
SURABAYA | duta.co – Provinsi Jawa Timur – khususnya jagat Pondok Pesanren — akan memanen 250 doktor baru. Sebuah prestasi akedemik yang luar biasa. Ini kebutuhan dasar yang belum (dunia pesantren) tersadari.
“Insan pesantren, harus angkat topi, bersyukur ada LPPD (Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah red). Dia telah menyadarkan kita pentingnya pemberdayaan insan pesantren untuk mengantisipasi tantangan baru. Terimakasih LPPD,” demikian disampaikan KH Ainul Yaqin, pengasuh PP Hamalatul Quran (HQ) Jombang, kepada Duta Masyarakat Minggu, (28/6/26).
Menurut Mbah Yaqin, panggilan akrabnya, selama ini dunia pesantren tidak pernah berpikir tentang pentingnya kemampuan akademik. Padahal, ke depan, pesantren harus berpacu dengan dunia global yang semakin maju. Pesantren tidak mungkin mengurung diri dalam penguasaan kitab kuning.
“Kalau soal kemampuan mempelajari kitab kuning, jangan tanya. Begitu juga soal ilmu Alquran. Masalahnya kebutuhan dasar masyarakat sangat majemuk. PPHQ pun kerjasama dengan Kampung Inggris Pare, Kediri. Selain hafal Alquran, mereka (santri) juga harus menguasai bahasa Inggris,” tegas kiai yang menjadi jujugan ribuan santri ini.
Mba Yaqin kemudian memberikan ilustrasi, bahwa, mengapa jagat pesantren harus maju ke depan. Masalah digitalisasi misalnya, tidak bisa diabaikan, Apalagi dunia sekarang sudah diacak-acak program AI (Artificial Intelligence) kecerdasan buatan, yang merupakan cabang ilmu komputer, dirancang untuk membuat sistem atau mesin yang mampu berpikir, belajar, dan meniru fungsi kognitif manusia seperti memecahkan masalah dan mengambil keputusan. “Lalu di mana peran kita sebagai hamba Allah SWT di muka bumi ini,” tegasnya.
Ia menyoroti tantangan besar yang dihadapi dunia Islam di era modern, terutama dengan munculnya teknologi kecerdasan buatan (AI) tersebut. Jepang misalnya, telah menggunakan robot untuk membaca ajaran agama di kuil-kuil mereka. Di Jerman kabarnya ada robot pendeta yang bertugas memberikan khotbah di gereja. Bahkan di dunia Islam, wakila (konon), robot mufti telah mulai dikembangkan di Uni Emirat Arab (UEA) untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan hukum seputar haji dan umrah. “Lalu, kita (insan pesantren) ada di mana? Jadi obyek?,” tanyanya.
Karena itu, ribuan santri PP HQ harus mampu beradaptasi dengan era digital dan teknologi informasi. Setidaknya, para pengasuh santri harus segera ‘bangun dari tidur’, berkompetisi dengan dunia modern. “Alhamdulillah, di banyak pesantren berdiri kampus S1 dan S2. Di Mah’ad Aly juga demikian. Kini banyak muncul doktor-doktor baru dari kalangan pesantren. Mau tidak mau, kita harus berkerja keras mengasah kemampuan akademik santri. Hebatnya, Pemprov Jawa Timur membuat terobosan dengan munculnya LPPD. Ini jadi program unggulan kita, dunia pesantren,” tegasnya.

Hal yang sama disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda Grogol Kediri, Dr Ramadlon Sukardi. Menurutnya, komitmen Pemprov Jawa Timur melalui LPPD bukan hanya menunjukkan betapa pentingnya sisi akademis santri, tetapi, juga menjadi penyinar jalan bagi insan pesantren untuk mengatahui tantangan ke depan.
“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya Ibu Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan juga kepada LPPD Provinsi Jawa Timur, atas ikhtiar besar menyiapkan dan melahirkan 250 doktor dari kalangan pesantren,” tegasnya kepada Duta Masyarakat, Minggu (28/6/26).
Masih menurut Wakil Ketua PW DMI (Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia) Provinsi Jawa Timur dan Ketua Komisi Hubungan Ulama-Umara MUI Jawa Timur ini, program tersebut merupakan investasi peradaban (civilization investment) yang sangat strategis dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Jawa Timur. Kehadiran para doktor tidak hanya akan meningkatkan mutu pendidikan tinggi Islam dan pesantren, tetapi juga memperkuat kapasitas riset, inovasi, kepemimpinan, serta pengabdian kepada masyarakat.
“Bagi pesantren, lahirnya ratusan doktor akan memperkokoh tradisi keilmuan (tafaqquh fid-din) yang dipadukan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan manajemen modern. Dengan demikian, pesantren akan semakin mampu menjadi pusat pembentukan ulama-intelektual yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman, namun adaptif terhadap dinamika zaman dan tantangan global,” tegasnya.
Bagi perguruan tinggi Islam, tambahnya, program ini akan memperkuat ekosistem akademik melalui peningkatan kualitas dosen, peneliti, dan publikasi ilmiah, sekaligus memperluas kolaborasi antara pesantren, kampus, pemerintah, dan dunia usaha. Sinergi tersebut akan melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
“Saya memandang bahwa program ini merupakan langkah visioner dalam menyiapkan kepemimpinan intelektual umat di masa depan. Semoga para doktor yang lahir dari program ini menjadi agen transformasi, penjaga moderasi beragama, penguat peradaban pesantren, serta penggerak kemajuan Jawa Timur menuju provinsi yang unggul, berdaya saing global, dan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan,” urainya.
Istilah Dr Romadlon, LPPD tengah menanam benih peradaban yang manfaatnya akan dirasakan oleh generasi demi generasi. Dia telah menyadarkan insan pesantren dan diniyah, betapa penting mengasah sisi akademis itu. “Jika membangun gedung membutuhkan biaya, maka, membangun sumber daya manusia membutuhkan visi. Melahirkan doktor berarti menanam benih peradaban yang manfaatnya akan dirasakan oleh generasi demi generasi,” pungkasnya.

Ketua LPPD Jatim, Prof Halim Soebahar, kepada Duta Masyarakat menegaskan, bahwa, insan pesantren memang butuh ‘lari cepat’ untuk mengimbangi kecepatan perubahan tantangan ke depan. Peningkatan SDM Pesantren maupun Diniyah menjadi alternatif utama. “Saya sangat optimis, yakin bahwa SDM Pesantren maupun Diniyah mampu menangkap perubahan dengan baik. Saya lihat para santri itu memiliki kecerdasan yang luar biasa. Mereka sangat menguasai kitab kuning, sehingga mudah sekali untuk mengasah sisi akademisnya,” jelas Prof Halim yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur ini.
Menurutnya, tahun 2022 ada 40 mahasiswa angkatan pertama program beasiswa doktor, dan sudah 38 di antaranya berhasil menuntaskan studi. Kini, masyarakat Jawa Timur memiliki harapan besar terhadap kontribusi para lulusan doktor, provinsi ini akan memanen 250 doktor tahun ke depan. “Nah, orang dalam pesantren ini yang paling memahami dan paling berhak menarasikan dunianya. Saya sering mengistilahkan, jagat pesantren itu gudangnya orang pintar, tetapi, tidak memiliki sarana sah (legal) untuk mengamalkan ilmunya. Di sinilah gelar doktor sebagai alat formal untuk memperkuat kontribusi keilmuan santri,” tegasnya. (bersambung)




































