
“Innalillah! Hari ini (Sabtu 12 Juli 2025) KH Imam Aziz wafat. Ialah salah satu pemikir kunci di balik arah strategis NU. Ia pernah menjabat sebagai Waketum PBNU, dikenal dalam mengembangkan narasi Islam rahmatan lil ‘alamin yang inklusif, toleran.”
Oleh Dr. Yusuf Amrozi, M.MT
BUKU Kiri Islam terbitan LKiS Yogjakarta tersebut pertama kali saya baca sekitar akhir tahun 95 atau awal 96an. Saat itu kalau dalam bahasa sekarang cukup viral di sejumlah anak muda atau aktivis mahasiswa.
Di situ tertulis nama M. Imam Aziz dan M. Jadul Maula sebagai editornya, dengan pengantar ciamik (dan sulit dipahami oleh kami yg masih ‘unyu-unyu’ saat itu) oleh Gus Dur. Buku itu adalah versi terjemah dari artikelnya penulis Jepang Kazuo Shimogaki, tentang Islam Kritis/Progresif (Kiri Islam), atau Islam yang seharusnya. Begitu bukan…
Karenanya saya pertama kali tahu nama Mas Imam Aziz ya saat itu. Hal itu juga dibarengi dengan para sahabat/senior yang studinya di Jogja yang tinggal di Malang saat itu atau yang sama sama menginisiasi pendirian Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) seperti Gus Fat (Fatchurrahman Alfa), dll yang sering membincang nama Mas Imam Aziz dan LKiS. Walau belum pernah ketemu, akhirnya kami ikutan menyebut nama Mas di awal nama beliau, mengikuti apa yg disampaikan oleh Gus Fat tersebut.
Singkat kata nama LKiS dan Mas Imam Aziz membumbung tinggi di kalangan aktivis nahdliyin maupun pegiat Pro Demokrasi. Buku buku terbitan LKiS kemudian laris manis bak kacang goreng, yg diserbu kalangan mahasiswa di kios-kios buku, khususnya kios yg spesialis “harga” Mahasiswa di berbagai kota. Yang ndak mampu beli biasanya inden/pinjam kawan yg punya di kosnya atau di sekretariat mahasiswa/kajian mahasiswa, yg terkadang sulit untuk dikembalikan (mungkin krn disimpan sebagai jimat).
Suatu saat tanpa diduga, para senior kami mengadakan acara Pelatihan Paralegal Santri yg dihadiri para aktivis santri serta para Gus dan Ning dari berbagai kota, yg acaranya ditempatkan di ma’had kami (Pesantren Mahasiswa Ainul Yaqin UNISMA) tahun 98. Kami turut membantu jadi semacam panitia lokal, sembari bisa ikut nyimak para pembicara hebat memaparkan materi. Disinilah saya pertama kali berjumpa dengan Mas Imam Aziz. Beliau sebagai fasilitator kegiatan yg bagi kami monumental itu.
Surprisenya kegiatan ini dihadiri oleh Gus Dur (GD) sebelum jadi presiden. Yang unik adalah GD saat itu keliru masuk ruangan di dalam Kampus UNISMA dimana berlangsung kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) PMII Fakultas Ekonomi. Mungkin saat itu para pendherek GD tanya satpam kampus, yang asal diarahkan ke salah satu gedung yang ada kegiatan. Karena saat itu diacarakan pada Weekend.
Dari pertemuan saya di acara Paralegal Santri dengan Mas Imam Aziz tersebut, kesan saya beliau adalah senior yang konsis di jalur ‘kultural’ dengan membesarkan lembaga kajian dan penerbitan LKiS. Konsistensi ini terbukti manakala era berikutnya lahir Partai Kebangkitan Bangsa, beliau tidak ikut-ikutan menjadi legislatif yang mana andai beliau mau tentu tidak sulit. Beliau berada di jalur kultural & struktural NU dengan mengelola pondok pesantren ‘Bumi Cendekia’ bersama istri beliau di kediamannya di Yogyakarta, serta pernah menjabat di PBNU.
Dini hari ini (12 Juli 2025) beliau kapundhut, kembali ke Ilahi Robbi. Selamat jalan senior kami. Bagi kami panjenengan sumber inspirasi dan icon idealisme. Insyallah surga menantimu, Amin…