KEDIRI | duta.co -Apakah pantas sosok pahlawan telah diakui dunia justru sempat disamarkan keberadaan makamnya di dalam negeri. Dan ternyata  jasadnya dimakamkan di pemakaman umum di Dusun Ledok Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri.

Mengenang 70 tahun meninggal Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau lebih dikenal Tan Malaka. Seorang sosok luar biasa mendapat julukan “Bapak Republik Indonesia” oleh Mohammad Yamin dan bahkan dianggap oleh sebagian kalangan sebagai the true founding father of Indonesia.

Presiden Soekarno telah mengangkat namanya sebagai pahlawan nasional pada 28 Maret 1963. Namun, sejak era Orde Baru (1966-1998), keberadaan tokoh ini seperti dihapus dalam sejarah Indonesia, namanya dicoret dari daftar nama pahlawan Nasional dan hampir tidak pernah dibahas dalam pelajaran Sejarah untuk siswa SD hingga SMA hingga sekarang.

“Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putera Indonesia tempat darahmu tertumpah” – Tan Malaka, Massa Aksi (1927). Merupakan salah satu isi tulisan beliau, memiliki jasa untuk negeri ini, bahkan dengan sendirian merupakan orang yang pertama kali berjuang menentang antikolonialisme di Hindia Belanda.

Bahkan sebelum Soekarno dan Hatta, sosok Tan Malaka  menjadi orang pertama yang mencetuskan konsep tentang “Negara Indonesia” dalam bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (1925). Buku inilah yang menginspirasi Soekarno, Hatta dan Sjahrir dkk untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari barisan yang lain.

Perjuangannya untuk kemerdekakan Indonesia dimulai menulis buku, membentuk kesatuan massa, berbicara dalam kongres internasional, ikut bertempur di lapangan melawan Belanda secara langsung, sampai akhirnya harus keluar-masuk penjara berkali-kali, diburu oleh interpol dan kejar-kejaran sama polisi Internasional.

“Tragis? Yang lebih tragis lagi adalah, perjuangan beliau untuk negeri kita ini malah ‘dibalas oleh Indonesia’” dengan timah panas. Ya, beliau ditembak mati oleh tentara Republik yang didirikannya sendiri (Tentara Indonesia) di Kediri 1949,” jelas Datuk Habib, salah satu anggota Tan Malak Institute saat dikonfirmasi.

Perjuangan panjang mulai Pandan Gadang (Suliki), Bukittinggi, keliling Pulau Jawa, sampai Amsterdam, Berlin, Moskwa, Xiamen (Amoy), Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon dan Penang, diterang Datuk Habib, hingga saat ini tidak sepadan atas sosok pahlawan nasional ini.

“Saya baru selesai berdoa di kediaman beliau, begitu sunyi dalam kabut dingin, di kampung tempat sebenarnya kepulangan. Semoga kita mampu menyuarakan suara kebangkitan yang tak pernah mati,” imbuhnya.

Pemindahan makam dilakukan Pemerintah Kabupaten 50 Kota, awalnya mendapat respon baik dari pemerintah pusat pun berakhir gagal hanya bisa membawa sebongkah tanah. (nng)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.