​Oleh Gus Bahar Halim Mahfudz, Kolumnis, Pengasuh PP Salafiyah Seblak Jombang

​ADA sebuah tirai halus yang paling berbahaya di dunia hari ini. Ia tidak ditenun dari besi atau tembok beton, melainkan dari tumpukan buku, gelar keahlian, dan rasa percaya diri yang kelewat batas. Tirai tak kasat mata itu membuat seseorang merasa sedang menatap seluruh penjuru semesta, padahal ia sejatinya hanya sedang memandangi pantulan dahinya sendiri di kaca jendela yang kusam.

​Ketika seseorang melangkah terlampau jauh ke dalam satu lorong pengetahuan, ada godaan sunyi yang mengintai di ujung jalan: anggapan bahwa lorong sempit itulah satu-satunya dunia yang nyata. Di titik ini, kebenaran tidak lagi dicari untuk membebaskan, melainkan dipangkas dan digepengkan agar muat ke dalam kotak kardus milik sang pakar.

​Gejala rabun dekat intelektual—atau intellectual myopia—ini menjalar tanpa suara, menghinggapi dua ruang yang kerap disangka saling bermusuhan: laboratorium kaum saintis dan mimbar-mimbar penjaga agama. Keduanya sering kali mengidap penyakit yang serupa. Mereka mampu membedah kuman terkecil di balik lensa pembesar atau menghafal ribuan baris teks kuno sampai ke titik komanya, tetapi mendadak buta total ketika dihadapkan pada hamparan realitas di luar pagar keahlian mereka sendiri.

​Terjebak Slogan dan Berhala Materi

​Di panggung-panggung akademik maupun forum sakral, kita kerap disuguhi tontonan yang ironis. Orang-orang berpendidikan tinggi tidak lagi sedang merajut gagasan, melainkan asyik melempar slogan dan benteng bahasa yang sengaja dibikin rumit. Bahasa yang mulanya diturunkan untuk menerangi hakikat, justru disulap menjadi kawat berduri guna melindungi gengsi kelompok.

​Ketika akal sehat mulai kehabisan napas untuk menopang kekeliruan, jalan pintas paling murah yang kerap diambil adalah berlindung di balik sombongnya figur-figur besar. “Si Fulan yang agung telah bersabda,” atau “Lembaga riset paling bonafid di dunia telah mengetuk palu,” menjelma menjadi jimat pemungkas untuk membungkam setiap celah perdebatan. Pada detik itulah, pencarian yang tulus atas kebenaran sejati telah mati. Ia berganti rupa menjadi penyembahan massal terhadap jubah, nama besar, dan otoritas.

​Ketokohan dan materi dipuja sebagai kiblat utama. Ilmu tak lagi diukur dari seberapa jernih ia menyingkap tabir rahasia alam atau seberapa luas ia merawat kemaslahatan manusia, melainkan dari seberapa lihai dia mengamankan status sosial dan meredakan ketakutan ego pemiliknya. Objektivitas yang luhur buram seketika, tertutup oleh asap keangkuhan yang memuja alat berlebihan hingga lupa pada Sang Pemilik Ilmu.

​Lalu, mengapa kepala-kepala cerdas ini bisa terperosok beramai-ramai ke dalam lubang yang sama? Jawabannya bukan sekadar karena kurang referensi atau salah metode berpikir, melainkan ada retakan halus yang terbuka di dalam dada. Ada bisikan yang merayap begitu lembut—sehalus hembusan nafas dalam dada—yang menggoyang kesadaran manusia. Bisikan itu tidak pernah mengajak orang berilmu untuk berbuat nista secara terang-terangan, melainkan memprovokasi akal agar melompat melangkahi batas wewenangnya.

​Akal ditiup-tiup hingga merasa sanggup memegang kemudi, meramal, dan menata seluruh variabel kehidupan seorang diri. Sang pemikir digiring untuk berkhayal bahwa alur takdir harus patuh pada kalkulasi rumus, hasil laboratorium, atau tafsiran hukum yang ia kuasai. Begitu kenyataan di lapangan melenceng jauh dari coretan di atas kertas, kepanikan massal pun meletup.

​Membongkar Sekat dan Memulihkan Kesadaran

​Di sinilah kecemasan tanpa ujung bermula. Pikiran yang terlalu lama berputar-putar di dalam sangkar egosentrisnya mulai merajut skenario ketakutan yang sebenarnya tidak pernah wujud. Tumpukan keraguan yang menggunung itu sejatinya adalah buah dari kesombongan epistemik: ketika seorang insan yang rapuh mencoba merampas hak prerogatif Sang Maha Penentu.

​Ikhtiar berpikir yang mulanya dirancang sebagai ibadah yang indah, mendadak berubah wujud menjadi barang yang buruk dan burik. Mengapa? Sebab di balik tumpukan dalil dan argumen ilmiah yang megah itu, terselip hasrat kotor untuk mengontrol hasil akhir. Manusia lupa bahwa tugas utamanya di muka bumi ini hanyalah menenun ikhtiar dengan keteraturan hukum alam dan petunjuk moral, sementara ketukan palu keputusan mutlak tetap berada di tangan Sang Penguasa Semesta.

​Untuk merobohkan penjara pikiran ini, tidak ada cara lain selain menanggalkan baju kebesaran dan berdiri jujur di hadapan cermin kesadaran. Harus ada keberanian radikal untuk meragukan asumsi-asumsi mapan yang selama ini dipuja sebagai kebenaran mutlak. Dibutuhkan pisau bedah nalar yang tajam—sebuah jembatan berpikir yang murni—untuk mendeteksi kecacatan logika dan kecanduan akut terhadap jargon. Tanpa penyaringan ini, seorang penafsir agama hanya akan menjadi tukang mengulang dogma yang kaku, sementara ilmuwan modern hanya akan menjelma menjadi pengumpul data mekanis yang kering dari kehangatan nurani.

​Alat pikir yang lurus akan menampar kesadaran kita bahwa setinggi apa pun puncak menara pengetahuan yang berhasil kita daki, kita sebenarnya hanyalah sedang berdiri di atas sebutir pasir di tengah samudra ilmu yang tak bertepi. Pengetahuan manusia tidak pernah utuh; ia hanyalah serpihan kecil yang dianugerahkan sekadarnya. Kesadaran menohok ini bukanlah tanda-tanda keputusasaan, melainkan pintu gerbang menuju kerendahan hati yang sejati. Hanya ketika seseorang sadar bahwa ilmunya hanyalah titipan sementara, ia akan merdeka dari dorongan kekanak-kanakan untuk merasa paling benar sendiri.

​Peradaban yang lapang dada tidak pernah lahir dari kepala-kepala yang panik, bukan pula dari para penjaga dogma yang menutup rapat jendela rumahnya. Peradaban yang matang bertumpu pada pribadi-pribadi yang telah selesai dengan urusan egonya bukan materinya. Mereka adalah orang-orang yang tahu persis di mana batas harus ditarik: mana wilayah kerja manusia untuk bergerak, meneliti, berdagang, dan menata masyarakat secara profesional, dan mana wilayah mutlak milik Sang Pencipta.

​Ketika batas-batas itu dipahami dengan kepala dingin, pikiran tidak akan lagi tersesat dalam pusaran cemas yang melelahkan. Fokus hidup bergeser dari sekadar memenangkan perdebatan murahan menjadi memastikan bahwa setiap langkah ikhtiar batin menuntun pulang pada kepasrahan yang damai. Sudah saatnya kita meruntuhkan dinding-dinding sekat ilmu yang angkuh itu, melangkah keluar, dan memandang semesta dengan mata telanjang yang jujur, bening, serta bersahaja. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry