
Tanggapan atas Catatan Pinggir Dr. KH. Romadhon Sukardi
Oleh: Abdur Rahman El Syarif
DI tengah hiruk-pikuk wacana politik keumatan yang kerap gaduh, reaktif, dan sarat glorifikasi figur, Catatan Pinggir Dr. KH. Romadhon Sukardi justru hadir dengan satu sikap yang semakin langka: ketenangan berpikir. Ia tidak meledak-ledak, tidak tergesa menyimpulkan, dan tidak pula terjebak pada polarisasi. Sebaliknya, ia bekerja perlahan namun jernih, sebagai cermin yang memantulkan wajah Nahdlatul Ulama apa adanya di persimpangan sejarah, lalu mengajak kita bertanya dengan jujur dan dewasa: hendak ke mana jam’iyyah ini diarahkan?
Kegelisahan yang dibangun dalam catatan tersebut bukanlah kegelisahan kosong atau emosional. Ia berangkat dari kesadaran historis yang kokoh bahwa NU bukan sekadar organisasi besar, melainkan sebuah ekosistem adab, ilmu, dan kearifan sosial yang telah menyeberangi berbagai zaman dan rezim. Karena itu, persoalan kepemimpinan PBNU tidak bisa disederhanakan menjadi soal siapa paling kuat secara politik, melainkan siapa yang paling mampu menjaga keseimbangan. Keseimbangan antara kekuasaan dan kebijaksanaan, antara realisme politik dan idealisme moral, antara tuntutan zaman dan amanat para pendiri.
Di sinilah Catatan Pinggir itu menunjukkan kedewasaan berpikir yang patut diapresiasi. Ia menolak logika politik transaksional tanpa harus terperosok ke dalam romantisme anti-politik. NU tidak diposisikan sebagai menara gading yang alergi terhadap kekuasaan, tetapi juga tidak direduksi menjadi alat kekuasaan. Pesan yang ditegaskan sederhana namun fundamental, yakni bahwa NU boleh bersentuhan dengan politik, tetapi tidak boleh kehilangan daya kendali moralnya. NU harus tetap menjadi subjek etika, penentu arah nilai, bukan sekadar objek kepentingan.
Diskursus tentang kemungkinan figur politisi memimpin PBNU, yang selama ini sering dianggap tabu, diuji dalam catatan tersebut secara rasional dan etis. Bukan dengan hujatan, melainkan dengan penimbangan arah dan konsekuensi. Di titik ini, Catatan Pinggir menghadirkan kualitas forum intelektual yang sehat, yakni membuka ruang wacana, sekaligus menyiapkan pagar nilai. Ketika muncul kekhawatiran akan politik uang, bohir, dan pragmatisme kekuasaan, itu bukanlah paranoia, melainkan bentuk ‘hifzh al-marwah’, ikhtiar menjaga kehormatan ulama dan jam’iyyah agar tidak direduksi menjadi sekadar instrumen politik.
Penekanan penting lainnya, yang menjadi jantung refleksi ke depan, adalah harapan akan hadirnya figur kepemimpinan yang mengakar kuat dalam tarekat, namun berpandangan modern. Inilah kunci masa depan NU. Jam’iyyah ini tidak sedang membutuhkan pemimpin yang tercerabut dari spiritualitas, tetapi juga tidak membutuhkan pemimpin yang terjebak nostalgia.
Yang dibutuhkan adalah sosok ulama-negawaran: hatinya hidup dengan wirid dan mujahadah, namun pikirannya tajam membaca geopolitik, ekonomi global, krisis ekologis, serta tantangan dunia digital. Ia sufi dalam laku, tetapi strateg dalam pandangan, tenang dalam dzikir, cermat dalam keputusan.
Gagasan ini menemukan pijakan kuat ketika Catatan Pinggir menghidupkan kembali standar kepemimpinan klasik Islam, yakni “afqahuhum, a‘rafu bi mashalih al-‘ammah, zahidan ‘anil ma‘dan, dan nazhiran bi masail al-ummah”, sebagai tolok ukur yang justru relevan di zaman modern. Pesan implisitnya sangat jelas bahwa kemajuan tidak selalu berarti mengganti nilai lama, tetapi sering kali justru menafsirkan ulang nilai lama agar mampu menjawab tantangan baru. Analogi imam shalat yang digunakan terasa tepat dan membumi; kepemimpinan NU bukan soal siapa paling lantang suaranya, melainkan siapa paling lurus arah kiblatnya.
Tawaran formasi kepemimpinan yang mengemuka, dengan figur-figur yang berakar kuat pada pesantren, dunia tarekat, dunia akademik, dan pengalaman organisasi, tidak dimaksudkan untuk mengunci pilihan. Ia justru membuka horizon harapan.
Pesannya tegas, yakni NU tidak miskin kader, tidak kehabisan stok pemimpin, dan tidak perlu menggantungkan masa depannya pada figur yang berpotensi menyeret jam’iyyah ke pusaran konflik kepentingan. Yang dibutuhkan adalah keberanian sistemik untuk memunculkan kader-kader terbaik itu secara adil, bermartabat, dan berlandaskan nilai-nilai nasionalisme dan spiritualitas.
Pada akhirnya, Catatan Pinggir Dr. KH. Romadhon Sukardi mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati NU bukan terletak pada kedekatannya dengan kekuasaan, melainkan pada kemampuannya menjaga arah dan merawat marwah. Setia pada ilmu, teguh pada adab, bijak dalam menyikapi politik, dan istiqamah dalam bertarekat, itulah jalan sunyi yang sejak awal diwariskan oleh para muassis. Jalan yang mungkin tidak selalu gemerlap, tetapi justru di sanalah NU menemukan martabat, daya tahan, dan masa depannya.
Wallahu A’lamu Bi ash-Shawab.





































