
SURABAYA | duta.co – Sebanyak 71 murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum, Gedongan, Waru, Sidoarjo berkunjung ke Museum Nahdlatul Ulama (NU) di Gayungsari Timur, Surabaya. Mereka ‘merekam’ kembali jejak para masyayikh dalam menegakkan ajaran Islam ala Ahlussunna wal-Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah.
“Kita ajak untuk melihat langsung rekam jejak perjuangan para masyayikh (kiai NU) dalam memperjuangkan Islam yang ramah dan rahmatan lilalamin. Melalui Museum NU, anak-anak bisa melihat secara langsung sejarah dan peninggalan para kiai,” demikian disampaikan Kepala Sekolah MI Darul Ulum, Ibu Masrifah, Senin (11/5/26).

Kunjungan ini, tegasnya, dalam rangka ‘Field Trip’ akhir semester. Anak-anak yang diberi kesempatan ke Museum NU adalah murid kelas 4 dan 5. “Mereka dikawal para guru. Ada 10 guru yang mendampingi anak-anak kita, sekaligus menjelaskan hal-hal yang dirasa kurang paham,” tambahnya.
Museum NU, memang, menjadi jujugan para siswa-siswi yang tengah belajar di tingkat dasar (SD/MI), sekolah menengah pertama (MTs/SMP) dan Sekolah Menengah Atas (MA/SMA). “Bahkan para mahasiswa dan para pengamat banyak yang tertarik dengan model keagamaan NU. Alhamdulillah, kini ada buku ajar untuk anak-anak kita dalam memahami mainstream kegamaan NU termasuk dalam berbangsa dan bernegara,” demikian disampaikan Mohammad Azharuddin, petugas Museum NU.

Menurut Azhar, panggilan akrabnya, kini tengah ada upaya untuk memudahkan anak-anak kita mengenal lebih dekat tentang mainstream keagamaan NU . “Museum NU kini sedang bekerjasama dengan LP Ma’arif PWNU Jatim dan Tv9 untuk membuat Museum NU lebih nyaman bagi anak-anak yang tengah memperdalam Aswaja an-Nahdliyah,” tegas alumni PP Gontor yang kini tengah menuntaskan program Pascasarjana di UNESA Surabaya tersebut.
Di Museum NU, tegasnya, banyak hal yang perlu dipahami oleh anak-anak kita. Baik sebagai pemeluk Islam yang rahmatan lilalamin mau pun sebagai anak bangsa yang beraneka ragam budaya. NU mengajarkan bagaimana kita membangun toleransi. Di samping itu, Museum NU juga menyimpan ikhtiar para kiai dalam memperjuangkan atau diperbolehkannya 4 madzhab untuk diamalkan di tanah suci.

“Kiai-kiai telah berbuat banyak untuk kita semua. Beliau-beliau telah meninggalkan pemahaman agama yang benar dan kokoh. Di Museum NU ada surat Raja Saud (Arab Saudi) yang ditujukan kepada kiai NU terkait dengan diperbolehkannya madzahibul arba’ah di tanah suci Makkah-Madinah (haromain). Jadi, tahun itu, jerih payah Kiai NU sudah dinikmati secara global,” pungkasnya. (mky)




































