Fatimah Al Zahra (tengah) bersama temannya Nindy Tasyanie (kanan) saat bersama Dirjen Pendidikan Vokasi Kiki Yuliati saat pembukaan Vokasiland di Grand City Mall Surabaya, Kamis (28/7/2022). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – SMK NU Banat Kudus, Jawa Tengah sudah dikenal sebagai salah satu sekolah pencetak talenta-talenta andal di bidang fesyen.

Para siswi-siswi di sekolah itu berhasil membuat karya-karya busana muslim yang bisa menembus pasar internasional dengan brand Zelmira. Salah satunya adalah Fatimah al Zahra.

Meski masih duduk di bangku kelas 11, tetapi koleksi rancangan Fatimah berhasil memukau para pengunjung Grand City Mall, Surabaya, Jawa Timur, saat pagelaran busana di panggung Mahakarya Vokasi bertajuk “Vokasiland : Road to Hakteknas 2022”.

Parade busana karya anak SMK NU Banat tersebut sekaligus menjadi pembuka rangkaian acara yang digelar oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi untuk memperkenalkan karya-karya inovasi teknologi dari peserta didik vokasi.

Fatimah mengatakan, awalnya ia lebih tertarik dengan dunia modeling dibanding fashion designer. Namun, karena tidak mendapat restu dari orang tua, Fatimah yang tinggal di Jepara akhirnya memutuskan untuk menekuni dunia fesyen tersebut.

Passion-nya pada dunia perancangan fesyen ini mulai muncul setelah ia memutuskan melanjutkan sekolah di SMK NU Banat Kudus. Ekosistem belajar yang sangat mendukung, membuat Fatimah mudah menemukan bakat terpendam dalam dirinya dan juga mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya tersebut.

“Di SMK NU Banat itu menerapkan Kurikulum Merdeka. Jadi, untuk tata busanya dibagi dua, yakni kelas kreasi dan kelas produksi. Kelas kreasi ini kelas unggulan membuat desain, lalu yang mengembangkannya kelas produksi. Jadi, kita tidak hanya belajar jahit, tetapi juga diajari membuat brand, komunikasi, digital marketing, dan sebagainya,” kata Fatimah.

Lambat laun, Fatimah semakin mantap menekuni dunia fashion design. Apalagi, usai dirinya melihat antusias masyarakat terhadap karya rancangannya yang selalu mendapat sambutan positif.

“Saat acara ‘Muffest 2022’ di Jakarta malah bajunya sudah habis dipesan sebelum fashion show. Jadi, kami harus call bagian produksi di Kudus untuk kirim ke Jakarta,” ujar Fatimah.

Di ajang Vokasiland Fatimah tidak sendirian. Ia berkolaborasi bersama kakak kelasnya, Nadya, sebagai konseptor utama untuk tema “luwur” yang mereka ambil.

“Gagasan utamanya dari saya dan Kak Nadia, kemudian proses pengembangannya dilakukan bersama-sama dengan tim lainnya,” tutur Fatimah.

Tema luwur sendiri terinspirasi Buka Luwur yang menjadi tradisi rutin masyarakat Kudus. Luwur merupakan kelambu atau kain putih yang digunakan sebagai penutup makam Sunan Kudus, yang setiap setahun sekali dibuka untuk diganti.

“Karena tren forecasting untuk tahun ini, kan spirituality yang berpijak pada nilai-nilai tradisi, budaya, tetapi kami ambil yang tidak jauh-jauh dari Kudus. Jadi, ya kami ambil luwur ini,” terang Fatimah.

Dengan tema tersebut, Fatimah berharap tidak hanya membawa nama sekolah, tetapi juga bisa mengangkat dan memperkenalkan tradisi masyarakat Kudus ke Indonesia, atau bahkan ke mancanegara. ”Jadi, tidak hanya sekolah yang harum. Akan tetapi, nama Kudus juga ikut harum,” kata Fatimah

Menanggapi gelaran busana SMK NU Kudus tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, Kiki Yuliati, menuturkan, karya-karya yang ditampilkan oleh para siswa SMK NU Banat Kudus ini diharapkan menjadi contoh yang baik dan memotivasi siswa sekolah lainnya untuk bisa berkarya dan berprestasi setinggi mungkin.

“Saya percaya bahwa siswa Indonesia bisa menghasilkan karya yang mendunia seperti SMK NU Banat Kudus ini yang prestasinya memang sudah banyak, baik di level nasional maupun internasional,” tutur Kiki. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry