Endah Prayekti – Dosen Fakultas Kesehatan (FKes)

LIMBAH selalu menjadi problematika tersendiri meskipun telah ada proses pengelolaannya. Berdasarkan data Laporan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2018, sampah Indonesia mencapai 65,2 juta ton pertahunnya pada 2016.

Timbunan sampah dan limbah berdampak buruk bagi lingkungan dan Kesehatan, oleh karena itu perlu dilakukan Langkah penangann yang tepat mengingat target Sustainable Development Goals (SDGs) adalah 12.5.

Dalam perpres No. 97 tahun 2017, pemerintah menargetkan pengurangan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga sebesar 30 persen dan penanganannya mencapai 70 persen sampai 2025. Untuk mencapai target tersebut, penanganan sampah dan limbah harus didukung sarana prasarana yang memadai. KLHK menyatakan telah terdapat 5244 Bank Sampah di Indonesia.

Sedangkan untuk pengelolaan limbah domestik, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada tahun 2015 sudah membangun 25 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpusat, 180 IPAL kawasan serta 155 Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di Indonesia.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Tanggung jawab pengelolaan sampah dan limbah dapat diperingan dengan adanya kesadaran dalam pengolahan sampah dan limbah dari tingkat rumah tangga. Beberapa sampah rumah tangga dapat dipilah sebelum dibuang.

Sampah organik semisal sisa potongan sayuran dan kulit-kulit kupasan umbi-umbian dapat dimanfaatkan menjadi hal lain yang lebih bernilai ekonomis. Pemanfaatan sampah organic di tingkat rumah tangga dapat digunakan untuk membuat pupuk. Metode yang sempat populer adalah menggunakan metode keranjang Takakura.

Sebagai seorang saintist, melihat sampah organic dapat bermakna luas. Sampah organic berupa buangan air sisa cucian beras, potongan sayur maupun kupasan kulit umbi-umbian dan buah-buahan, dapat digunakan untuk berbagai macam hal, misalnya untuk media pertumbuhan di laboratorium, untuk pewarna pakaian, hingga pengecatan bakteri.

Penggunaan limbah menjadi media pertumbuhan di laboratorium sangat menguntungkan karena harga yang relatif lebih murah dibandingkan media sintetik pada umumnya. Beberapa penelitian telah meneliti kemampuan sampah organik dalam mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Penelitian Berde tahun 2015 terkait penggunaan limbah sayuran sebagai alternatif media pertumbuhan di laboratorium dan industry menunjukkan kemampuan mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur uji.

Penggunaan limbah organik, seperti ampas tahu oleh Prayekti dan Sumarsono tahun 2019, juga dapat digunakan mendukung pertumbuhan beberapa jenis jamur, diantaranya Penicillium spp. Penelitian Nunki dkk yang dipublikasikan tahun 2020, menggunakan kulit ubi unggu untuk pewarna bakteri. Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut, tentunya limbah organic memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan agar memiliki nilai ekonomis. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry