
(Merenungkan Kembali Jalan Musyawarah dan Kriteria Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Menjelang Muktamar 2026)
Oleh: *Abdur Rahman El Syarif *)*
MENJELANG Muktamar Nahdlatul Ulama 2026, percakapan tentang kepemimpinan semakin terasa sebagai percakapan tentang arah peradaban. Nama-nama mulai dibicarakan, dukungan mulai bergerak, dan berbagai simpul organisasi mulai membaca kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Namun di tengah dinamika itu, ada satu hal yang tampaknya perlu kembali ditegaskan: NU sejak awal bukan sekadar organisasi sosial-keagamaan biasa. Ia adalah jam’iyyah ulama yang dibangun dengan ruh keikhlasan, adab, dan hikmah para kekasih Allah.
Karena itu, pembicaraan tentang kepemimpinan NU tidak cukup berhenti pada ukuran administratif atau kemampuan teknokratis semata. NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas mengelola organisasi, tetapi juga memiliki kedalaman ruhani, kejernihan hati, dan kedekatan dengan Allah SWT. Dalam tradisi pesantren dan tarekat, kualitas seperti inilah yang sering disebut sebagai ciri orang-orang saleh, para wali, atau setidaknya mereka yang berjalan di jalan kewalian.
Allah SWT berfirman:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62–63)
Ayat ini memberi isyarat bahwa ukuran utama kedekatan seseorang di sisi Allah bukanlah popularitas atau kekuasaan, melainkan iman dan ketakwaan. Dalam konteks NU, kepemimpinan ideal semestinya tumbuh dari pribadi-pribadi yang hidupnya dipenuhi khidmah, adab, dan istiqamah dalam menjaga hubungan dengan Allah serta melayani umat.
Di kalangan pesantren, kualitas seperti ini sering kali ditemukan pada para kiai yang menempuh jalan tarekat secara sungguh-sungguh. Bukan sekadar menjadikan tarekat sebagai simbol budaya, tetapi benar-benar menjalaninya sebagai disiplin ruhani. Sebab tarekat pada hakikatnya adalah latihan membersihkan diri dari ambisi, kesombongan, dan cinta berlebihan kepada kedudukan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar zarrah.” (HR. Muslim)
Karena itu, para ulama salaf selalu memandang jabatan dengan rasa takut, bukan dengan kegembiraan. Amanah dipandang sebagai beban pertanggungjawaban di hadapan Allah, bukan ruang memperluas pengaruh pribadi. Tidak mengherankan bila pada masa awal NU, banyak kiai justru harus dipaksa menerima amanah karena ketawadhu’an mereka.
Tradisi inilah yang tampaknya mulai dirindukan kembali oleh banyak warga nahdliyyin. Di tengah suasana organisasi yang semakin dipenuhi nuansa kompetisi modern, muncul harapan agar NU kembali dipimpin oleh figur-figur yang memiliki kejernihan ruhani dan keteduhan batin. Sosok yang tidak mengejar jabatan, tetapi dipanggil oleh kebutuhan jam’iyyah.
Dalam banyak percakapan di lingkungan pesantren, mulai muncul pandangan bahwa NU semestinya dipimpin oleh pribadi-pribadi yang dekat dengan dunia kewalian: para pengamal tarekat, para mursyid, atau setidaknya mereka yang tumbuh dalam tradisi suluk dan mujahadah. Sebab orang yang terbiasa mendidik dirinya secara ruhani biasanya lebih mampu menahan ambisi, lebih tenang menghadapi konflik, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin pernah mengingatkan bahwa kerusakan kepemimpinan sering kali bermula dari cinta dunia dan cinta kedudukan. Sebaliknya, kepemimpinan yang lahir dari hati yang bersih akan lebih mudah menghadirkan keadilan dan ketenteraman.
Karena itu, Muktamar NU mendatang seharusnya tidak hanya menjadi arena memilih figur yang paling populer atau paling kuat secara politik organisasi. Yang jauh lebih penting adalah menemukan sosok yang paling layak secara moral dan ruhani. Figur yang ketika memimpin tidak membawa hawa panas persaingan, tetapi menghadirkan ketenangan dan persatuan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga mengingatkan pentingnya musyawarah:
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
Ayat ini menjadi sangat relevan bagi NU hari ini. Sebab musyawarah bukan sekadar prosedur organisasi, melainkan jalan menjaga persaudaraan dan adab. Voting mungkin menghasilkan pemenang, tetapi musyawarah melahirkan penerimaan bersama. Voting sering melahirkan blok dan residu konflik, sedangkan musyawarah menjaga keutuhan hati warga.
Karena itu, sebagian kalangan mulai berharap agar NU mengurangi pola kompetisi terbuka yang terlalu keras dan kembali memperkuat budaya musyawarah mufakat. Sebab NU adalah organisasi ulama, bukan arena pertarungan ambisi. Jika sejak awal ruh organisasi ini dibangun oleh para wali dan orang-orang saleh, maka sangat wajar bila kepemimpinannya pun idealnya lahir melalui jalan yang penuh hikmah.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini memberi pelajaran penting bahwa kepemimpinan terbaik lahir dari hubungan batin antara pemimpin dan umatnya, bukan sekadar kemenangan prosedural. Pemimpin yang dicintai biasanya bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling tulus pengabdiannya.
Mungkin inilah momentum bagi NU untuk kembali mengingat ruh awalnya. Bahwa organisasi ini dibangun oleh orang-orang yang memandang khidmah lebih mulia daripada popularitas. Bahwa para muassis NU mendirikan jam’iyyah ini bukan untuk membangun kekuasaan pribadi, tetapi untuk menjaga agama, pesantren, dan umat.
Karena itu, menjelang Muktamar 2026, yang perlu direnungkan bukan hanya siapa yang akan memimpin, tetapi nilai apa yang hendak dijaga melalui kepemimpinan itu. Apakah NU akan semakin larut dalam budaya kompetisi modern yang keras, atau kembali meneguhkan dirinya sebagai rumah hikmah para ulama dan kekasih Allah?
Jika NU mampu menjaga jalan musyawarah dan menghadirkan kepemimpinan yang lahir dari kejernihan ruhani, maka Muktamar mendatang tidak hanya akan melahirkan pengurus baru. Ia akan menjadi penanda bahwa Nahdlatul Ulama masih setia pada akar terdalamnya: jalan ilmu, adab, dan hikmah para wali. Wallahu A’lamu Bi Ash-Shawab.




































