BOJONEGORO | duta.co – Pernah dengar melon Machida? Sistem Machida pada tanaman melon ini diambil dari nama sebuah kota di Jepang, yakni Machida.Di kota ini, petani mengembangkan sistem pertanian tanaman melon yang hasil panennya melimpah. Kali ini tidak perlu ke Negara Mchida-Jepang tapi cukup di Sukosewu milik abah Muhammad Bagus Pujianto pengusaha tajir melintir asal Bojonegoro.

Sistem Machida diyakini sebagai sebuah inovasi dalam budidaya hidroponik sebagai jawaban atas tantangan produktivitas dan kualitas pertanian modern. Terutama untuk melon, sistem ini menawarkan efisiensi luar biasa sekaligus hasil yang konsisten.

“Melon Machida yang di sini (Sukosewu, red) merupakan tanaman melonnya kedua setelah melon hidroponiknya yang ada di lahan pekarangan Panti Asuhan Muhammadiyah, Karang Pilang.” kata Bagus didampingi aktifis Lingkungan Bojonegoro, Heri Wibowo.

“Alhamdulillah, tanaman melon yang di Panti bulan lalu menghasilkan kurang lebih 400 ribu tanaman melon atau senilai 20 juta rupiah. Semua yang ngurusi tanaman melonnya ya anak Panti itu. Mereka memang saya didik untuk berwirausaha agar kelak bisa hidupnya mandiri. ” tambah Bagus panggilan akrabnya.

Dalam penerapannya, sistem ini memanfaatkan sirkulasi dan nutrisi air dalam wadah khusus berbentuk persegi. Di setiap sudut wadah terdapat lubang khusus yang berfungsi untuk mendistribusikan larutan nutrisi secara merata ke seluruh bagian akar tanaman. Hal tersebut memungkinkan satu tanaman melon menghasilkan banyak buah dengan kualitas tinggi dan rasa yang manis.

”Sistem ini memungkinkan akar melon tumbuh dengan sehat karena air dan nutrisi terus mengalir dan berganti secara teratur,” kata Wibowo menambahkan.

Ia telah menerapkan melon Machida di pekarangan rumahnya bersama tanaman anggur yang telah berbuah dengan berbagai varian.

“Padahal biasanya satu tanaman melon, baik hidroponik maupun konvensional di hamparan sawah, hanya menghasilkan satu buah saja atau maksimal tiga buah.” katanya kembali.

Untuk melon Machida di pekarangannya yang sudah dipanen Wibowo mematok harga 25 ribu perkilonya.

Sebagai pengusaha sukses yang mencoba dengan berbagai usaha termasuk peternakan ayamnya, Bagus bersyukur tanaman melonnya bisa tumbuh subur dan berbuah banyak seperti yang diharapkan.

“Jadi sekarang ini petani di Indonesia mulai tertarik mengembangkan budidaya tanaman melon dengan sistem Machida sejak 2015.” tegas Bagus.

Untuk tanaman melon Machidanya di rumahnya Sukosewu baru mulai proses penanaman. Ia menyediakan 36 kotak persegi yang sudah terisi nutrisi air. Masing-masing wadah berisi 2 lubang sehingga totalnya menjadi 72 batang tanaman melon.

“Insya Alloh jika tanaman melon tumbuh subur dan menghasilkan buah, kami bisa panen 1440 buah melon. Karena masing-masing per batang melon bisa tumbuh 20 buah.” tegasnya kembali.

Keunggulan utama sistem Machida terletak pada produksi yang tinggi dan pengendalian yang presisi. Dalam satu siklus tanam, satu pohon dapat menghasilkan hingga 20-60 buah melon berkualitas.imm

 

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry