BANDARA : Agus Sutomo, Kepala Desa Bulusari Kecamatan Tarokan (Nanang .P Basuki/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Seiring dimulainya Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kabupaten Kediri yaitu bandara dikabarkan membawa berkah bagi warga setempat. Adapun lapangan udara ini berdiri di empat desa masing – masing Desa Tarokan dan Desa Bulusari Kecamatan Tarokan, Desa Grogol Kecamatan Grogol dan Desa Jatirejo Kecamatan Banyakan. Munculnya para ‘sultan – sultan’ baru memiliki kekayaan melimpah dibenarkan Agus Sutomo, Kepala Desa Bulusari saat ditemui di Posko Covid-19 pada Rabu (24/06).

Dengan luasan memakan lahan mencapai 460 hektar, tentunya membawa berkah bagi warga setempat yang mendapatkan ganti rugi dengan nilai cukup fantastis. “Untuk satu ru tanah bisa mencapai harga 10 juta. Dikalikan saja bila memiliki tanah yang cukup luas,” terangnya. Namun Agus Sutomo membenarkan bahwa di desanya masih ada 6 lokasi yang hingga saat ini belum dilepas dan masih meminta ganti rugi dengan nilai yang cukup tinggi.

“Tiada pilihan, bila kemudian menolak ganti rugi sesuai dengan aturan dikeluarkan proyek nasional, maka tidak ada pilihan dengan menerapkan aturan konsinyasi. Artinya harga tanah dinilai dengan kisaran 300 ribu hingga 500 ribu, saat ini kami masih menunggu surat keputusan tersebut diterbitkan pihak propinsi,” terang Kades Bulusari.

Menyoal sebutan orang – orang kaya (dibaca sultan, red) disandang para kepala desa, Agus Sutomo menjawab mungkin namun dirinya adalah pejabat baru kepala desa. “Saya tidak bilang iya, namun mungkin iya. Karena segala urusan jual beli ganti rugi tanah harus melalui kepala desa. Bila kepala desanya mau nakal, cukup serahkan Petok C Desa kemudian dilampirkan surat keterangan dari kepala desa. Maka sudah bisa dicairkan uang ganti rugi meski tanpa sepengetahuan pemilik tanah,” ungkapnya.

Meski enggan bercerita detail, namun sejak dirinya dilantik tahun lalu, telah menyelesaikan satu persoalan ini menyangkut oknum kepala desa. “Akhirnya uang terlanjur diterima oknum kepala desa dikembalikan lalu diserahkan kepada pemilik sah tanahnya,” terangnya. Meski demikian, Agus Sutomo menyatakan mendukung keberadaan pembangunan bandara apalagi dirinya bersama tiga kepala desa lainnya turut dilibatkan dalam pembangunan ini.

“Selain pertemuan rutin setiap Minggu, kebutuhan tenaga pada pembangunan bandara melibatkan warga setempat. Seandainya butuh 8 tenaga kerja, maka dibagi 4 desa. Masing – masing 2 orang dan digaji 90 ribu per-hari kerja selama 8 jam. Lalu untuk tambahan lembur 10 ribu untuk setiap jam-nya. Ini telah menjadi kesepakatan bersama dan semuanya tercatat,” ucapnya. (nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry