DR Ema Marhumah adalah alumni pesantren Walisongo Cukir tahun 1970-an. Kini, staf pengajar di UIN Suka Yogyakarta.

“….perlu diingatkan kembali kepada para alumni Tebuireng, sudahkah perilakunya paralel dengan spirit Tebuireng? Sebutlah misalnya, spirit cancut taliwondo dan transformatif yang didemontrasikan oleh hadratusy syekh Hasyim Asy’ari.”

Oleh: DR Ema Marhumah*

MENARIK, membaca tulisan kolega saya Cholidy Ibhar yang termuat dalam bukunya “Khodimun Nabi” dengan tajuk “Tebuirengisme”. Yang menyimpulkan Tebuireng sebagai cara pandang, spirit dan sikap.

Kali ini, saya ingin fokus pada elaborasi soal spirit Tebuireng. Karena menurut saya, ihwal semangat ini perlu kembali diperbincangkan, lebih lebih bersamaan dengan jelang Munas V Ikapete (Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng) di Pesantren Tebuireng pada tanggal 22 Juli 2017.

Melalui Munas perlu diingatkan kembali kepada para alumni Tebuireng, sudahkah perilakunya paralel dengan spirit Tebuireng. Sebutlah misalnya, spirit cancut taliwondo dan transformatif yang didemontrasikan oleh hadratusy syekh Hasyim Asy’ari.

Kiai Hasyim secara transparan dan ini ditulis dengan tinta emas oleh sejarah. Bagaimana rois akbar NU memberi teladan yang sempurna soal sikap bersungguh-sungguh, kerja keras, ketelatenan, ketangguhan mental dan integritas.

Mengapa Kiai Hasyim tidak memilih secara instan,  tinggal “duduk manis” dan menerima saja estafeta meneruskan pesantren kakeknya di Keras. Namun bersusah payah,  memulai dari nol dan berjibaku bertaruh nyawa mendirikan pesantren sendiri.

Sebagaimana tertulis dalam sejarah, semula Tebuireng merupakan pusat tempat hiruk pikuknya praktek tidak bermoral. Ajang “molimo” yang kondang di seantero Jombang dan sekiranya. Tentu saja, bukan kebetulan justru “lingkungan hitam” seperti Tebuireng itu dipilih dan berada tidak jauh dari Pabrik Gula Tjoekir.

By design memang, tempat mangkalnya mereka yang berlaku a moral berada berhadapan dengan PG Tjoekir milik Belanda. Belanda sadar betul, tak boleh orang pribumi memiliki investasi, shaving dan menjadi kelas menengah yang kuat. Itulah sebabnya, gaji dari pabrik didesign agar dihambur hamburkan di arena perjudian, minum minuman keras dan bermain dengan wanita malam.

Tentu saja, strategi licik Belanda berhasil. Kocek kalangan pribumi tak pernah tebal dan selalu ludes di meja judi, mabuk dan menghibur diri dengan “kupu kupu malam”.

Kondisi itulah yang dibaca oleh kiai Hasyim dan sekaligus menjadi tantanngannya. Secara perlahan namun pasti, Tebuireng mendapat sentuhan sang kiai. Tentunya, diwarnai oleh penolakan keras dan bahkan ancaman yang luar biasa.

Namun dengan balutan niat yang kuat, kesungguhan, kerja keras, ketelatenan, kesabaran dan integritas yang tangguh berujung keberhasilan.Tebuireng yang semula potret hitam berubah menjadi pesantren : pusat tafaqquh fiddin. Tempat menimba ilmu agama yang kesohor di seluruh nusantara.

Apa yang bisa ditangkap dari narasi historis ini : Tebuireng itu menyimpan dan menyembulkan mental yang berbalut semangat yang luar biasa. Dan, justru spirit inilah yang mesti “diuri uri” oleh alumni Tebuireng dalam pelbagai pilihan kiprahnya.

Tidak terkecuali, jiwa semangat itu yang harus dikenakan sebagai baju Ikapete. Termasuk dalam menggerakkan institusi Ikapete. Bahkan, alumni pesantren yang kini dinilai berkembang tak luput dari spirit yang membara untuk mengembang diri.

Sekiranya semangat Tebuirengisme itu menghunjam dalam diri pemangku Ikapete,  agaknya bolehlah kita berharap banyak kepada wajah Ikapete yang cerah di masa mendatang. Jika sebaliknya, rasanya sia sialah kita berekspektasi terlalu jauh.

*DR Ema Marhumah adalah alumni pesantren Walisongo Cukir tahun 1970-an. Kini, staf pengajar di UIN Suka Yogyakarta.

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan