SVP of SMO & Communication Semen Indonesia, Ami Tantri (tengah) didampingi Kepala Departeman Komunikasi Perusahaan Sigit Wahono (kanan) dan Ketua PWI Jawa Timur Ainur Rohim (kiri) berfoto bersama para tukang becak dan petugas kebersihan di Surabaya, Jumat (31/5). DUTA/wiwiek

SURABAYA | duta.co – Di kuartal pertama, pendapatan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk naik 22 persen menjadi Rp 8,1 triliun.

Hal itu sesuai dengan laporan keuangan dari hasil rapat umum pemegang saham  beberapa waktu lalu di Jakarta.

Namun, kenaikan pendapatan itu tidak diimbagi dengan kenaikan laba bersih. Justru laba bersih perusahaan mengalami penurunan signifikan sebesar 42 persen.

Apa yang membuat itu terjadi? Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Sigit Wahono mengatakan hal itu akibat beban bunga yang mengalami kenaikan signifikan. Yakni sebesar 210 persen menjadi Rp 712 miliar.

“Beban bunga itu akibat akuisisi PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) yang dulunya bernama Holcim Indonesia,” ujar Sigit usai acara buka puasa dengan 100 tukang becak dan petugas kebersihan di kantor PWI Jatim, Jumat (31/5) malam.

Dari beban bunga yang besar itu, perusahaan dengan kode emiten SMGR itu melakukan refinancing atau restrukturisasi utang.

Yakni dengan mengeluarkan obligasi sebesar Rp 4,9 triliun. Obligasi ini bagian dari penawaran obligasi pada 2017 sebesar Rp 3 triliun.

“Dengan penerbitan obligasi ini bisa menekan bunga perusahaan ke depannya. Karena suku bunganya antara sembilan hingga 9,5 persen,” ujar Sigit.

Tidak hanya itu, Sigit mengungkapkan kondisi pasar di Jawa Timur sebagai salah satu basis penjualan Semen Indonesia juga mengalami penurunan.

Penurunan itu untuk Januari hingga April 2019. Penurunan penjualan Semen Indonesia lebih besar dibandingkan penurunan penjualan secara umum.

“Secara umum penjualan  turun 6,3 persen tapi kita turun 9,4 persen menjadi sekitar 2,1 juta ton,” tukas Sigit.

Penurunan penjualan itu kata Sigit wajar terjadi. Karena di awal-awal tahun penjualan selalu pengalami apalagi di 2019 yang merupakan tahun politik.

“Awal 2019 ada momen-momen khusus, pemilu salah satunya. Banyak pemilik proyek menunggu. Tapi begitu pesta demokrasi selesai, justru  ada momen Ramadan dan lebaran. Jadi perkiraan di semester kedua baru pasar mulai tumbuh dan bergerak,” jelasnya.

Di saat momen sepi ini, diakui Sigit, Semen Indonesia melakukan maintenance terhadap mesin-mesin yang ada di beberapa pabriknya.

Maintenance ini dilakukan agar ketika permintaan pasar sedang ramai, tidak ada kendala pada mesin sehingga bisa berproduksi dengan maksimal.

“Kita sih tetap optimis hingga akhir tahun target kami bisa terpenuhi. Bahkan target pasar bisa tumbuh 4,3 persen bisa dicapai,” tukasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry