
SURABAYA | duta.co – H Yusuf Hidayat, Ketua Umum Himpunan Santri Nusantara (HISNU) mengaku heran dengan sebagian nahdliyin yang sibuk membantah manuver PAN (Partai Amanat Naisional) di Muktamar ke-35 NU Tambakberas akhir Agustus 2026 kemarin.
“Kalau dicermati, manuver PAN memang cerdas. Bukan cuma standnya yang berada di banyak tempat strategis, saya sempat kaget mendengar lomba kreasi, lalu muncul istilah baru: PAN partai anak nahdliyin. Ini cerdas,” demikian disampaikan Gus Yusuf panggilan akrabnya kepada duta.co, Sabtu (5/9/26).
Seperti diwartakan jatimnow.com, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur meminta Partai Amanat Nasional (PAN) membuktikan klaim sebagai “Partai Anak Nahdliyin” melalui kebijakan nyata, bukan sekadar pendekatan politik dan simbol kedekatan dengan warga Nahdlatul Ulama (NU).
Ketua PW GP Ansor Jawa Timur Musaffa Safril menilai kedekatan dengan Nahdliyin kehilangan makna apabila kader muda NU yang selama ini bekerja di tengah masyarakat justru merasa dipinggirkan dalam kebijakan pemerintah.
“Kalau benar ingin merangkul Nahdliyin, jangan hanya merangkul ketika membutuhkan suara. Rangkul juga kader-kadernya ketika mereka sedang bekerja dan mengabdi kepada masyarakat,” kata Musaffa, Sabtu (5/9/2026).
Sorotan itu disampaikan Musaffa di tengah semakin intensifnya pendekatan PAN kepada warga NU. Salah satunya terlihat saat Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, ketika sejumlah elite PAN hadir di sekitar arena muktamar dan menggelar ruang publik “Teras de’PAN”. Pendekatan PAN kemudian berlanjut dalam peringatan HUT ke-28 PAN di Malang. Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan memperkenalkan partainya sebagai “Partai Anak Nahdliyin”.
Berbeda dengan cara pandang Gus Yusuf. Alumni FISIP UNDAR Jombang ini menilai, sah-sah saja PAN mengklaim begitu. Dan, nahdliyin lebih tahu, apakah ada manfaatnya atau tidak dalam kehidupan nahdliyin. “Politik itu begitu. Dalam politik, tidak ada makan siang gratis. Semua ada pamrih, itulah politik. PAN silakan, tunjukkan kepada nahdliyin bahwa Anda berpihak pada warga NU, bukan cuma menjadikan kami sebagai kayu bakar,” tegas alumni Ponpes Tebuireng ini.

Masih menurut Gus Yusuf, jawaban soal PAN ini akan berbeda kalau ditanyakan kepada kader NU yang menjadi fungsionaris PAN. Apalagi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PAN, Zulkifli Hasan telah berhasil melantik Ning Ema (Ema Ummiyatul Chusna, keluarga besar Mbah Wahab Chasbullah Jombang) yang pemilu 2024 sejatinya lolos ke Senayan. Namun Ning Ema gagal dilantik, karena PPP tidak lolos parliamentary treshold atau ambang batas parlemen.
“Dia putri mantan Bupati Jombang Bu Nyai Mundjidah Wahab. Target dia memperkuat basis suara Nahdliyin di Jawa Timur, khususnya daerah Jombang, serta mendongkrak target PAN untuk meraih posisi tiga besar. Sah-sah saja. Kurang NU apa Ning Ema? Kita lihat saja,” pungkasnya. (din)





































