Kepala Desa Bringsang Gili Genting, Sutlan. DUTA/endang

Rela Keluarkan Uang Pribadi untuk Membangun Fasilitas

Dua pulau (gili) di Madura yang menjadi andalan adalah Gili Labak dan Gili Genting. Dua pulau itu memiliki keunikan  masing-masing. Keduanya siap menjamu para tamu yang berkunjung ke tempat itu senyaman mungkin.

Gili Labak dan Gili Genting adalah dua pulau yang saling berdekatan dan masuk ring satu lokasi eksplorasi milik PT Santos. Untuk menuju ke kedua pulau itu bisa ditempuh dari beberapa arah bisa dari Pelabuhan Kalianget dan Tanjung Saronggi. Namun jika ingin kedua pulau itu dilalui dalam sekali jalan lebih baik melalui pelabuhan Tanjung Saronggi atau Tanjung, biasanya begitu warga setempat menyebutnya.

Untuk menuju Gili Labak, ditempuh dalam waktu tiga jam dan Pelabuhan Tanjung. Sementara kalau ke Gili Genting banya butuh waktu 45 menit menggunakan kapal kayu khusus untuk penumpang berkapasitas 30 orang.

Di Gili Labah terkesan masih tradisional baik fasilitas maupun kehidupan penduduknya. Pulau ini memiliki hamparan pantai berpasir putih yang indah. Di sana, masih belum ada prnginapan khusus bagi pengunjung, namun jika ingin menginap penduduk setempat menyediakan penginapan dengan harga Rp 300 ribu per malam.

Namun di Gili Genting justru jauh lebih nodern. Pulau yang dikenal memiliki Pantai Sembilan itu sudah mulai modern. Di pulau itu sudah mulai tersedia banyak fasilitas bagi pelancong, misalnya penginapan berupa vila di tepi pantai. Vila dari kayu itu tersedia sebanyak tiga unit dan satu unit lagi masih dalam proses pembangunan. Semalam cukup murah yakni Rp 300 ribu per malam. Di sana juga tersedia berbagai fasilitas lain seperti permainan-permainan air dan spot-spot untuk berfoto.

Semua itu atas inisiatif Kepala Desa Bringsang, Gili Genting, Sutlan. Dengan  biaya sendiri, Sutlan membangun kawasan Pantai Sembilan dengan sangat indah. Bahkan fasilitas yang ada di kawasan itu sangat bagus untuk spot foto untuk diunggah ke media sosial.

“Saya banyak belajar. Saya jelek-jelek begini, ya sedikit mengerti tentang internet. Saya buka google, melihat tempat-tempat wisata pantai di dunia, saya jadikan referensi, dan jadilah pantai Sembilan seperti sekarang ini,” jelasnya.

Beruntung Gili Genting memiliki kepala desa yang sangat terbuka. Maklum, Sutlan adalah lulusan Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sehingga cukup berpikiran maju ke depan. Menurut Sutlan, dia mulai terpikir untuk menjadikan Pantai Sembilan sebagai destinasi wisata pada tahun lalu.

Pantai Sembilan yang berada di Desa Bringsang itu memang semula sangat kotor. Warga sekitar tidak menjaganya sebagai sebuah asset masa depan. “Januari 2016 saat ajak warga saya untuk bersih-bersih pantai. Selama beberapa bulan, kami membersihkan sampai akhirnya bersih seperti sekarang ini,” tuturnya.

Setelah bersih, Sutlan mulai memberanikan diri mempromosikan diri lewat media sosial miliknya. Satu persatu pengunjung datang. Bahkan, tiga desa lain yang ada di Gili Genting yakni Desa Aeng Anyar, Galis dan Padusan juga ikut menikmati hasilnya kini.

“Kini semua ikut menjaga karena kami tahu kini penghasilan kami sebagian besar dari wisata pantai ini. Bahkan, orang yang dulunya tidak bisa memasak kini mulai berlomba membuat masakan enak agar wisatawan senang menikmati kuliner laut dari Pulau Gili Genting,” tandasnya.

Karenanya, ketika Pemerintah Kabupaten Sumenep mencanangkan diri sebagai tahun kunjungan wisata 2018, Gili Genting menjadi salah satu pulau yang siap untuk berpartisipasi. Sutlan dan warga sudah mulai merancang berbagai hal yang membuat pengunjung betah di pulau tersebut.

“Kita akan buat pengunjung nyaman berada di sini, dengan fasilitas, kuliner dan layanan yang ramah. Serta tentunya tidak akan ada sampah di pantai kami,” jelasnya. (end)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry