TEKHNOLOGI : Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman saat kunjungan ke lokasi persawahan Desa Jabon Kecamatan Banyakan (Ahmad Mafrcuhi / duta.co)

KEDIRI | duta.co – Dalam kunjungan kerjanya di area persawahan Desa Jabon Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri, Rabu (9/10). Menteri Pertanian RI, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP memperkenalan tekhnologi pertanian modern akan diterapkan. Dia juga mengajak para pemuda di Kediri bergabung dalam Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) yang digagasnya.

Menggunakan drone, peralatan awalnya dipergunakan untuk pengambilan gambar, rupanya bisa dijadikan sarana untuk memangkas dana yang harus dikeluarkan petani.

“Drone merupakan peralatan pertanian yang canggih, dimana kita memupuk menggunakan drone. Kemudian menebar benih hingga menebarkan peptisida. Ini adalah menarik untuk pemuda-pemuda Indonesia untuk turun ke sawah, untuk bertani dengan menggunakan teknologi canggih,” terangnya.

Diterangkan Mentan RI, transformasi pertanian tradisional menjadi modern ini, diharapkan para pemuda untuk terjun ke sawah dengan memanfaatkan fasilitas tekhnologi. “Biasa mengolah tanaman dibutuhkan 20 orang pada luas satu hektar. Dengan menggunakan tekhnologi cuma butuh waktu 20 hari dikerjakan satu orang untuk luas yang sama,” ungkap Amran.

Begitu juga masa panen, bila sebelumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan, namun dengan menggunakan peralatan terbaru, hanya butuh waktu tiga hingga lima jam untuk seluas satu hektar. “Jadi kita bisa memangkas waktu sampai 90%. Kemudian biaya produksinya bisa kita tekan hingga 50 sampai 60%,” jelasnya dihadapan wartawan.

Bila kemudian ini diterapkan, maka Indonesia akan bersaing dengan negara maju seperti Jepang dan Brazil dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. “Alhamdulillah pemuda tani yang turun ke sawah itu sudah kurang lebih 500 ribu tergabung dalam Gempita. Hasilnya, di zaman pemerintahan Jokowi JK, mampu menaikkan ekspor 9 juta ton,” imbuhnya.

Amran menegaskan jika dirinya bersama rombongan telah melihat sendiri stok besar sudah melimpah di Gudang Bulog Kediri. “Gudangnya penuh bahkan masih menyerap beras masih muda. Padahal ini musim kemarau, itu menunjukkan bahwa gudang kita penuh,” jelasnya. (rci/nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry