Aslakhul Umam Ketua Umum APROKI (Asosiasi Proyek Konstruksi Indonesia) (dok/duta.co)

Oleh: Aslakhul Umam – Ketua Umum APROKI (Asosiasi Proyek Konstruksi Indonesia)

Membaca Arah Pembangunan
Memasuki awal tahun 2026, wajah Jawa Timur, khususnya Surabaya sebagai ibukotanya, telah mengalami perubahan signifikan. Sektor konstruksi bukan lagi sekadar tumpukan beton dan aspal, melainkan manifestasi dari ambisi Jawa Timur untuk menjadi pusat gravitasi ekonomi kedua di Indonesia setelah Jakarta. Melalui lensa evaluasi tahun 2025, kita dapat melihat bagaimana integrasi infrastruktur mulai membuahkan hasil, namun juga menyisakan catatan kritis yang perlu dibedah.

Refleksi 2025: Rekor Nilai Konstruksi dan Resiliensi Ekonomi
Tahun 2025 mencatatkan sejarah baru bagi industri konstruksi di Jawa Timur. Berdasarkan data agregat, nilai konstruksi di wilayah ini mencapai angka estimasi Rp 120 triliun hingga Rp 145 triliun (akumulasi APBD, APBN, dan investasi swasta).

Surabaya sendiri, sebagai motor penggerak, mengalokasikan hampir 50% dari APBD 2025-nya—yang menyentuh angka Rp 12,3 triliun—untuk belanja modal dan infrastruktur. Angka ini mencerminkan keberanian pemerintah daerah dalam melakukan pengeluaran kontra-siklus untuk menjaga daya beli masyarakat dan menciptakan lapangan kerja di sektor jasa konstruksi.

Keberhasilan tahun 2025 ditandai dengan meningkatnya jumlah perusahaan konstruksi lokal yang terlibat dalam rantai pasok global, di mana Jawa Timur tetap memegang predikat sebagai provinsi dengan jumlah badan usaha konstruksi terbanyak di Indonesia, yakni lebih dari 24.500 perusahaan.

Kilas Balik Proyek: Kuantitas dan Sebaran Eksploitasi
Sepanjang tahun 2025, Jawa Timur telah menyaksikan penyelesaian lebih dari 850 proyek skala menengah hingga besar. Di Surabaya, fokus pembangunan bergeser dari sekadar estetika pusat kota menuju penguatan konektivitas pinggiran.

Beberapa capaian kuantitatif yang menonjol meliputi; Pavingisasi Massal yang lebih dari 2.500 titik jalan lingkungan di perkampungan Surabaya telah tersentuh program pengerasan jalan, sebuah langkah taktis untuk meningkatkan nilai properti di akar rumput, juga pada Drainase Terintegrasi yang pembangunan sistem drainase sepanjang lebih dari 150 kilometer yang bertujuan menghubungan saluran tersier ke rumah pompa utama serta pada Konektivitas Regional yang penyelesaian beberapa seksi krusial di wilayah Gerbangkertosusila (Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan) yang memperlancar arus logistik manufaktur.

Kategorisasi Proyek: Dari Jalan Lingkar Hingga “Green Building”
Konstruksi di Jawa Timur saat ini terbagi ke dalam empat kategori utama yang mendominasi cakrawala pembangunan:

Infrastruktur Transportasi dan Konektivitas
Proyek Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) dan Jalan Lingkar Luar Timur (OERR) di Surabaya terus menjadi prioritas. Selain itu, pengembangan Radial Road di Surabaya Barat telah mengubah peta kemacetan di wilayah Lontar dan sekitarnya. Di tingkat provinsi, akses menuju Bandara Dhoho Kediri dan pengembangan jalur Pantai Selatan (Pansela) menjadi tulang punggung baru bagi pariwisata dan distribusi hasil bumi.

Infrastruktur Pengendalian Banjir
Mengingat topografi Surabaya yang rendah, kategori ini adalah “proyek abadi”. Pembangunan tanggul rob di Surabaya Utara serta normalisasi sungai di wilayah perbatasan Sidoarjo-Surabaya menjadi fokus utama untuk melindungi aset ekonomi senilai ratusan triliun rupiah dari ancaman kenaikan permukaan laut.

Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan modern
Pembangunan RSU Surabaya Selatan dan perluasan RSUD dr. Soetomo menunjukkan pergeseran ke arah konstruksi spesialisasi tinggi. Bangunan-bangunan ini mulai menerapkan standar Green Building untuk efisiensi energi, sebuah standar baru yang mulai diwajibkan oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Kawasan Industri Khusus (KEK)
Pembangunan smelter di Gresik (KEK Gresik) dan kawasan industri di Tuban serta Lamongan telah menciptakan permintaan besar bagi konstruksi pergudangan dan instalasi pengolahan limbah industri.

Forecasting 2026: Menatap “Smart & Sustainable City”
Prediksi untuk sisa tahun 2026 menunjukkan tren yang optimis namun selektif. Sektor konstruksi diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 5,2% – 5,8%, antara lain beberapa poin yang perlu dibahas secara inklusif terdapat pada Surabaya Regional Railway Line (SRRL), ini akan menjadi proyek paling ambisius.

Transformasi moda transportasi dari berbasis jalan raya ke berbasis rel akan memicu pembangunan stasiun-stasiun modern (Transit Oriented Development/TOD) di sepanjang rute Sidoarjo-Surabaya-Gresik. Juga pada Konstruksi Digital (Smart City) pemasangan jaringan fiber optic bawah tanah dan pusat data (data center) akan menjadi kategori proyek baru yang masif, seiring ambisi Surabaya menjadi hub ekonomi digital Indonesia Timur. Tak kalah penting pada Hilirisasi Energi Baru Terbarukan (EBT) pemasangan panel surya pada bangunan-bangunan publik di Jawa Timur akan menciptakan pasar baru bagi kontraktor spesialis EBT.

Peranan Pemerintah: Lebih dari Sekadar Regulator
Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya memegang peranan sebagai “Architect of Development”. Peran ini terlihat dalam tiga aspek:
Penyederhanaan Perizinan (KKPR): Melalui integrasi OSS, pemerintah daerah berhasil memangkas waktu tunggu persetujuan konstruksi, yang sebelumnya menjadi momok bagi investor swasta.

Skema Pembiayaan Kreatif: Menyadari keterbatasan APBD, pemerintah mulai menerapkan skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha). Proyek seperti pengolahan sampah menjadi energi (PSEL) dan penyediaan air minum (SPAM) menjadi bukti keberhasilan kolaborasi ini.
Proteksi Kontraktor Lokal: Adanya regulasi yang mewajibkan proyek strategis daerah melibatkan sub-kontraktor lokal menjadi napas bagi UMKM konstruksi di Jawa Timur untuk naik kelas.

Tantangan dan Masalah
Dibalik kemegahan proyek yang ada, industri konstruksi di Surabaya dan Jawa Timur masih menghadapi tantangan klasik namun kompleks:

Masalah Klasik Pembebasan Lahan
Meskipun regulasi pengadaan tanah sudah diperbaiki, sengketa lahan di proyek strategis seperti OERR Surabaya masih menjadi penghambat utama yang menyebabkan pembengkakan biaya (cost overrun). Pemerintah Kota Surabaya, melakukan pembahasan secara intensif yang menghasilan Satuan Tugas (Satgas) Pertanahan, ini penting bagi pelaku usaha atau developer, pengusaha yang terlibat dalam usaha tersebut.

Kenaikan Harga Material dan Fluktuasi Global
Ketergantungan pada beberapa komponen impor untuk proyek teknologi tinggi (seperti eskalator, sensor pintar, dan material baja khusus) membuat estimasi biaya seringkali meleset akibat fluktuasi nilai tukar rupiah.

Kesenjangan Kompetensi SDM
Terdapat jurang antara kebutuhan proyek “Smart City” dengan ketersediaan tenaga kerja konstruksi yang tersertifikasi secara digital (BIM – Building Information Modeling). Banyak pekerja lapangan masih menggunakan metode konvensional yang kurang efisien.

Isu Lingkungan dan Sosial
Pembangunan di wilayah pesisir Jawa Timur seringkali berbenturan dengan isu ekosistem mangrove dan mata pencaharian nelayan. Penyeimbangan antara kemajuan fisik dan kelestarian ekologi tetap menjadi tantangan moral dan teknis bagi para pengambil kebijakan.

Konstruksi Sebagai Jembatan Masa Depan
Konstruksi di Surabaya dan Jawa Timur pada tahun 2026 bukan lagi sekadar tentang memindahkan tanah dan menyusun bata. Ini adalah tentang membangun fondasi bagi generasi mendatang agar mampu bersaing di kancah global. Keberhasilan pembangunan ini tidak diukur dari seberapa megah gedung yang berdiri, melainkan dari seberapa besar dampaknya terhadap penurunan angka kemiskinan dan peningkatan konektivitas antar-manusia.

Tantangan yang ada—mulai dari lahan hingga pendanaan—harus dijawab dengan inovasi teknologi dan keberanian politik. Surabaya telah membuktikan diri sebagai kota yang tangguh, dan dengan dukungan Jawa Timur yang solid, sektor konstruksi akan tetap menjadi tulang punggung kemakmuran wilayah ini. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry