Kawal Ritme Perusahaan Eksisting dan Promosi Jadi Kunci

SURABAYA | duta.co — Masuknya pandemi Virus Corona atau Covid-19 ke Indonesia telah menyerang hampir semua sektor kehidupan. Khusus perekonomian, seakan menerima pukulan telak. Perekonomian melemah bahkan Indonesia diumumkan mengalami resesi ekonomi.

Bagaimana dengan Jawa Timur? Menariknya, kinerja realisasi investasi Jawa Timur semester I (Januari Juni) 2020 mencatatkan pertumbuhan 59,2 persen (YoY) dibandingkan periode sama tahun lalu.

Apa yang membuat investasi di Jawa Timur meningkat? “Menghitung investasi tidak memulu dari masuknya investor baru. Namun, investasi eksisting juga harus dihitung sesuai perhitungan BKPM(Badan Koordinasi Penanaman Modal),” kata Kepala Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Timur, Aris Mukiyono.

Karena itu, selain mengejar investasi baru Pemprov Jatim tetap menjaga keberlangsungan investasi yang sudah ada. Hal ini tetap bisa menumbuhkan investasi di dalam negeri. Di masa pandemi tidak semua sektor perusahaan mengalami kelesuan. Ada beberapa yang tidak terpengaruh.

“Di saat beberapa perusahan tertentu mengalami lesu, ada beberapa perusahaan yang tidak terpengaruh bahkan mengalami peningkatan. Sehingga ada tambahan kapital di tengah masa pandemi Covid-19,” kata Aris.

Perusahaan eksisting yang masih berjalan di tengan pandemi di antaranya bidang kesahatan, pergudangan. Artinya walaupun masa pandemi, realisasi investasi Jawa Timur tetap tumbuh.

“Investasi ini adalah penanaman modal yang eksisting penambahan modal, misalnya perusahaan yang tahun ini bulan Januari Rp 10 Miliar, Februari nambah kapitanya menjadi Rp 15 miliar, dan Maret menjadi Rp 20 miliar, ini namanya peningkatan investasi. Jadi bicaranya jangan pabrik atau perusahaan baru,” terangnya.

Karenanya butuh langkah untuk menjaga perusahaan yang masih eksis di tengah pandemi. Di antaranya, menjaga ritme perusahaan yang eksisting. DPMPTSP Jatim membuka pintu kepada semua perusahan untuk konsultasi jika menemui masalah.

“Supaya jika ada masalah kita bisa memberi bantuan. Jika mau import bahan baku kita fasailitasi misalnya fasilitas perpajakan, kita gandeng bea cukai, kita kumpulkan perusahaan. Intinya menjaga perusahan jangan sampai mati atau tidak berproduksi,” tegasnya.

Selain menjaga, Pemprov Jatim juga berusaha membesarkan perusahaan dengan membantu promosi investasi. Supaya para investor melirik perusahaan-perusahaan di Jawa Timur.

“Promosi ini beda dengan jualan barang karena butuh trush/kepercayaan. Maka DPMPTSP Jatim menggandeng perusahaan yang ingin memperbesar captive marketnya, Ingin besar tetapi tak punya modal promosi, kita bantu jualan kita carikan partner. Kita bisnis matchingkan,” paparnya.

Pada 16 September, DPMPTSP Jatim mengusulkan 15 perusahaan yang diajukan untuk Kerjasama dengan Australia tepatnya di Sidney. Akhirnya, terdapat 6 perusahaan yang lolos seleksi sesuai kriteria yang dibutuhkan.

“Kita yang mengirimkan profil perusahaan yang dibutuhkan.Kemudian melakukan virtual meeting untuk menentukan mana yang diminati perusahaan di Sidney,” ujarnya.

Meski di tengah pandemi Covid-19 promosi investasi dilakukan intensif. Namun berbeda dengan kondisi norma, kali ini promosi lebih banyak memanfaatkan teknologi informasi dengan virtual meeting. Kalaupun, mendesak untuk melakukan pertemuan tatapmuka, akan dilakukan sesuai protokol kesahatan yang ketat.

”Dengan teknologi informasi biaya minim dan efektif dan efisien. Tak perlu sering-sering keluar negeri,” kelakar Aris.

Investasi meningkat 59,2 Persen

Berdasarkan data resmi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total investasi semester I sebesar Rp 51 triliun. Satu tingkat di bawah Jawa Barat yang mencatatkan angka realisasi total Rp 57,9 triliun.

Untuk Penanaman Modal Asing (PMA) mencatatkan sebesar Rp 12,5 triliun, dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp 38,4 triliun.

Realisasi PMDN Jawa Timur disokong dua sektor utama, yakni transportasi, gudang dan telekomunikasi yang menyumbang Rp 18,72 triliun, serta sektor perumahan, kawasan Industri dan Perkantoran dengan kontribusi Rp 3,69 triliun.

Sementara realisasi PMA terutama didukung oleh sektor industri kimia dan farmasi dengan capaian Rp 4,26 triliun, serta sektor industri makanan sebesar Rp 2,4 triliun.

Kondisi ini disambut baik Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. “Alhamdulillah ini menjadi berita baik bagi perekonomian Indonesia. Jatim masih menjadi salah satu primadona investasi bagi para investor dalam negeri maupun investor asing,” ujar Khofifah.

Singapura menjadi Negara dengan kontribusi investasi tertinggi dengan realisasi sebesar Rp 4,03 triliun. Disusul Jepang yang menyumbang Rp 3 triliun.

“Jatim fokus pada upaya penciptaan iklim usaha yang kondusif dan kemudahan akses dalam perizinan usaha. Kami ingin investor tertarik untuk menanamkan modalnya di Jatim sehingga membawa manfaat bagi perekonomian masyarakat,” bebernya.

Untuk kabupaten/kota, Kabupaten Pasuruan paling besar dengan realisasi investasi PMDN dengan nilai realisasi sebesar Rp 2,6 triliun. Diikuti Kabupaten Mojokerto Rp 1,6 triliun, Jombang Rp 1,6 triliun, Gresik Rp 1,5 triliun dan Tuban Rp 1,3 triliun.

Sedangkan pada kategori PMA, posisi tertinggi diraih oleh Kota Surabaya dengan capaian realisasi Rp 11,5 triliun. Lalu ada Gresik Rp11,2 triliun, Sidoarjo Rp 4,2 triliun, Kabupaten Pasuruan Rp 3,3 triliun, dan Kabupaten Probolinggo Rp 3,3 triliun.

“Kami optimistis pada semester ke II tahun 2020, Jatim bisa membukukan nilai investasi lebih besar lagi,”mantan Menteri Sosial RI ini. (zal)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry