Mohamad Yusak Anshori. DUTA/ist

Mohamad Yusak Anshori – Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Teknologi Digital (FEBTD)

SEBAGIAN besar orang sependapat bahwa budaya global mulai menggusur budaya lokal. Sebagian besar orang juga setuju untuk mempertahankan budaya lokal.

Sebagian besar orang juga setuju agar budaya lokal bisa mengglobal. Sebagian besar orang juga setuju agar generasi muda peduli dan mampu memelihara budaya lokal.

Sebagian besar orang juga sependapat bahwa generasi muda yang seharusnya menjaga dan memelihara budaya lokal. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana agar budaya lokal ini menarik generasi muda yang kehidupannya tidak dapat dapat lepas dari teknologi dan pengaruh global?.

Begitu banyak budaya lokal yang ingin dipertahankan, dijaga, dipelihara, dan diglobalkan. Pada tulisan ini penulis hanya membahas salah satu saja budaya lokal yang patut dipertahankan agar tidak punah dan disukai generasi muda yaitu kidungan.

Kidungan merupakan salah satu budaya khas Jawa Timur yang sudah mulai tidak dikenali oleh generasi muda.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Kidungan adalah parikan yang dilagukan, dengan demikian di dalam kidungan ada unsur seni suara yang dikombinasi dengan kemampuan meracik kalimat yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi, politik, maupun soaial yang sedang berkembang (terkini). Karena itu kidungan ini sebenarnya bersifat dinamis dan adjustable terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita.

Seiring dengan perkembangan teknologi khususnya yang berkaitan dengan musik dan menjamurnya karaoke di Surabaya, kidungan merupakan salah satu kesenian/ budaya surabaya yang dapat dilestarikan dengan memanfaatkan media karaoke. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian kidungan. Pertama, mengumpulkan semua kidungan yang sudah ada (kidungan lama) yang tercecer sehingga dapat dikumpulkan dan dijadikan referensi dan sarana belajar bagi generasi muda yang ingin mempelajari kidungan.

Kedua, mengemas kembali kidungan yang sudah ada dan mengembangkannya agar memiliki nuansa kekinian yang dapat menarik generasi muda tanpa menghilangkan pakemnya. Ketiga, bekerjasama dengan semua operator telepon dan radio agar dapat menggunakan kidungan sebagai ring tone maupun sebagai nada sambung pribadi.

Demikian juga dengan semua radio yang ada di Surabaya atau Jawa Timur untuk selalu menyiarkan kidungan pada waktu tertentu setiap hari. Keempat, ”mewajibkan” semua karaoke untuk menyediakan kidungan kidungan yang populer. Kelima, mengadakan lomba kidungan dan parikan secara berkala dari berbagai kelompok masyarakat.

Dengan melakukan kelima hal diatas secara tidak langsung mengangkat kidungan sebagai gaya hidup masyarakat dalam bekehidupan. Ketika kidungan sudah memasyarakat akan memberikan dampak sosial, disamping dapat melestarikan budaya lokal, kidungan juga dapat sebagai hiburan, dan media komunikasi sosial antar masyarakat sehingga secara tidak langsung dapat membantu meminimalkan konflik horizontal karena terjalin komunikasi sosial yang baik.

Jika para pengidung difasilitasi untuk mensosialisasikan melaui media radio dan ring tone, kemudian kidungan kidungan yang populer disedikan di semua karaoke di surabaya/ jawa timur akan menjadi daya tarik bagi kaum muda sekaligus dapat membantu melestarikan budaya lokal yang rawan akan kepunahan. Lungo nang bandung tuku gelali, acara ngidung ayo dimulai. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry