“Komunikasi politik tidak tulus ini akan semakin membentuk budaya yang membuat cacat terhadap etika berpolitik antar aktor-aktornya.”

Oleh: Awang Dharmawan*

IDENTITAS BUKU

Judul buku: Komunikasi Politik Dalam Masyarakat Tidak Tulus

Pengarang: Nurudin

Penerbit: Prenada, Jakarta

Tahun Terbit: Juli 2020

Jumlah halaman: xiv + 198

MENILIK judul, Komunikasi Politik Dalam Masyarakat Tidak Tulus, buku ini menjelaskan relasi antara elit politik yang diliputi dinamika dan friksi untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Elit politik berusaha menguasai mayoritas termasuk dengan cara berkoalisi sebagai usaha merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Berikutnya ketika dukungan politik ini sudah dicapai dari mayoritas, maka bagaimana peraturan dan kebijakan ini dibentuk untuk kepentingan pragmatis status quo itu sendiri.

Oleh karena itu, kebijakan yang tidak tulus ini lahir dari proses relasi politik yang tidak tulus antar aktor-aktornya. Sehingga implementasi komunikasi politik tersebut berkutat pada konflik kepentingan antara aktor elitnya saja, dan mengabaikan kedewasaan berpolitik secara kebangsaan.

Komunikasi politik tidak tulus ini akan semakin membentuk budaya yang membuat cacat terhadap etika berpolitik antar aktor-aktornya.

Sebagai dosen, organisatoris, sekaligus penulis, esai-esai Nurudin konsisten kritis merekam rentetan kasus komunikasi politik pemerintah dan masyarakat sejak tahun 2009 sampai 2019. Meskipun ada esai yang sudah ditulis lebih dari satu dasawarsa, ternyata esai itu masih relevan dan kritis untuk mengulas komunikasi yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi pandemi.

Salah satu esai yang berjudul “Flu Babi Muncul, Pemerintah Terlalu Sibuk Sendiri” dapat menjadi pelajaran berharga bagi kondisi saat ini yang kembali menghadapi pandemi virus.

Sebetulnya pemerintah perlu belajar dari kasus lampau dalam menghadapi wabah flu babi pada tahun 2009 yang terlambat dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN, dalam melakukan pencegahan dan menentukan kebijakan untuk merespon wabah virus.

Selain itu, degradasi demokrasi juga terjadi pada konteks masyarakat sebagai aktor politik.

Buku ini mengulas bagaimana masyarakat terpecah dalam fanatisme dukungan politik, dan melahirkan eksklusifitas dengan memiliki pandangan bahwa kelompok yang berbeda pilihan politik sebagai musuh.

Perbedaan identitas agama dan politik dalam pemilihan umum, dijadikan alat untuk semakin memperkeruh demokrasi bangsa ini. Masyarakat terjebak dalam fanatisme pilihan politiknya dan diwarnai saling menghujat di ruang publik, media sosial, dan bahkan terjadi tindakan destruktif yang menegangkan tensi politik negeri ini.

Buku ini mengulas kegagalan komunikasi politik di tingkat masyarakat ini menjadi jalan panjang yang harus diperhatikan dan harus dibenahi, agar tidak semakin memecah relasi dan tatanan sosial.

Dalam buku Social System karya Niklas Luhmann (1996), bahwa masyarakat adalah komunikasi itu sendiri, artinya dalam kompleksitas relasi sosial yang terjadi pada masyarakat ditentukan oleh efektifitas pemahaman dalam proses komunikasinya.

Berbagai carut-marut konflik kepentingan yang terjadi dalam relasi elit politik dan masyarakat pasti akan melahirkan benturan bagi aktor-aktor yang terdampak. Interaksi mempertarungkan kepentingan antara aktor elit politik dan masyarakat tersebut, akan memproduksi jaringan sistem masyarakat yang terus dinamis mengikuti arah interaksi diantara keduanya.

Komunikasi dapat menjelaskan persoalan relasi antaraktor tersebut, sehingga setiap aktor memiliki imun membentuk sistem yang terus berubah. Bagi masyarakat, komunikasi politik itu dilakukan untuk mencapai tujuan kebebasan, akses politik, dan kesejateraan sosial. Sedangkan bagi kelompok elit, politik merupakan legitimasi kekuasaan dan mempertahankan kekuasaannya.

Maka dari itu semua esai yang tertulis dalam buku ini menjelaskan berbagai kasus dinamika tarik-menarik tujuan dan kepentingan politik para aktornya, baik itu masyarakat dan elit politik.

Kekurangan dalam buku ini adalah, gaya penulisan populer setiap esai berbeda-beda, karena esai ini pernah dipublikasikan oleh berbagai macam media lokal sampai nasional. Tentunya karakteristik penulisan setiap media memiliki ciri khas sendiri-sendiri, sehingga ketika esai-esai ini dikumpulkan untuk menjadi buku, maka ada perbedaan gaya penulisan.

Meskipun sebenarnya hal ini tidak terlalu menjadi kendala bagi pembaca, karena tulisan popular itu tetap mudah dipahami dengan menggunakan bahasa opini yang tidak harus ketat kaidah ilmiah dan selalu diperkuat contoh empiris yang terkini.

Bahkan pembaca akhirnya dapat merepresentasikan setiap kasus komunikasi politik yang terjadi pada masa lampau, untuk kemudian menilai kasus terkini yang juga serupa dan atau masih berkaitan dengan kasus masa lalu. Dengan begitu masyarakat dan pemerintah memiliki konstruksi pemahaman terhadap kasus-kasus politik sebelumnya, dan mengantisipasi untuk tidak terjebak pada situasi tidak tulus yang sama.

Buku ini menampilkan garis demarkasi yang begitu kuat, antara tujuan politik secara teori yang ideal dengan implementasi kebijakan politik yang cacat karena menabrak nilai-nilai etika. Dua sisi yang bertolak belakang yaitu kondisi yang seharusnya (das sollen) dan kondisi yang sebenarnya terjadi (das sein) diulas dalam kumpulan esai dengan gaya penulisan populer, dan disertai analisis kasus komunikasi politik yang terjadi dalam rentetan waktu satu dasawarsa.

Ketika membaca buku ini, pembaca akan diarahkan untuk selalu merawat akal sehat terhadap berbagai kasus relasi elit politik yang tidak tulus. Buku ini menumbuhkan kritis pembacanya, bahwa komunikasi politik yang tidak tulus ini tidak boleh menjadi new normal atau tatanan baru. (*)

Awang Dharmawan, adalah dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya. Ia pendiri forum Madzab Djaeng di Malang, forum multicultural studies and social science. Sekarang aktif sebagai penggerak forum diskusi bulanan di UNESA yang dikenal “Merawat Akal Sehat.”  Ia juga aktif sebagai Wasekjen Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Jawa Timur. Email [email protected]

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry