
SURABAYA | duta.co – KH Fahruddin Manan, Pengasuh PP Minhajut Thulab, Banyuwangi mengapresiasi keberadaan Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang fokus soal pengembangan sumber daya manusia (SDM) pesantren.
“Tantangan ke depan pasti jauh lebih kompleks. LPPD bukan hanya bertugas menerangi jalan, tetapi, sekaligus membuat insan pesanten menjadi lebih siap menghadapi zaman yang cepat berubah,” tegas KH Fahruddin Manan kepada duta.co, Senin (29/6/26).
Menurut Rais Syariyah PCNU Banyuwangi ini, perubahan (modernisasi) yang begitu cepat, dengan maraknya platform digital, dimana sistem atau infrastruktur berbasis teknologi yang memungkinkan individu, kelompok, atau perusahaan untuk saling terhubung, berinteraksi, dan melakukan transaksi secara online, ini mau tidak mau membuat SDM pesantren juga harus mampu mengantisipasi.
“Maka, SDM pesantren harus berbenah, tugas berat LPPD adalah menyulap wajah pesantren menjadi lebih siap menghadapi tantangan, maka, sisi akademis harus tergarap dengan baik,” jelasnya.
Sekarang, lanjutnya, dunia pesantren tidak hanya fokus pada masalah kitab kuning, meskipun penguasaan terhadap hal itu tidak akan terlupakan. Selain informal, insan pesantren juga perlu menggaet status formal. Kini, sudah banyak pesantren menyelenggarakan pendidikan jenjang S1 (Strata 1), S2 bahkan S3. “Kita, sebagai warga Jawa Timur, bersyukur ada LPPD yang mengawal pesantren dan diniyah. Ini harus dimanfaatkan dengan baik, memberikan kontribusi yang baik kepada warga Jatim,” tambahnya.
Bisa, Tapi Perlu Kerjakeras
Jumlah Ma’had Aly di Indonesia saat ini mencapai sekitar 91 lembaga. Perguruan tinggi keagamaan berbasis pesantren ini tersebar di berbagai wilayah dan fokus mendalami ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin) berbasis kitab kuning. Di Jawa Timur, ada ribuan pesantren, yang mendirikan Ma’had Aly sekitar 40 Ma’had Aly.

Ketua LPPD Pemprov Jawa Timur, Prof Dr H Abdul Halim Soebahar, MA mengatakan, bahwa, ada potensi besar di lingkup Pesantren dan Diniyah. Diakui, dari sisi akademis sekarang masih masbuk alias tertinggal. Tetapi, pesantren rata-rata memiliki SDM handal. “Saya optimis, dunia pesantren lebih siap menghadapi tantangan zaman, termasuk dalam masalah digitalisasi,” tegasnya kepada duta.co.
Menurut Prof Halim, pihaknya pernah mendalami dunia pesantren dari sisi akademis. “Ketika melakukan riset untuk penulisan thesis S2 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat itu, salah satu pesantren yang saya teliti adalah Sukorejo. Saya beruntung mendapatkan copy surat yang di tandatangani langsung oleh KHR. As’ad Syamsul Arifin,” katanya.
Ternyata, lanjutnya, surat itulah yang kemudian menjadi cikal bakal perintisan berdirinya perguruan tinggi khas pesantren di Indonesia yang kita kenal dengan Ma’had Aly, betapa maju pikiran beliau.
Dia menyontohkan, ada surat bernomor: P2S2/31/A-LP/1-1989 tertanggal 10 Januari 1989 perihal “Pengadaan Lembaga Kader Fuqaha‘” yang ditujukan kepada para ulama dan pengasuh pesantren ternama di Indonesia untuk menghadiri Musyawarah Nasional Ulama dan Pengasuh Pesantren Dalam Upaya Pengkaderan Fuqaha’. Kala itu, acara tersebut diadakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, tanggal 26-28 Pebruari 1989.
“Yang menarik bagi saya adalah pidato pembukaan KHR. As’ad Syamsul Arifin pada acara tersebut. Beliau menyatakan: Ide tersebut (maksudnya Perintisan Ma’had Aly, red) sebenarnya sudah sejak sekian lama menjadi azam atau keinginan yang kuat pada diri saya, di mana ide tersebut di samping merupakan tugas dan kewajiban kita bersama, sejak sebelum kemerdekaan sudah pernah diwasiatkan oleh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari kepada saya ketika saya nyantri di Tebuireng Jombang. Bahkan ungkapan kalimat, serta suaranyapun masih segar dalam ingatan saya: “As’ad, setelah engkau mengganti ayahmu sebagai pengasuh pesantren, perbanyaklah mencetak kader-kader fuqaha’.”
Jadi? “Merintis Ma’had Aly memerlukan perjuangan panjang. Meski Indonesia telah lama merdeka, bahkan berkali-kali berganti UU Sisdiknas, tetapi belum ada apresiasi yang memadai terhadap Ma’had Aly. Perkembangan Ma’had Aly baru dimulai setelah terbitnya UU Nomor 20 Tahun 2003, serta semakin cepatnya perkembangan Ma’had Aly setelah terbitnya PMA Nomor 71 Tahun 2015 tentang Ma’had Aly. Tetapi civil efect kelanjutan studi dan karir lulusan Ma’had Aly masih belum jelas. Nah, sekarang, semakin terang jalan ke depan,” katanya.
Menurutnya, dari sekitar 40 Ma’had Aly, ada 3 Ma’had yang disebut sebagai “Perintis Program Magister Pada Perguruan Tinggi Khas Pesantren”. Pertama, Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah yang terletak di Sukorejo Situbondo dengan takhassus (jurusan) fiqh dan ulumul fiqh. Kedua, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari yang berada di Kabupaten Jombang dengan sepesialisasi keilmuan atau kajian (takhassus) pada bidang hadits dan ulumul hadits. Ketiga, Ma’had Aly Pondok Pesantren Lirboyo yang terletak di Kabupaten Kediri dengan fokus kajian (takhassus) fiqh kebangsaan.
“Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberi kesempatan kepada 3 Ma’had Aly tersebut untuk menjadi mitra penyelenggara beasiswa pemerintah provinsi Jawa Timur. Termasuk tentang bagaimana persyaratan, jadwal ujian dan mekanisme seleksi calon mahasantri di 3 Ma’had Aly tersebut? Mereka yang paham betul tentang seluk beluk Ma’had Aly,” pungkas Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur ini. (mky,mmh,ahr)




































