Kiai Budi Harjono pengasuh pesantren Al-Ishah Meteseh, Tembalang. (DUTA.CO/ZULFA)

SEMARANG | duta.co — Kiai Budi Harjono pengasuh pesantren Al-Ishah Meteseh, Tembalang, mulai mengenal KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak 1982. Kiai Budi ini mulai membaca Gus Dur melalui tulisan-tulisan yang bertebaran di media masa. Pergumulan membawa Kiai Budi hingga akhirnya bertemu langsung dengan Gus Dur di awal tahun 90an.

Kiai Budi kemudian menuturkan kembali dalam sebuah acara Halaqah Kebangsaan dengan Ngaji Wirausaha bertajuk “Kemandirian Ekonomi Umat dalam Perspektif Ulama” di pesantrennya Al-Ishah Meteseh, Tembalang.

Dalam pengamatan Kiai Budi, Gus Dur memiliki intelektual yang cukup unik, original dan komprehensif. Hal itu terlihat dari karya tulis Gus Dur pada awal-awal setelah kembali dari luar negeri. Kemudian pada awal tahun 90an pemikiran Gus Dur mulai terlihat ngepop.

“Gus Dur adalah cinta,” ujar Kiai Budi.

Dikisahkan Kiai Budi, cinta bagi Gus Dur adalah tetesannya sangat besar. Sehingga banyak sekali hal-hal yang kadang menurut kita tak benar, akan tetapi bagi Gus Dur terus saja dikerjakan, bahkan sebaliknya. Dunia paradoks yang terbangun ini dalam analisa Kiai Budi, Gus Dur memiliki cinta yang amat dalam terhadap kemanusiaan.

Selain itu, imbuhnya, Gus Dur membangun ukhwah insaniyyah, menguatkan ukhwah islamiyyah dan ukhwah wathaniyyah. Dengan ukhwah insaniyyah inilah, kata Kiai Budi, Gus Dur mampu dikenal dan dikenang rakyat Indonesia hingga dunia. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang mampu membangun toleransi.

Lebih lanjut, Kiai Budi menceritakan saat ziarah di makam Gus Dur. Kiai ini bertemu dengan etnis Tionghoa dari Yogyakarta yang menitikkan air mata ketika di makam Gus Dur. Dalam percakapannya, dia mengatakan tak sempat bertemu langsung dengan Gus Dur. Dia ingin mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa yang telah dipelopori Gus Dur dalam membina kerukunan dan membangun bangsa.

Masih menurut Kiai Budi, keragaman berfikir Gus Dur inilah masuk dalam Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu, Gus Dur merupakan rahmat bagi Indonesia yang bisa dirasakan hingga sekarang. Dalam obrolan singkat ini, Kiai Budi berpesan agar selalu cinta tanah air. “Semoga Semarang ini lahir anak-anak yang memiliki semangat kebangsaan,” tutup Kiai Budi. [zulfa)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan