membuktikan diri sebagai garda depan dalam ikhtiar mempersiapkan ulama masa depan—yang bukan hanya mewarisi, tetapi juga memperbaharui; bukan hanya menjaga, tetapi juga menjawab zaman. Ini adalah langkah berani yang patut diteladani oleh MUI di seluruh provinsi lainnya.

Proses Rekruitmen

Pendaftaran Program Sarjana Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Jawa Timur bukan sekadar prosedur formalitas administratif. Ia adalah gerbang awal menuju proses kaderisasi ulama yang selektif, berbobot, dan berorientasi jangka panjang. Karena itu, setiap calon peserta diwajibkan memenuhi syarat-syarat yang tidak hanya administratif, tetapi juga substansial dan berbasis kualitas pribadi dan keilmuan.

Calon mahasiswa harus memiliki penguasaan dasar-dasar keislaman, kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an minimal 1 juz, serta kesiapan mental dan spiritual untuk menjalani masa pendidikan intensif sekaligus pengabdian di tengah masyarakat. Kriteria ini dirancang untuk menjaring mereka yang benar-benar siap menjadi ulama pemimpin, bukan sekadar pencari gelar.

Proses seleksi dilakukan berjenjang dan berintegritas. Tahap pertama adalah seleksi administrasi dan uji kompetensi di tingkat MUI Kabupaten/Kota, yang kemudian dilanjutkan dengan tahap wawancara dan validasi akhir oleh Tim MUI Jawa Timur. Setiap daerah hanya diberi kuota dua kader terbaik, sebagai bentuk afirmasi terhadap kualitas, pemerataan, dan kebhinekaan dalam proses kaderisasi. Dari Situbondo hingga Pacitan, dari Madura hingga Mataraman, semua diberi kesempatan yang sama untuk mengirimkan calon ulama terbaiknya.

Penutup

Program Sarjana Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Jawa Timur bukan sekadar program akademik. Ia adalah manhaj peradaban, jalan suci yang dirintis untuk membentuk ulama pewaris para nabi yang mampu mengintegrasikan kedalaman ilmu, kemuliaan akhlak, dan kekuatan kepemimpinan dalam menjawab tantangan zaman.

Program ini tumbuh dari akar tradisi keilmuan Islam Nusantara yang kokoh—tradisi para ulama agung yang tidak hanya menjaga teks, tetapi juga menjadi teladan dalam membimbing umat. Di sinilah program Sarjana PKU menjadi titik temu antara warisan dan inovasi, antara nilai klasik dan kebutuhan kontemporer.

Program Sarjana  PKU bukan hanya mencetak ahli fatwa dan orator mimbar. Lebih dari itu, program Sarjana PKU mencetak ulama yang tangguh dalam spiritualitas, tajam dalam berpikir, dan sigap dalam bertindak. Ulama yang mampu menjadi penjaga moral publik, penggerak sosial, dan pemersatu umat dalam bingkai rahmat Islam.

Di ruang-ruang belajar program sarjana PKU, ilmu bukan sekadar bahan ajar, tapi cahaya yang menghidupkan. Sanad keilmuan bersambung hingga Rasulullah Muhammad Saw. Akhlak bukan hanya pelajaran, tapi napas keseharian. Dan kepemimpinan bukan hanya teori, tapi latihan nyata menuju medan dakwah yang sesungguhnya.

Program Sarjana PKU adalah jembatan antara idealisme dan realitas. Ulama yang lahir dari program ini dididik bukan untuk sekadar tampil di menara gading, melainkan untuk turun ke tengah umat, menyapa kehidupan, menyembuhkan luka sosial, dan membangkitkan harapan baru.

Inilah ekosistem pendidikan ulama yang utuh dan berkelanjutan—menggabungkan beasiswa keilmuan, keteladanan karakter, pendampingan sosial, dan visi kepemimpinan. Sebuah model pendidikan yang bukan hanya mencetak alumni, tetapi melahirkan pemimpin umat yang memberi arah dan makna dalam pusaran zaman.

Kini, estafet perjuangan itu menanti tangan-tangan muda yang siap melanjutkan. Bukan sekadar mereka yang ingin belajar, tetapi yang siap menanggung amanah peradaban. Mereka yang datang bukan untuk mencari status, tetapi untuk memberi arti.

Mari kita dukung, doakan, dan ikut serta dalam misi besar ini. Agar dari rahim program Sarjana PKU ini, lahir ulama-ulama muda yang fasih dalam ilmu, luhur dalam akhlak, dan kuat dalam memimpin perubahan. Ulama yang bukan hanya hadir di mimbar, tetapi juga hadir di hati umat.

Bukan hanya menyampaikan khutbah, tetapi menuntun arah sejarah. Bukan hanya menjawab persoalan, tetapi membangun peradaban. Inilah saatnya. Inilah panggilannya. Mari jawab dengan tekad dan pengabdian. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

*Dr H ROMADLON, MM adalah Ketua Komisi Hubungan Ulama — Umara Provinsi Jatim.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry