(Catatan Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa; Kitab Maraaqi Al ‘Ubudiyah karya Syeikh Nawawi al-Bantani; Selasa, 10 Februari 2026.)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

FAJAR baru saja menyibakkan selendang malam. Udara masih menyimpan dingin yang lembut, sementara lantunan dzikir pelan mengalun dari ruang pengajian yang separuh dipenuhi jamaah tatap muka, separuh lagi terhubung melalui layar-layar kecil di ruang virtual. Dalam suasana ba’da Subuh yang hening namun hidup, Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, membuka pengajian Ngaji Qalbu dengan wajah teduh dan suara yang mengalir seperti air pegunungan.

Beliau mengajak para jamaah menyusuri kembali hakikat puasa, bukan sekadar sebagai ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai seni menjahit waktu dengan kesadaran Ilahi. Rujukan beliau berpijak pada Maraaqi Al ‘Ubudiyah karya Syeikh Nawawi al-Bantani, sebuah tangga spiritual yang mengantar hamba mendaki maqam penghambaan.

Sayyidul Ayyam dan Puasa yang Menghapus Jejak Dosa

Sang Guru memulai dengan menyebut hari Arafah sebagai sayyidul ayyam, pemimpin hari-hari agung. Bagi mereka yang tidak sedang menunaikan wukuf di Padang Arafah, puasa pada hari itu menjadi permata amal yang memantulkan cahaya pengampunan.

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

Namun, bagi jamaah haji yang sedang berdiri di hamparan Arafah, justru dianjurkan untuk tidak berpuasa. Sebab hari itu adalah hari menegakkan tubuh dan jiwa dalam dzikir, doa, dan tangis kerinduan kepada Allah. Di situlah, manusia dipanggil kembali kepada fitrahnya, seperti bayi yang baru lahir dari rahim keampunan.

Muharram dan Syura: Memori Kosmik Sejarah Para Nabi

Pembahasan kemudian beralih pada bulan Muharram, bulan yang disematkan Rasulullah sebagai syahrullah, bulan Allah. Di dalamnya terdapat hari Asyura, hari yang menampung begitu banyak peristiwa kosmik sejarah para nabi.

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim)

Puasa Asyura diyakini menjadi kafarat dosa setahun sebelumnya. Ia bukan sekadar momentum sejarah keselamatan Nabi Musa, tetapi juga simbol keselamatan ruh manusia dari tenggelam dalam lautan hawa nafsu.

Sepuluh Hari Awal Dzulhijjah: Ladang Amal yang Tak Tertandingi

Sang Guru lalu menatap jamaah dengan nada lebih dalam, seolah mengajak semua hadir secara batin. Beliau mengutip sabda Nabi SAW: “Tidak ada amal saleh yang lebih dicintai Allah daripada amal yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” (HR. Bukhari)

Para ulama menjelaskan bahwa berpuasa pada hari-hari tersebut memiliki nilai yang luar biasa, seakan-akan menanam benih amal sepanjang satu tahun. Malam-malamnya pun digambarkan seperti malam Lailatul Qadar, malam yang membuka pintu langit bagi doa-doa yang lama mengetuk.

Rajab dan Sya’ban: Jembatan Menuju Ramadhan

Rajab dan Sya’ban adalah dua bulan yang sering dilalui manusia tanpa kesadaran mendalam, padahal keduanya merupakan jembatan ruhani menuju Ramadhan. Dalam tradisi para salaf, Rajab menjadi bulan membersihkan hati, sementara Sya’ban adalah bulan memperbanyak puasa dan amalan sebagai latihan menyambut tamu agung bernama Ramadhan.

Namun, Sang Guru mengingatkan dengan bijak bahwa sebagian sahabat dahulu menolak mengkhususkan Rajab seakan-akan menjadi wajib. Islam mengajarkan keseimbangan: memuliakan tanpa berlebihan.

Tentang Sya’ban, Rasulullah SAW dikenal memperbanyak puasa. Meski demikian, terdapat riwayat yang mengingatkan agar tidak memulai puasa sunnah setelah pertengahan Sya’ban tanpa sebab, sebagai bentuk kehati-hatian agar tubuh dan jiwa siap menyambut Ramadhan.

Puasa-Puasa Sunnah: Ritme Spiritual Bulanan dan Mingguan

Sang Guru kemudian mengajak jamaah memahami bahwa Allah menyediakan ritme spiritual dalam kalender kehidupan.

Puasa tiga hari setiap bulan, terutama pada tanggal 13, 14, dan 15 (Ayyamul Bidh) adalah cara Rasulullah menjaga keseimbangan ruhani. Beliau bersabda: “Puasa tiga hari setiap bulan seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian pula puasa Senin dan Kamis. Pada hari-hari itu, amal manusia diangkat ke hadapan Allah. Rasulullah bersabda: “Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, dan aku ingin amalku diperlihatkan ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Namun beliau juga mengingatkan agar tidak mengkhususkan puasa hanya pada hari Jumat, sebab Jumat adalah hari raya mingguan umat Islam, hari penuh kebahagiaan spiritual bagi para ahli dzikir.

Puasa Syawal: Menjahit Kesempurnaan Ramadhan

Selepas Ramadhan, enam hari puasa di bulan Syawal menjadi penutup sekaligus penyempurna. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

Para ulama membolehkan menyatukan niat qadha Ramadhan dalam rangkaian puasa Syawal, sebagai bentuk kelapangan syariat yang penuh kasih.

Dari Syariat ke Hakikat: Puasa yang Menghidupkan Jiwa

Di penghujung pengajian, suara Sang Guru melembut, seolah berbicara langsung kepada ruang batin setiap jamaah.

Beliau mengingatkan sabda Rasulullah SAW: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya selain lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad)

Puasa sejati bukan hanya menahan perut, tetapi menahan mata dari pandangan dosa, menahan lidah dari kata yang melukai, dan menahan hati dari kesombongan. Inilah puasa tarekat dan hakikat, puasa yang menjadikan manusia ringan di bumi namun berat timbangannya di langit.

Allah sendiri berfirman dalam hadits qudsi: “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat ini adalah misteri cinta. Seakan Allah berkata: puasa adalah rahasia antara Aku dan hamba-Ku, dan balasannya bukan sekadar pahala, tetapi kedekatan.

Pengajian pagi itu berakhir tanpa terasa. Matahari mulai meneteskan cahaya keemasan di sela jendela masjid dan layar-layar digital. Jamaah pulang membawa lebih dari sekadar catatan; mereka membawa peta perjalanan ruhani.

Puasa bukan sekadar ibadah musiman. Ia adalah jalan pulang. Jalan yang mengajari manusia bagaimana menata lapar menjadi cahaya, menata dahaga menjadi doa, dan menata waktu menjadi perjumpaan dengan Allah.

#NgajiQalbu

#AliMasykurMusa

#MaraaqiAlUbudiyah

#PuasaSebagaiJalanCinta

#JejakSyeikhNawawiBantani

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry