BUDAYA : Ndalem Mbah Hasyim dirawat dengan baik oleh santri Ponpes Assalafiyah. (duta.co/M Isnan)

KEDIRI | duta.co -Bila melihat kiprah Nahdlatul Ulama saat ini, diklaim merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, tentunya tidak akan asing dengan sosok Mbah Hasyim. Sapaan akrab Hadratus Syeikh KH. Mohammad Hasyim Asy’ari, merupakan sosok pahlawan nasional yang juga tokoh pendiri Organisasi NU, kiprahnya luar biasa di masa perang kemerdekaan.

LAHIR di Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada 10 April 1875, kemudian meninggal di Jombang, Jawa Timur, pada 25 Juli 1947 pada usia 72 tahun. Banyak ilmu dan pengalaman sangat manfaat, diantaranya pemikiran beliau tentang Ahlussunnah wal Jama’ah

Atas dasar inilah, menjadikan  Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Kediri berkeinginan menjadikan ndalem Mbah Hasyim, berada di Kawasan Ponpes Salafiyyah Dusun Kapurejo Desa Kapu Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri, untuk dijadikan cagar budaya.

“Kami berharap Ndalem Mbah Hasyim di Pondok Kapu dijadikan cagar budaya karena memiliki nilai sejarah yang tinggi,” jelas Abu Muslih, Ketua Lesbumi Kabupaten Kediri.

Begitu pula, saat Ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj menghadiri dan melantik PCNU Kabupaten Kediri masa khidmat 2018-2022 di halaman Ndalem Mbah Hasyim, berharap agar bangunan ini dijaga dan dirawat dengan baik.  Melihat profil singkatnya, beliau menikah sebanyak tujuh kali dan semuanya merupakan putri dari ulama.

“Sebelum diberikan kepada KH Hasyim Asy’ari, rumah tersebut milik mertuanya yang kemudian direnovasi oleh beliau. Setelah Indonesia merdeka, pada Tahun 1946, KH Hasyim Asyar’i mulai menempati rumah tersebut bersama istrinya Nyai Masruroh,” tutur Nyai Hj Mahmudah, merupakan keponakan istri Hasyim Asy’ari.

Saat ini, rumah tersebut masih tampak seperti aslinya setelah ditinggakan Mbah Hasyim. Kemudian beliau wafat, rumah tersebut diwariskan kepada putranya dan selanjutnya diwakafkan kepada Yayasan Pondok Pesantren Salafiyyah.

“Selama ini, Ndalem KH Hasyim Asy’ari tersebut dirawat oleh para santri. Sekaligus digunakan oleh para santri sebagai asrama dan sebagian lagi menjadi tempat madrasah,” jelas Nyai Hj Mahmudah.

Diterangkan KH Ahmad Najmuddin, bahwa rumah tersebut hingga saat ini masih dikelola dengan baik oleh pihak yayasan.

“Setiap hari dibersihkan dan dijaga oleh para santri di sini. Kalaupun nanti dijadikan sebagai cagar budaya, yayasan berharap untuk tetap dirawat dan dimanfaatkan dengan baik,” terang Kyai Ahmad.  (ian/nng)

 

 

Tinggalkan Balasan