JOMBANG | duta.co – Memasuki abad kedua perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama (NU), tantangan yang dihadapi jam’iyah mengalami pergeseran mendasar. Jika pada masa seratus tahun pertama fokus utamanya adalah menjaga kelestarian tradisi keagamaan dan eksistensi organisasi, maka fase berikutnya menuntut langkah yang lebih berani: yaitu mengonsolidasikan ledakan potensi kaum cendekiawan yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Merespons dinamika tersebut, Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur menggelar forum strategis melalui Podcast ISNU Talk bertajuk “Orkestrasi Sumberdaya ISNU” sebagai kegiatan pendamping (side event) pada rangkaian Muktamar ke-35 NU di Jombang.

Narasumber utama yang menguraikan kerangka kerja pemikiran ini adalah Dr. H. Yusuf Amrozi, M.MT. —seorang akademisi dari Program Studi Sistem Informasi UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga menjabat sebagai pengurus PW ISNU Jawa Timur. Dalam paparannya yang tajam dan terstruktur, Yusuf menekankan urgensi bagi NU untuk menerapkan prinsip manajemen strategik bernama Resource Orchestration (RO) atau orkestrasi sumber daya.

Menurutnya, mekanisme ini menjadi syarat mutlak bagi organisasi besar untuk mampu menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di tengah persaingan zaman yang semakin kompleks.

Berdasarkan pengamatannya, kekayaan dan potensi intelektual yang dimiliki oleh NU dan ISNU sesungguhnya sudah sangat melimpah ruah. Mulai dari lulusan sarjana, magister, doktor, profesor, hingga para teknokrat yang ahli di berbagai bidang keilmuan. Namun, kekayaan ini belum sepenuhnya bergerak sebagai satu kekuatan yang terintegrasi.

“Tantangan terbesar pemimpin NU ke depan adalah bagaimana mengorganisir, mengintegrasikan, dan mendayagunakan seluruh modal intelektual, aset, serta jaringan koneksi tersebut menjadi satu kesatuan gerak yang solid,” tegas Yusuf.

Mengacu pada teori manajemen strategik pakar global David Sirmon, Yusuf menjabarkan ada empat syarat fundamental yang harus dipenuhi dalam proses mengorkestrasi potensi organisasi agar tidak terkalahkan oleh pihak kompetitor yang merujuk pada teori resource-based view, yaitu:

Pertama, Bernilai (Valuable): Segala pemikiran, karya, dan program yang dihadirkan oleh pengurus wajib memberikan kontribusi nilai manfaat yang nyata dan langsung dirasakan bagi kemaslahatan umat atau jamaah.

Kedua, Langka (Rare): Organisasi harus mampu menonjolkan ciri khas atau keunikan layanan spesifik yang jarang dimiliki atau ditiru oleh kelompok lain.

Ketiga, Sulit Ditiru/Digantikan (Inimitable): Nilai ini perlu dijaga melalui konsistensi paham keislaman yang moderat—Rahmatan lil ‘Alamin—sebagai jangkar peradaban yang memiliki karakter unik dan tak tergantikan.

Keempat, Terorganisir secara Maksimal: Hal ini perlu didukung oleh tata kelola modern yang berbasis sistem informasi digital untuk menggerakkan seluruh lini operasional organisasi secara efisien, terkoordinir dan terukur.

Lebih jauh, penulis buku “Mozaik Kehidupan” ini juga menyoroti isu krusial dalam manajemen pengetahuan (Knowledge Management) khususnya di kalangan generasi muda NU dan Gen-Z dalam menghadapi gelombang kecerdasan buatan (AI).

Ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan tacit knowledge—kapasitas orisinalitas berpikir yang bersumber dari kedalaman hati dan akal—, serta explicit knowledge atau kecakapan penguasaan teknologi perangkat lunak digital.
Tujuannya agar kader tidak hanya menjadi konsumen informasi pasif, melainkan mampu bangkit menjadi produsen pengetahuan yang mandiri.

Sebagai penutup analisisnya pada podcast tersebut, Yusuf melukiskan profil kepemimpinan ideal yang dibutuhkan NU di abad kedua:

“Seorang pemimpin masa depan NU harus memiliki kapasitas ganda. Ia harus menjadi leader yang menelurkan konsep visioner, sekaligus mampu menjadi manajer yang andal untuk mendaratkan gagasan besar tersebut hingga level teknis operasional, demi mendongkrak berbagai sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan publik, dan lainnya” pungkasnya.

Forum diskusi yang kaya wawasan ini diselenggarakan secara terbuka dan dapat disaksikan kembali oleh khalayak luas melalui kanal resmi YouTube ISNU Jawa Timur.(*)

(Kontributor: Imam Kusnin Ahmad)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry