Tampak Ahmad Arizal (tengah) bersama Asmawi Munilam SPd (kanan) dan Ismail Sihabuddin (kiri). (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Juli 2018 adalah 10 tahun Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) kehilangan kendali atas rumah besar politik bangsa Indonesia, wabil khusus nahdliyin dalam memperjuangkan nasib dan masa depannya melalui mekanisme sistem demokrasi di Indonesia.

Rumah besar (yang hilang) itu adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Bulan ini, seluruh jajaran Barisan Kader (Karikade) Gus Dur mengenang kembali kekejaman politik yang menimpa cucu hadratussyaikh KH Hasyim Asyari tersebut. “Kita tidak bisa melupakan ‘kekejaman politik’ itu. Pelengseran Gus Dur yang dilakukan Muhaimin Iskandar sangat  menyakitkan,  sampai Gus Dur wafat Imin tidak minta maaf,” demikian disampaikan Ketua DPW Barikade Gus Dur Jatim, Ahmad Arizal kepada duta.co Selasa (10/7/2018) dalam rangka mengenang 10 Tahun ‘Perampasan PKB’.

Masih menurut Ahmad, putusan pengadilan (Kasasi) MA tanggal 18 Juli 2008, menyatakan kepengurusan DPP PKB dikembalikan ke Hasil Muktamar Semarang, di mana Gus Dur sebagai ketua dewan syuro. Artinya MLB baik Parung maupun Ancol tidak ada yang sah. “Namun ironisnya, sejak saat itu Gus Dur justru tidak dilibatkan sama sekali oleh Imin. Ini yang aneh, dan mereka tega melakukan itu,” tambahnya.

Modus politik jahat itu, tambah Ahmad, dilakukan dengan culas. Posisi Gus Dur digantikan secara semana-mena oleh Imin dengan memasukkkan KH Aziz Mansur. Setelah itu, Kiai Aziz juga diperlakukan sama. “Politik model begini tidak boleh dibiarkan. Kami Barikade Jatim, pecinta Gus Dur tidak akan melupakan sejarah dan perlakuan Imin tersebut,” tegas Ahmad serius.

Dalam hitungan Ahmad, politik yang dilakukan tanpa agama, jelas akan buyar. “Obsesi Imin menjadi Cawapres akan kita hadang. Kami akan menolak dan menghadang Imin maju sebagai Cawapres,” tambahnya. (ma)

Sementara, Ketua Umum DPP BARIKADE GUS DUR, H. Priyo Sambadha juga menulis catatan yang sama.  Catatan bertajuk ‘Kami Menolak Lupa’ itu, beredar melalui media sosial. Berikut isinya secara lengkap:

KAMI MENOLAK LUPA

Penulis: H. Priyo Sambadha

Bulan Juli 2018 ini tepat 10 tahun sudah KH Abdurrahman Wahid kehilangan kendali atas rumah besar politik bangsa Indonesia, wabil khusus warga Nahdliyin dalam memperjuangkan nasib dan masa depannya melalui mekanisme sistem demokrasi di Indonesia.

Rumah besar itu disebut Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Hunian nyaman dan tenteram yang dengan susah payah telah dibangun oleh Gus Dur bersama beberapa Ulama besar NU lainnya itu dengan paksa direnggut dari pelukannya.

Persoalan ini diawali ketika sekitar setahun sebelumnya Gus Dur selaku Ketua Dewan Syura menilai Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum Dewan Tanfidz telah melakukan beberapa penyimpangan fatal sehingga dipandang tidak layak lagi menduduki jabatannya dan perlu segera untuk dinonaktifkan. Gus Dur menginginkan PKB perlu dipimpin oleh nahkoda yang tidak hanya militant namun harus lurus dan jujur.

Gus Dur beranggapan bahwa Muhaimin yang atas restunya juga menduduki jabatan Ketua Umum Tannfidz DPP PKB tidak layak lagi mengemban tanggung jawab berat namun mulia tersebut.

Muhaimin menolak keputusan Gus Dur tersebut. Perlawanan murid kepada gurunya inipun dimulai dan berlanjut hingga terselenggaranya dua Muktamar Luar Biasa (MLB).

MLB di Parung Bogor yang diselenggarkan oleh Gus Dur dan para pengikut setianya serta MLB di Ancol yang digelar oleh Muhaimin dan kroni-kroninya.

Setelah melalui proses pengadilan yang panjang dan melelahkan, putusan Kasasi MA tanggal 18 Juli 2008 menyatakan bahwa kepengurusan DPP PKB dikembalikan ke hasil Muktamar Semarang 2005 dengan Ketua Dewan Syura KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Ketua Umum Dewan Tanfidz Muhaimin Iskandar. Artinya, keputusan hukum mengatakan bahwa kedua MLB, baik Parung maupun Ancol tidak ada satupun yang sah.

Meski keputusan Mahkamah Agung ini dinilai para ahli hukum janggal, namun Gus Dur tetap menghormati putusan ini dan berniat mematuhinya.

Namun pada perjalanannya, sejak saat itu Gus Dur tidak lagi dilibatkan sama sekali dalam menjalankan roda partai oleh Muhaimin dan kelompoknya. Keberadaan Gus Dur selaku Ketua Dewan Syura tidak digubris.

Tidak cukup sampai di situ, tak lama kemudian secara semena-mena jabatan Gus Dur selaku Ketua Dewan Syuro digantikan oleh KH Abdul Azis Mansyur dari Ponpes Pacul Gowang, Jombang, Jawa Timur.

Dan yang lebih menyedihkan lagi, manuver kurang terpuji Muhaimin ini didukung oleh rezim yang sedang berkuasa saat itu. Hal ini ditandai dengan terbitnya surat dari Kementerian Hukum dan HAM tentang pengakuan struktur baru kepengurusan DPP PKB versi sepihak dari Muhaimin dan kawan-kawan. Struktur baru tanpa ada nama KH Abdurrahman Wahid yang tentunya disusun tidak sesuai dengan AD/ART partai.

Saat itulah secara de facto dan de jure Gus Dur benar-benar telah kehilangan kendali atas Partai Kebangkitan Bangsa yang sangat dicintainya.

Dalam proses panjang koflik itu, setiap ada keputusan formal pemerintah yang menguntungkan mereka, selalu disambut dengan suka cita oleh kelompok Muhaimin.

Secara demontratif diliput luas oleh media, mereka sujud syukur, pesta syukuran dan bahkan ramai-ramai cukur gundul untuk menunjukkan kegembiraan.

Saat itu yang terlintas di benak saya antara lain, Andai saja mata mereka menyaksikan langsung reaksi Gus Dur ketika mengetahui dirinya dipaksa hengkang dari rumahnya sendiri oleh anak-anak didiknya yang selama ini telah dirawat dan dibesarkan dengan tulus ikhlas dan kasih sayang.

Andai saja mereka mau bersikap sedikit rendah hati, membuka mata hati serta menafikan sejenak saja hasutan maut beberapa gelintir elit muda PKB saat itu.

Andai saja mereka sejenak saja bisa tidak silau dengan fatamorgana kilau harta dan kuasa.

Bagian sejarah di penggal ini terus terang agak sulit bagi saya untuk memahaminya. Karena bagaimanapun juga sebagian besar dari mereka adalah tokoh-tokoh cerdas muda NU yang pasti terdidik baik dengan sikap tawadlu terhadap guru dan Kiainya. Sami’na wa atho’na. Jauh dari sikap suul adab.

Namun pada kenyataannya, mereka tidak hanya lupa daratan namun juga mabuk kepayang sehingga meneruskan pesta pora dengan hasil jarahannya hingga detik ini.

Namun itu belum seberapa, kawan.

Hal yang lebih menyedihkan lagi, selama ini mereka tidak mau mengakui bahwa benar adanya terjadi konflik antara Gus Dur dan Muhaimin Iskandar. Konflik anatara Gus Dur dan Muhaimin itu fakta, bukan isapan jempol belaka. Putri sulung Gus Dur, Mba Alissa Wahid telah menuliskan kesaksiannya tentang hal ini di dalam blog pribadinya.

Mereka juga berupaya menghapus realita gelap bahwa mereka telah menyingkirkan Gus Dur dari PKB. Demi untuk meraup suara, mereka bersikap seolah-olah masih menghormati dan menghargai Gus Dur dan keluarganya. Mereka sengaja memberikan kesan kepada masyarakat bahwa spirit Gus Dur masih bersama PKB Muhaimin.

Terhadap masyarakat utamanya konstituen yang nota bene warga Nahdliyin, mereka menutup rapat dan merekayasa sejarah kelam mereka ini.

Dalam setiap sosialisasi atau kampanye PKB mereka selalu memasang foto Gus Dur seolah Gus Dur masih mereka muliakan dan taati.

Beberepa waktu yang lalu, kelakuan kurang jujur dan tidak kstaria ini sampai memancing reaksi keluarga inti Gus Dur yang merasa tidak nyaman dengan mengirimkan somasi untuk melarang pemakaian foto Gus Dur untuk keperluan PKB Muhaimin.

Memang kemudian somasi itu sedikit menyurutkan strategi manipulatif mereka ini. Namun hanya sedikit saja. Sikap mereka yang manipulatif, tidak ksatria dan menyesatkan masyarakat inilah yang makin membuat hati keluarga, santri, murid dan kader setia Gus Dur semakin perih.

Kami sungguh tidak bisa menerima Guru dan Kiai yang sangat kami muliakan dan taati diperlakukan demikian.

Mereka juga tidak perduli dengan kenyataan bahwa sejak saat Gus Dur disingkirkan hingga akhir hayatnya, Gus Dur berduka hati.

Namun dalam kesedihannya, Gus Dur tanpa lelah tetap berupaya keras mengembalikan PKB kepada rel yang benar yaitu sebagai rumah besar politik dalam memperjuangkan kemaslahatan dan kesejahteraan bangsa khususnya warga Nahdliyin.

Bukan PKB sebagai sekadar alat untuk mencapai kekuasaan dan kemuliaan duniawi para elitnya.

Di ujung hari-harinya, dalam kondisi kesehatan yang semakin hari semakin menurun, Gus Dur tidak pernah sesaatpun tidak memikirkan masa depan PKB.

Kami para pengawal dan penderek yang sehari-hari mendampingi beliau di Rumah Sakit, seringkali sedih dan galau setiap kali Gus Dur mengajak bicara atau menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan PKB. Karena Tim Dokter sudah melarang keras kita semua untuk membicarakan masalah politik atau partai dengan Gus Dur, khususnya masalah PKB.

Karena setiap kali Gus Dur berbicara tentang PKB, kondisi fisik beliau yang saat itu memang sudah cukup lemah itu, langsung menurun drastis. Ada kalanya di Rumah Sakit, pada tengah malam pekat, dalam tidur lelapnya tiba-tiba beliau terbangun dan langsung bertanya hal yang berkaitan dengan PKB.

……………..

……………..

(Maaf.. Break sebentar. Ambil nafas panjang….)

Hingga syahdan pada suatu hari di penghujung tahun, kegelisahan panjang Gus Dur itu akhirnya mencapai ujungnya. Kesedihan hati Gus Dur berakhir ketika atas nama Cinta dan Kasih-Nya, Allah SWT, Sang Maha Penguasa atas Langit dan Bumi memutuskan untuk memanggil KH Abdurrahman ad-Dakhil Wahid ke Rumah Agung-Nya .

Pada tanggal 30 Desember 2009, Gus Dur berpulang dengan sejumput senyum di bibirnya.

Tak ada sedikitpun jejak duka yang bisa terbaca di wajahnya.

Namun seketika, hati umat Nusantara terasa lumat luluh lantak, hingga kita semua meraung sejadinya.

‘Aku tidak pergi. Aku hanya pulang’ – Gus Dur (1940-2009)

Tulisan ini saya susun bukan maksud hati untuk mengungkit luka lama atau bahkan mendendam. Insya Allah, sama sekali tidak.

Saya beserta kawan-kawan; jutaan santri, murid dan kader Gus Dur yang masih setia di seluruh pelosok Nusantara, hanya menolak lupa.

Kami memang menolak keras untuk lupa agar sejarah kelam politik warga Nahdliyin ini tetap tercatat dan menjadi pelajaran kita ke depan sehingga tidak akan pernah terulang kembali.

Utamanya pelajaran bagi kita semua dalam berbangsa, berdemokrasi dan berpolitik dengan cara yang jujur, fair, ksatria dan bermartabat, seperti yang telah diteladankan oleh Almaghfur KH Abdurrahman Wahid.

Hanya itu saja. Tidak lebih, tidak kurang.

Wallahu a’lam bi shawab.

Ciganjur Jakarta, 9 Juli 2018

Salam Kesetiaan,

H Priyo Sambadha

Ketua Umum DPP BARIKADE GUS DUR

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.