Dr Suparto Wijoyo

Oleh: Suparto Wijoyo*

SEBELUM menulis ini terdapat tanya dari kolega sewaktu kumpul tanpa sengaja dalam kebetulan yang sehat dengan emak-emak yang heboh soal pemilu 2019. Cak Tajalli besok tentang apa?  Saya spontan menjawab dengan kesungguhan mimik bahwa dengan “bertajalli” hari ini  saya hendak menoleh ke Gresik. Lho … kok Gresik, Cak? Bukankah banyak materi diskusi yang lebih pantas secara nasional untuk dibincang dalam kolom spesial itu daripada sekadar mengenai Gresik? Sahabat itu menyodorkan ragam fenomena yang marak pekan ini. Mereka tertarik dengan perkembangan warta mengenai kabar-kabar yang sudah terbukti palsu alias hoax di seputaran kertas suara yang tercoblos berkontainer-kontainer di Tanjung Priok. Ini masalah krusial menyangkut prasangka dan menjadi penentuan pertarungan yang terhormat ataukah penuh nista. Apabila kecurangan adalah jalan terbaik bagi Pemilu 2019 maka itu adalah “penodaan demokrasi” yang paling brutal nan kriminal. Maka KPU merespons dengan sangat cepat sambil memanggulkan mandat kepada pihak kepolisian untuk melakukan penyidikan komprehensif atasnya.

Seputaran KPU sendiri juga bermanuver aneh-aneh dengan merancang-rancang sesi penyampaikan visi-misi dengan penjadwalan yang sudah beredar memenuhi ruang publik bahwa pada 9 Januari 2019  akan ada tampilan itu. Eh … ternyata dibatalkan dan menggeliatlah ikhtiar saling sorak  seiringan dengan rencana visi-misi yang diwakili Timses yang urung dilakukan. KPU juga memberikan asupan demokrasi yang sangat menyayat kepentingan akal dan nalar sehat dengan  “kertas kerpekan” soal sejenis kisi-kisi materi Debat Capres-Cawapres yang hendak digelar 17 Januari 2019.

Sebuah peradaban yang “antiadab” bersekolah karena bocoran itu membawa implikasi persepsional yang jauh dari makna perdebatan untuk memilih pemimpin  yang berkapasitas, berintegritas, dan berkompetensi tinggi dalam memberikan “solusi jenius” atas problematika yang kian marak di negeri ini. KPU diberitakan sangat “manut” dengan situasi yang menggiringnya dalam “titik penuh sangka” penyelenggaraan pemilu yang diwarnai cerita-cerita “bocoran pertanyaan-pertanyaan debat”. Panggung debat dengan sendirinya seperti “arena sepak bola yang telah diatur skornya” alias penuh dengan kecurigaan.

Belum reda soal ini terbincangkan muncul pewartaan yang sangat historis dalam sejarah persetubuhan, yakni protitusi online yang melibatkan sosok artis yang belum mencapai kadar aktris dengan harga yang oleh khalayak ramai tentulah spektakuler. Ini menandakan ada tren pasar persenggamaan yang beratribut artis amatlah mempesona dan proses hukum ke depan tentu manarik untuk diikuti sambil menyisihkan rasa “memahami” dalam gelapnya dunia malam meski di siang yang terang. Kabar berikutnya adalah bukan pelaku yang tergiring ke ranah norma melainkan sang mucikari yang oleh orang-orang kampung dulu itu disebut germo. Prostitusi itu hal yang sudah diketahui oleh umum sebagai tindakan “membinalkan diri secara haram” yang ternyata mengikuti pula perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. On line adalah jenis akses pemesanannya dan bukan menyangkut “teknik persatupaduan badan” sebagaimana go food itu tidaklah konten makanan yang melekat pada gado-gado atau soto, melainkan hanyalah instrumen teknologi yang mempermudah pemesanan. Jadi pesan dan barang yang dipesan adalah dua hal yang berbeda tetapi menyatukan kehendak.

Belum lagi soal perkembangan penanganan korban bencana di Lombok, Palu, Banten, Sukabumi, dan amblesnya Jalan Gubeng. Semuanya menarik, apalagi yang menyangkut persiapan saki-saksi dari Parpol maupun Caleg-Caleg yang sekarang ini sedang semarak didata. Akumulasi kebutuhan pencoblosan ini sangat massal dan gambar-gambar semakin menyesakkan. Tetapi biarlah itu terus dapat disuarakan oleh setiap orang yang terlibat segmen pergaulannya. Saya mengikuti  berita tentang politisi yang tertangkap setelah manjadi buron kejaksaan atau semarak gairah politik maupun syahwat  yang “bertarif itu” dengan lebih  fokus saja melihat Gresik sebagai atmosfer kepemimpinan yang bergulir di arah yang benar.

Kepemimpinan dari Gresik ini telah menjalar dalam sirkulasi yang beradaptasi dengan zaman. Pekan ini saya tengah menghabiskan dua buku yang menggoda sepertalian dengan sikap-sikap pemimpin yang harus mengambil prakarsa dengan tepat di lorong masanya. Pakar inovasi Amerika Serikat Alec Ross menuangkan dengan cermat di buku The Industries of The Future  (2018). Tawaran yang diberikan adalah menyesuaikan diri dengan laju dinamik teknologi atau Anda akan tertinggal untuk selanjutnya musnah. Begitulah yang tertera dan ini mendorong orang untuk terus berinovasi sambil membenarkan catatan Walter Isaacson yang membeber “kaum pembaru” dalam karyanya  The Innovators (2014).

Bupati Gresik  Sambari Halim Radianto menempuh jalan inovasinya dengan bukti beragam penghargaan telah diraihnya untuk urusan-urusan semacam ini. Kini tampak bahwa kreasi yang inovatif pemerintahannya memang tidak diperkenankan jeda meski sesaat dengan langkah yang terbaru: pelantikan Sekda Gresik Andhy Hendro Wijaya, sosok birokrat muda kelahiran 1972. Ini merupakan Sekda yang berkelambu debutan sinyal milenial. Akankah harapan itu semakin menjadikan Gresik tambah moncer dengan alur  yang diajarkan Kanjeng Sunan Giri? Poros perubahan dengan Sekda yang dipandang dapat menjadi “penyambung gagasan” yang implementatif penyelenggaraan pemerintahan Gresik yang “berjiwa muda” tentu memperteguh  “segi tiga kesatria” (bupati-wabub-sekda).

Langkah ini sepertinya sedang menyongsong “babakan masa depan” mengenai tampuk kepemimpinan Gresik yang dapat dibaca meski dengan sangat sumir dari “sinyal pengorganisasian ini”. Hal-hal implikatif selanjutnya yang belum terang dibaca itulah yang menyebabkan saya lebih menoleh ke Gresik dengan segala “kreasi menjemput cahayanya”. Ditambah lagi Rektor Universitas Airlangga sendiri pun berasal dari Gresik dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga, juga berpendar dari tlatah Gresik. Semua amanah ini dipanggul dalam bobot yang berbeda tetapi dalam narasi pesan yang sama: teruslah melayani sebagai pengabdian tertinggi. SELAMAT.

*Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum &  Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.