
MAKKAH | duta.co – Namanya tak kuasa disimpan dalam kisah panjang sukses gerakan haji kita di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) 1447 H atau pelaksanaan haji 2026 M kemarin. Ialah Laksamana Pertama TNI Harun Al Rasyid, yang ikut menentukan cerita manis tersebut.
“Sosok yang sulit dilupakan. Bukan hanya trengginas, tetapi, merasa memiliki tangungjawab yang besar demi suksesnya pergerakan haji kita di Armuzna,” tegas salah seorang petugas haji asal Surabaya, kepada duta.co, Minggu (7/6/26).
Kita tahu, dalam penyelenggaraan haji (2026) Armuzna, selalu menjadi fase paling menentukan dalam operasional haji. Tempat Arafah, Muzdalifah, dan Mina adalah ruang ujian bagi seluruh sistem pelayanan. Di sana, ibadah, keselamatan, mobilitas, perlindungan jemaah, kepatuhan syariah, dan ketahanan petugas bertemu dalam satu waktu. “Ini paling krusial. Semua bergerak cepat. Semua membutuhkan komando yang jelas. Semua membutuhkan orang-orang yang sanggup bekerja dalam tekanan,” tambahnya.
Nah, pada fase Armuzna 1447 H, salah satu figur yang layak dicatat adalah Laksamana Pertama TNI Harun Al Rasyid. Posisinya sebagai Koordinator Bidang Armuzna dan Linjam pada operasional PPIH Arab Saudi 1447 H. Jabatan ini menempatkannya pada titik strategis. Ia ikut mengawal fase paling padat, paling sensitif, dan paling menuntut dalam pelayanan haji Indonesia.

Peran itu bukan peran administratif semata. Di Armuzna seluruh jamaah membutuhkan keputusan lapangan. Armuzna membutuhkan pembacaan risiko. Armuzna membutuhkan disiplin komando dan kepekaan terhadap kondisi jemaah. Dalam posisi sebagai Koordinator Bidang Armuzna dan Linjam, Harun Al Rasyid bergerak pada wilayah yang sangat penting, yaitu menjaga keselamatan, mengatur perlindungan, menguatkan operasi lapangan, dan memastikan jemaah mendapatkan pelayanan yang lebih tertib.
Yang membuat peran dia semakin menarik ialah latar kesantriannya. Laksma TNI Harun Al Rasyid adalah santri. Dia adalah alumni Pesantren Tebuireng. Identitas ini penting untuk disebut secara eksplisit karena memberi warna kuat dalam cara dia memaknai tugas. Di dalam diri dia, disiplin militer bertemu dengan adab pesantren. Ketegasan seorang perwira bertemu dengan nilai khidmah seorang santri. Kesiapan komando bertemu dengan kesadaran bahwa melayani jemaah haji adalah amanah ibadah.
Kesantrian bukan sekadar riwayat pendidikan. Kesantrian adalah cara memandang amanah. Seorang santri diajarkan untuk menghormati ilmu, memuliakan guru, menjaga adab, bekerja dengan ikhlas, dan menempatkan pelayanan sebagai bagian dari ibadah. Nilai inilah yang tampak dalam kesungguhan Laksma Harun ketika mengawal Armuzna. Dia tidak sekadar hadir sebagai pejabat operasional. Dia hadir sebagai pribadi yang memahami bahwa jemaah haji adalah tamu Allah yang harus dijaga dengan kehormatan.
Sebagai alumni Pesantren Tebuireng, dia membawa warisan nilai yang besar. Tebuireng bukan hanya lembaga pendidikan. Tebuireng adalah salah satu pusat tradisi keilmuan, kebangsaan, dan pengabdian umat. Dari rahim Tebuireng lahir banyak tokoh yang memadukan ilmu agama, cinta tanah air, dan tanggung jawab sosial. Dalam diri Laksma TNI Harun Al Rasyid, nilai itu hadir dalam medan tugas yang berbeda, yaitu medan pelayanan haji. Dia menunjukkan bahwa santri dapat berkhidmah di ruang negara, di ruang pertahanan, dan di ruang pelayanan jemaah.
Kesungguhan dia tampak sejak tahap persiapan Armuzna. Dia memahami bahwa puncak haji tidak bisa dikelola dengan cara biasa. Setiap detail harus dibaca. Setiap titik rawan harus dipetakan. Setiap potensi gangguan harus disiapkan langkah antisipasinya. Pergerakan jemaah dari Makkah ke Arafah, dari Arafah ke Muzdalifah, dari Muzdalifah ke Mina, lalu menuju Jamarat, memerlukan desain operasi yang rapi. Di sinilah perannya terasa. Dia mendorong kerja lapangan yang lebih terstruktur, lebih disiplin, dan lebih cepat merespons keadaan.
Pada fase Mina, perannya menjadi semakin penting. Mina adalah kawasan yang sangat terbatas. Jemaah dalam jumlah besar berada di ruang yang padat. Banyak jemaah datang dalam kondisi lelah setelah wukuf di Arafah dan mabit atau murur di Muzdalifah. Pada saat yang sama, petugas juga berada dalam tekanan fisik dan mental. Situasi seperti ini membutuhkan pemimpin lapangan yang mengerti detail teknis sekaligus peka terhadap keadaan manusiawi jemaah.

Laksma TNI Harun Al Rasyid menunjukkan kesungguhan itu melalui penguatan pola penempatan petugas. Dia memahami bahwa petugas tidak boleh habis tenaga sebelum fase paling berat dimulai. Karena itu, pengaturan personel harus mempertimbangkan stamina, pengalaman, dan kebutuhan lapangan. Petugas yang ditempatkan pada titik-titik strategis harus siap sejak awal. Mereka harus berada di lokasi ketika jemaah membutuhkan bantuan. Mereka harus mampu bergerak cepat saat terjadi kepadatan, disorientasi, atau gangguan alur pergerakan.
Dia juga memberi perhatian besar pada perlindungan jemaah. Linjam dalam konteks haji tidak dapat dipahami sebagai pengamanan semata. Linjam adalah perlindungan manusia. Linjam adalah pendampingan bagi jemaah yang lemah. Linjam adalah kehadiran negara ketika jemaah tersesat, sakit, kelelahan, terpisah dari rombongan, atau mengalami kesulitan di tengah kepadatan. Sebagai Koordinator Bidang Armuzna dan Linjam, Laksma Harun menempatkan fungsi perlindungan sebagai jantung operasi.
Perhatian kepada lansia, jemaah risiko tinggi, disabilitas, dan jemaah yang membutuhkan pendampingan khusus menjadi bagian penting dari cara kerja dia. Haji Indonesia hari ini menghadapi tantangan demografis yang nyata. Banyak jemaah berusia lanjut. Banyak jemaah memiliki keterbatasan fisik. Banyak pula yang belum cukup kuat menghadapi rute panjang, cuaca panas, dan kepadatan ekstrem. Karena itu, perlindungan tidak boleh menunggu laporan. Perlindungan harus hadir lebih dulu di titik rawan.
Di sinilah tampak perpaduan antara karakter santri Tebuireng dan disiplin TNI. Dia tegas dalam komando. Dia rinci dalam pengaturan. Dia menuntut kesiapan petugas. Namun, semua itu diarahkan untuk satu tujuan, yaitu menjaga jemaah. Ketegasan Dia tidak berdiri untuk dirinya sendiri. Ketegasan itu menjadi alat untuk menghadirkan pelayanan yang lebih aman, lebih tertib, dan lebih bertanggung jawab.
Kunci sukses Armuzna 1447 H juga tampak dalam kemampuan mengubah evaluasi menjadi langkah operasional. Banyak persoalan haji yang berulang dari tahun ke tahun. Kepadatan di Mina. Kelelahan petugas. Pergerakan jemaah menuju Jamarat. Jemaah yang kehilangan arah. Kebutuhan skema bagi jemaah lansia dan risiko tinggi.
Semua itu membutuhkan jawaban nyata. Laksma Harun termasuk figur yang mendorong agar evaluasi tidak berhenti sebagai catatan. Evaluasi harus berubah menjadi skenario. Evaluasi harus berubah menjadi penempatan personel. Evaluasi harus berubah menjadi pengaturan jalur. Evaluasi harus berubah menjadi perlindungan yang terasa di lapangan.
Dalam penguatan layanan Mina dan Jamarat, kesungguhan Dia juga menonjol. Jamarat merupakan salah satu titik paling sensitif dalam puncak haji. Arus jemaah dari berbagai negara bertemu dalam waktu yang berdekatan. Setiap keterlambatan, salah arah, atau penumpukan dapat berdampak serius. Karena itu, pengaturan rute, jadwal, petugas pengarah, dan pola pengawasan menjadi sangat penting. Dia memahami bahwa ibadah lontar jumrah harus berjalan sah, aman, dan terkendali.
Dukungan terhadap skema murur, tanazul, dan pengaturan mabit juga menunjukkan cara pandang yang utuh. Pelayanan haji tidak boleh mempersulit jemaah. Syariah memberi ruang kemudahan bagi jemaah yang memiliki uzur. Operasional harus mampu menerjemahkan kemudahan itu ke dalam sistem yang tertib. Di titik ini, peran Koordinator Bidang Armuzna dan Linjam menjadi sangat penting. Dia ikut memastikan agar aspek fikih, keselamatan, dan pengendalian massa dapat berjalan dalam satu desain layanan.
Kesungguhan Laksma TNI Harun Al Rasyid juga terlihat dari cara Dia menjaga koordinasi. Armuzna tidak dikelola oleh satu bidang saja. Ada unsur daker, sektor, kloter, transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, perlindungan jemaah, dan syarikah. Semua unsur harus terhubung. Semua informasi harus bergerak cepat. Semua keputusan harus dipahami hingga tingkat lapangan. Dia hadir sebagai penguat koordinasi itu. Ia menjaga agar perintah tidak berhenti di meja koordinasi, tetapi sampai kepada petugas yang berhadapan langsung dengan jemaah.
Tulisan ini tentu tidak bermaksud menempatkan keberhasilan Armuzna pada satu orang. Sukses Armuzna 1447 H adalah hasil kerja bersama seluruh unsur PPIH Arab Saudi, PPIH Pusat, petugas kloter, tenaga kesehatan, pembimbing ibadah, linjam, satop, syarikah, dan seluruh pihak yang bekerja siang malam. Namun, dalam kerja kolektif selalu ada figur yang memberi pengaruh kuat pada irama lapangan. Laksma TNI Harun Al Rasyid adalah salah satunya.
Dia memberi contoh bahwa pelayanan haji membutuhkan kesungguhan. Kesungguhan untuk hadir lebih awal. Kesungguhan untuk membaca risiko. Kesungguhan untuk mendengar laporan. Kesungguhan untuk menata petugas. Kesungguhan untuk menjaga jemaah yang lelah. Kesungguhan untuk tetap tenang ketika situasi bergerak cepat. Kesungguhan untuk tidak mencari panggung, karena medan pelayanan haji sering kali menuntut kerja senyap.
Sebagai santri dan alumni Pesantren Tebuireng, Laksma TNI Harun Al Rasyid memperlihatkan wajah khidmah yang relevan dengan zaman. Santri tidak hanya hadir di pesantren. Santri dapat hadir di medan tugas negara. Santri dapat memimpin operasi. Santri dapat menjaga keselamatan jemaah. Santri dapat menghubungkan ilmu, disiplin, dan pelayanan publik. Dalam diri Dia, nilai kesantrian tidak berhenti sebagai identitas masa lalu. Nilai itu hidup dalam cara bekerja.
Bagi penyelenggaraan haji Indonesia, sosok seperti Dia memberi pelajaran penting. Transformasi haji tidak cukup melalui perubahan regulasi dan struktur organisasi. Transformasi membutuhkan manusia yang kuat, jujur, disiplin, dan sungguh-sungguh. Transformasi membutuhkan pemimpin lapangan yang memahami data, menguasai medan, dan memiliki hati untuk melayani. Transformasi membutuhkan orang yang tidak mudah puas dengan capaian, karena keselamatan jemaah selalu menuntut perbaikan.
Armuzna 1447 H telah memberi banyak catatan. Di antara catatan itu, ada apresiasi yang patut diberikan kepada Laksma TNI Harun Al Rasyid. Sebagai Koordinator Bidang Armuzna dan Linjam pada operasional PPIH Arab Saudi 1447 H, dia telah menunjukkan dedikasi yang kuat. Sebagai perwira tinggi TNI AL, dia membawa disiplin dan ketegasan. Sebagai santri dan alumni Pesantren Tebuireng, dia membawa adab, khidmah, dan kesadaran ibadah.
Kesungguhan dia menjadi bagian dari ikhtiar besar menjaga jemaah haji Indonesia. Dalam panasnya Armuzna, dalam padatnya Mina, dalam rumitnya Jamarat, dan dalam panjangnya alur pergerakan jemaah, dia hadir sebagai salah satu penjaga irama pelayanan. Ia bekerja dalam sistem, tetapi memberi warna personal yang kuat. Warna itu bernama tanggung jawab.
Semoga pengabdian Laksma TNI Harun Al Rasyid menjadi teladan bagi petugas haji Indonesia. Semoga nilai kesantrian yang Dia bawa dari Pesantren Tebuireng terus memberi cahaya dalam ruang pelayanan negara. Semoga setiap langkah, keputusan, dan kerja keras Dia dalam menjaga jemaah haji dicatat sebagai amal khidmah di sisi Allah SWT.
Armuzna 1447 H menjadi bukti bahwa pelayanan haji membutuhkan orang-orang yang mau bekerja dengan hati, berpikir dengan jernih, dan bergerak dengan disiplin. Dalam ruang itulah nama Laksma TNI Harun Al Rasyid layak dikenang. Dia menunjukkan bahwa kesungguhan adalah salah satu kunci sukses Armuzna.(yus)





































