CATATAN PERADABAN

Dr. ROMADLON SUKARDI, MM.*

ADA pemimpin yang bekerja untuk menyelesaikan tugas. Ada pula pemimpin yang bekerja untuk menciptakan perubahan. Dan ada pemimpin yang lebih jauh lagi: mengubah perubahan menjadi gerakan, gerakan menjadi ekosistem, dan ekosistem menjadi warisan peradaban.

Dalam perspektif tersebut, sosok Prof. Dr. KH. Mas’ud Said, PhD menarik untuk dibaca sebagai figur dengan corak kepemimpinan transformatif, inovatif, kreatif, progresif, adaptif, sekaligus berkelanjutan.

Jejak kepemimpinannya memperlihatkan satu karakter penting: tidak cepat merasa selesai. Ketika banyak orang menganggap pengalaman dan posisi sebagai puncak pencapaian, Mas’ud Said justru memperlihatkan semangat continuous learning—belajar, memperbarui kompetensi, membaca perubahan, dan mengubah pengetahuan menjadi energi pengabdian.

Berita tentang diraihnya brevet profesional Certified Risk Management (CRM) pada The Jakarta Risk Management Convention 2026* menjadi salah satu ilustrasi menarik. Brevet tersebut diperoleh setelah proses pelatihan dan refreshment berjenjang sejak 2019, kemudian berlanjut pada 2022, 2024, 2025 hingga 2026.

Bagi saya, ini bukan sekadar cerita tentang tambahan sertifikasi profesional. Ini adalah narasi tentang mentalitas kepemimpinan.

Bahwa seorang akademisi, aktivis, organisator, sekaligus profesional tidak boleh berhenti belajar hanya karena telah memiliki gelar, jabatan, atau pengalaman panjang.

TRANSFORMATIF: Mengubah Potensi Menjadi Gerakan

Kepemimpinan transformatif selalu dimulai dari kemampuan melihat sesuatu yang belum terlihat oleh banyak orang.

Dalam pengembangan ISNU Jawa Timur, misalnya, gagasan membangun cabang khusus di perguruan tinggi menunjukkan cara pandang yang tidak konvensional. Kampus tidak sekadar dilihat sebagai tempat pendidikan, tetapi sebagai *reservoir intelektual NU.

Guru besar, dosen, pejabat struktural, tenaga kependidikan, alumni, hingga mahasiswa adalah kekuatan yang apabila diorganisasi secara baik dapat menjadi knowledge power bagi NU dan bangsa.

Di sinilah kepemimpinan Mas’ud Said menemukan relevansinya: mengubah potensi yang tersebar menjadi energi kolektif yang terorganisasi.

INOVATIF: Membuka Ruang Baru Perjuangan
Inovasi bukan selalu menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Sering kali inovasi adalah menemukan cara baru untuk mengoptimalkan sesuatu yang sudah ada.

ISNU tidak cukup hanya menjadi organisasi sarjana NU. ISNU harus menjadi ruang aktualisasi intelektual, jejaring profesional, pusat gagasan, dan media perjuangan kaum sarjana Nahdliyin.

Langkah memperluas jejaring ke kampus-kampus besar merupakan bentuk inovasi kelembagaan. Ketika Unair, ITS, UB, UINSA, Unisma, Unuja, dan kampus lainnya menjadi ruang pengembangan ISNU, maka sesungguhnya sedang dibangun sebuah jejaring intelektual NU berbasis kampus.
Ini penting untuk masa depan.

Sebab NU masa depan membutuhkan bukan hanya kekuatan massa, tetapi juga kekuatan ilmu, teknologi, profesionalisme, riset, inovasi, dan jejaring global.

KREATIF: Menemukan Energi di Tengah Keragaman

Kreativitas seorang pemimpin dapat dilihat dari kemampuannya menemukan titik temu di antara berbagai potensi. Di kampus, ada guru besar yang memiliki otoritas keilmuan. Ada birokrat kampus yang memahami tata kelola. Ada dosen dan peneliti yang menghasilkan pengetahuan. Ada alumni yang memiliki jejaring luas. Ada mahasiswa yang membawa energi masa depan.

Pemimpin kreatif tidak membiarkan semua energi itu berjalan sendiri-sendiri.
Ia merajutnya menjadi ekosistem.

Dalam konteks inilah ISNU dapat menjadi platform of collaboration: tempat bertemunya ilmu, pengalaman, jaringan, pengabdian dan gagasan untuk menghasilkan kemanfaatan yang lebih besar.

PROGRESIF: Berani Melangkah ke Depan

Kepemimpinan progresif memiliki keberanian untuk bertanya: “Setelah ini kita mau ke mana?” Bukan hanya: “Apa yang sudah kita lakukan?” Pertanyaan pertama adalah pertanyaan peradaban. Karena organisasi yang hanya sibuk mempertahankan apa yang sudah ada akan menjadi defensif. Sementara organisasi yang terus membaca masa depan akan menjadi adaptif dan relevan.

Mas’ud Said menunjukkan kecenderungan kepemimpinan semacam itu: memperluas jaringan, membuka ruang kolaborasi, meningkatkan kompetensi, dan menghubungkan kekuatan organisasi dengan kebutuhan zaman.

ADAPTIF: Belajar dari Perubahan

Dunia bergerak sangat cepat. Risiko ekonomi berubah. Teknologi berubah. Kampus berubah. Dunia kerja berubah. Pola komunikasi generasi muda berubah. Bahkan cara organisasi membangun pengaruh juga berubah.

Karena itu, pemimpin masa kini tidak cukup hanya memiliki experience, tetapi membutuhkan learning agility.

Perolehan CRM oleh Mas’ud Said memberikan simbol yang kuat tentang hal tersebut. Di tengah dinamika sektor perbankan dan kebutuhan penguatan tata kelola risiko, kompetensi terus diperbarui. Artikel Harian Disway mencatat bahwa penguatan manajemen risiko dan kompetensi SDM menjadi bagian penting untuk menghadapi risiko yang semakin dinamis. Pemimpin adaptif bukan pemimpin yang kehilangan prinsip. Justru sebaliknya: prinsipnya kokoh, tetapi cara mencapainya terus diperbarui.
Nilai tetap. Strategi berkembang.

BERKELANJUTAN: Membangun Sistem, Bukan Sekadar Momentum

Inilah dimensi paling penting dari sebuah kepemimpinan. Prestasi seorang pemimpin tidak hanya diukur dari berapa banyak kegiatan yang berhasil dilakukan selama ia memimpin, tetapi dari berapa banyak sistem, kader, jaringan, budaya, dan gagasan yang tetap hidup setelah dirinya tidak lagi berada di pusatnya.

Kepemimpinan berkelanjutan berarti membangun institutional memory, kaderisasi, jejaring, sistem kerja dan budaya organisasi.
Dalam konteks ISNU, membangun cabang khusus di perguruan tinggi bukan sekadar menambah struktur organisasi. Jika dikelola secara serius, ia dapat menjadi infrastruktur intelektual NU masa depan.

Dari kampus lahir riset. Dari riset lahir gagasan. Dari gagasan lahir kebijakan. Dari kebijakan lahir perubahan. Dan dari perubahan yang terus-menerus itulah peradaban dibangun. Dari Personal Leadership Menuju Institutional Leadership.

Di sinilah saya melihat satu pelajaran penting.
Kepemimpinan Mas’ud Said akan semakin bernilai apabila energi personal tersebut terus ditransformasikan menjadi institutional leadership. Artinya, bukan hanya Mas’ud Said yang bergerak, tetapi sistem yang membuat banyak orang ikut bergerak.

Bukan hanya satu gagasan yang muncul, tetapi ekosistem gagasan yang terus melahirkan inovasi. Bukan hanya satu periode kepemimpinan yang menghasilkan capaian, tetapi sistem yang mampu melahirkan kepemimpinan berikutnya.

Itulah perbedaan antara leader dan leadership. Leader adalah orangnya. Leadership adalah sistem nilainya. Dan peradaban membutuhkan leadership.

Dari ISNU untuk Indonesia

Pada akhirnya, pengembangan ISNU Jawa Timur tidak boleh berhenti sebagai agenda internal organisasi.

ISNU harus menjadi bagian dari jawaban atas kebutuhan Indonesia terhadap human capital yang unggul, berintegritas, berilmu, berjejaring dan memiliki kepedulian sosial.

Sarjana Nahdliyin harus hadir di ruang akademik, pemerintahan, bisnis, teknologi, kesehatan, hukum, perbankan, media, industri kreatif, diplomasi dan berbagai sektor strategis lainnya.

Dengan demikian, ISNU bukan sekadar organisasi tempat berkumpulnya para sarjana NU. ISNU harus menjadi laboratorium peradaban. Dan Jawa Timur dapat menjadi salah satu episentrum pentingnya.

Catatan Akhir

Saya melihat kepemimpinan Prof. Dr. KH. Mas’ud Said, PhD sebagai sebuah proses yang menarik untuk terus dicermati: transformatif dalam mengubah potensi menjadi gerakan; inovatif dalam membuka ruang baru; kreatif dalam merajut berbagai kekuatan; progresif dalam membaca masa depan; adaptif dalam memperbarui kompetensi; dan berkelanjutan dalam membangun sistem.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan terbaik bukanlah tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi seberapa banyak orang yang mampu ia angkat bersama-sama. Dan kepemimpinan yang paling bernilai bukan yang meninggalkan banyak nama tentang dirinya, melainkan yang meninggalkan sistem, kader, ilmu, jejaring dan kemanfaatan yang terus bekerja setelah dirinya selesai menjalankan amanah.

Itulah kepemimpinan yang bergerak dari jabatan menuju pengabdian, dari pengabdian menuju gerakan, dan dari gerakan menuju peradaban. Wallahu a’lam bish-shawab.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry