Oleh: Heri Yudianto

Guru Penulis dan Alumni Kelas Menulis Media Guru

Judul buku        : Guru Eksis, Why Not?

Penulis             : Elyas, S.Pd, M.Eng dkk

Penerbit           : IGI DIY

Cetakan            : Pertama, Desember 2016

Tebal               : 277 halaman

ISBN                : 78-602-74856-9-3

Guru akhir-akhir ini seringkali mendapat sorotan. Mulai dari kasus kekerasan dalam pendidikan hingga jeratan hukum yang menjerat oknum guru pelaku tindak korupsi. Semua itu adalah racun mematikan dalam dunia pendidikan yang tentunya membutuhkan penawar.  Penawarnya ada dalam buku ini.

Buku Guru Eksis, Why Not? ini merupakan antologi 32 guru yang tergabung dalam organisasi profesi (orprof) Ikatan Guru Indonesia. Buku ini langsung mendapat sambutan hangat di kalangan guru pencinta literasi. Kisah-kisah yang mengharukan sekaligus menginspirasi dari guru-guru dari seluruh penjuru Indonesia. Patut kiranya buku ini diapresiasi sebagai wujud nyata upaya menggerakkan literasi yang tengah lesu saat ini.

Sebagai buah karya tulisan guru-guru hebat, tidaklah mengherankan jika buku Guru Eksis, Why Not? ini dipenuhi berbagai kisah-kisah inspiratif yang menggugah semangat serta membuka pola pikir baru bagi sebagian pembacanya.

Dalam artikel Sekelumit Ceritaku dalam Bukumu oleh Yulismar (hlm. 35), misalnya, penulis menceritakan bagaimana berjuang mengajar di sekolah yang jauh dari kata layak. Meskipun berada di ibukota provinsi bukan jaminan sekolahnya layak. Selain itu penulis harus berjibaku dengan beratnya medan menuju sekolah (hlm. 41-42). Sungguh kisah mengharukan saat penulis harus menumpang truk agar bisa sampai ke sekolah. Penulis harus mampu menghadapi godaan laki-laki hidung belang yang menjahilinya. Tak jarang gangguan ini kerapkali menimbulkan tekanan batin. Jurus pamungkas penulis untuk mengatasi gangguan ini hanya mengatakan bahwa dirinya istri tentara. Biasanya dengan menceritakan hal itu, mereka mundur dengan teratur.

Ada pula kisah baginda Rasulullah dalam perang badar (hlm. 88). Menariknya kisah ini dikaitkan dengan praktik penguatan pendidikan karakter di sekolah. Rangkaian puisi juga seakan menjadi ”aksesoris wajib” dalam buku ini (hlm. 63). Kendatipun diselingi beberapa puisi, namun tidak menganggu kenikmatan membaca buku ini. Justru inilah yang menjadikan buku ini menjadi medan magnet literasi lantaran terciptanya kutub-kutub literasi di dalamnya.

Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama terdiri atas dua belas bab. Bagian selanjutnya berisi dua puluh bab. Buku Guru Eksis, Why Not?  ini menjadi salah satu solusi jitu dari segala persoalan yang menghimpit guru di Indonesia. Dikatakan sebagai solusi jitu karena kisah-kisah dalam buku ini mampu  menginspirasi pembacanya. Ada kutipan menarik yang menghiasi kata pengantar, Tidak ada lagi guru menang semalam dibandingkan peserta didik. Kutipan ini bermakna informasi yang diterima anak jauh lebih update dibandingkan gurunya (hlm 7).

Pemakaian Bahasa

Jika ditelaah lebih lanjut, buku ini menggunakan bahasa sehari-hari bahkan ada beberapa bagian terdapat istilah-istilah gaul. Tentunya buku ini mudah dicerna oleh orang awam sekalipun. Bahasanya ringan namun tetap berbobot. Secara umum, dari segi pemilihan bahasa, buku ini jelas sekali menyasar pembaca berusia muda.

Yang menarik, buku ini mengisahkan beraneka ragam kisah yang sanggup membuat pembacanya tergugah semangatnya dalam mendidik, mengajar sekaligus menulis. Guru hebat adalah guru yang bisa mengajar dan mendidik. Guru luar biasa hebat adalah guru yang bisa mengajar, mendidik sekaligus menulis. Dengan penyampaian yang lugas dan tidak bertele-tele, buku ini mudah dibaca oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras dan status ekonomi.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry