
(Catatan Sederhana Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa; Kitab Maraqi Al ‘Ubudiyah karya Syeikh Nawawi Al Bantani; Selasa, Januari 2026)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, imam shalat bukan sekadar orang yang berdiri paling depan. Ia adalah pemegang amanah ibadah jama’ah, penuntun gerak, bacaan, dan kekhusyukan banyak hati sekaligus. Karena itu, para ulama memberi perhatian besar terhadap tatakrama dan syarat menjadi imam, sebagaimana dijelaskan dalam Maraqī al-‘Ubudiyyah karya Syeikh Nawawi al-Bantani.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa shalat berjama’ah adalah ibadah kolektif, bukan ruang ego personal:
إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَذَا الْحَاجَةِ
“Jika salah seorang di antara kalian mengimami manusia, maka ringankanlah, karena di belakangnya ada orang lemah, orang sakit, dan orang yang memiliki keperluan.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi kaidah utama: imam harus memahami kondisi jama’ahnya.
Adab Imam dalam Shalat Jama’ah
Imam yang baik adalah imam yang takbirnya penuh ketenangan dan wibawa, bukan tergesa, suaranya jelas, lantang namun lembut, Ta‘awwudz dibaca samar. Memberi jeda (saktah) antara al-Fatihah dan surat.
Ruku’ dan sujud tidak dipanjangkan, cukup tiga kali tasbih. Pada dua rakaat terakhir tidak membaca surat setelah al-Fatihah. Tidak memanjangkan doa yang memberatkan jama’ah.
Sayyidina Anas pernah berkata bahwa beliau merasa paling nyaman shalat di belakang Rasulullah ﷺ, sebuah isyarat bahwa kenyamanan jama’ah adalah bagian dari sunnah.
Makmum, Salam, dan Adab Pasca Shalat
Makmum disunnahkan membaca shalawat Nabi pada atau setelah tasyahhud awal. Salam diucapkan imam dengan sempurna dan dijawab makmum. Setelah salam, imam tidak langsung pergi, tetapi duduk sejenak, menoleh ke kanan dan kiri, lalu mengajak dzikir singkat.
Makmum tidak berdiri sebelum imam berdiri. Imam disunnahkan berpindah tempat saat shalat ba’diyah, mundur atau bergeser ke kanan/kiri, sebagai pembeda antara shalat wajib dan sunnah.
Doa Qunut dan Etika Kepemimpinan Imam
Dalam qunut, imam dianjurkan menggunakan lafaz jama’ (نَا), bukan tunggal. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَؤُمَّنَّ أَحَدُكُمْ قَوْمًا فَيَخُصَّ نَفْسَهُ بِالدُّعَاءِ دُونَهُمْ، فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ خَانَهُمْ
“Janganlah seseorang mengimami suatu kaum lalu mengkhususkan doa untuk dirinya sendiri, karena jika ia melakukannya, berarti ia telah mengkhianati mereka.” (HR. at-Tirmidzi)
Imam menjabarkan doa qunut dengan jelas. Pada bagian “وَقِنَا بِرَحْمَتِكَ”, makmum boleh melanjutkan doa secara mandiri hingga imam membaca shalawat penutup.
Enam Belas Syarat Menjadi Imam Shalat
Para ulama menyebutkan 16 syarat imam, yang menunjukkan betapa beratnya amanah ini:
1. Tamyīz (mampu membedakan baik dan buruk).
2. ‘Aqil (berakal sehat).
3. Muslim.
4. Laki-laki (untuk jama’ah laki-laki).
5. Mukallaf (terkena beban syariat).
6. Tidak sedang mengulang shalat fardhu yang sama.
7. Mampu berijtihad dalam perkara shalat (mengetahui hukum dasar).
8. Memahami tata kelola shalat (rukun, syarat, sunnah).
9. Bukan orang cadel berat yang merusak makhraj huruf.
10. Bukan orang bisu.
11. Bukan ummi (mampu membaca al-Qur’an dengan baik).
12. Orang yang patut diteladani akhlaknya.
13. Bukan ahli bid‘ah yang sesat.
14. Gerakan dan perbuatannya dapat diikuti makmum.
15. Dalam keadaan suci, bersih dari hadats dan najis.
16. Berniat menjadi imam.
Tanpa niat imamah, kepemimpinan shalat menjadi cacat secara hukum.
Penutup: Imam sebagai Doa yang Berjalan
Allah SWT mengajarkan kita untuk memohon:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan: 74)
Ayat ini bukan ajakan mengejar posisi, melainkan permohonan agar layak diteladani.
Dalam tradisi NU, imam adalah doa yang berjalan, akhlak yang tampak, dan ilmu yang diamalkan. Ia berdiri di mihrab bukan karena paling fasih, tetapi karena paling siap memikul amanah. Sebab shalat berjama’ah bukan hanya tentang sahnya gerakan, melainkan selamatnya hati jama’ah.
#NagajiQalbu
#PonpesAlMasykuriyah
#AliMasykurMusa





































