H Agus Solachul A'am Wahib. (FT/DUTA.CO)

SURABAYA | duta.co – H Agus Solachul A’am Wahib, cucu KH Wahab Chasbullah (pendiri Nahdlatul Ulama), tidak rela melihat NU dijadikan alat politik dan propaganda liberalisme. Bahtsul masail kata ‘kafir’ di Komisi Maudluiyah pada Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat dinilai kelewat batas.

“Saya melihat ada dua kepentingan besar sedang memperalat NU. Politik dan libralisme. Dua-duanya sedang risau dengan kata kafir. Padahal, sejak pra kemerdekaan, tidak ada yang menyoal. Bahkan kata kafir dipakai umat Islam (warga NU) untuk mengusir penjajah, tanpa melukai lain agama,” tegas Gus A’am Wahib kepada duta.co, Senin (4/3/2019).

Menurut Gus A’am Wahib, sekarang kondisinya sangat ironi. Mengapa? Karena yang mengatakan penyebutan ‘kafir’ merupakan kekerasan teologis, membuat gaduh, menyakiti orang lain, adalah PBNU. Sementara, sampai detik ini, tidak ada orang keberatan dengan kata ‘kafir’. Bahkan tokoh-tokoh non-muslim sendiri mengaku heran.

“Saya tidak habis pikir. Selama ini, non-muslim tidak pernah risau dengan kata-kata itu. Saya melihat ada kekuatan politik yang memperalat NU, sehingga dengan ilmunya yang tinggi semua bisa diotak-atik, termasuk kata ‘kafir’. Orang awam, walaupun sudah bertahun-tahun mondok, tidak akan mampu,” jelas Gus A’am Wahib.

Ditanya soal keterkaiatannya dengan status warga negara, Gus A’am balik bertanya, apakah kata kafir tertulis dalam perundang-undangan (konstitusi) di negeri ini? Apakah kata kafir menggangu umat selain Islam dalam kapasitasnya sebagai warga negara?

“Kita hidup di negara demokrasi, berasaskan Pancasila dan UUD 1945,  bukan negara agama. Tidak ditemukan satu kata pun istilah ‘kafir’ dalam konstitusi kita. Kafir itu merupakan doktrin internal umat Islam. Tokoh Hindu saja paham. Nah, kalau PBNU meributkan kata kafir, ini justru mengesankan umat Islam mau memaksakan Indonesia sebagai negara agama. Dari sini saya yakin ada agenda politik besar,” tambahnya.

Masih menurut Gus A’am, kalau mau berpolitik, jangan menggunakan NU. “Silakan bahtsul masail di pondok pribadi, putuskan non-muslim bukan kafir. Tidak masalah. Jangan gunakan forum NU, Munas Alim Ulama NU. Saya tidak rela,” tambahnya.

Putra KH Wahib Wahab (Menteri Agama RI ke-8) ini, mengaku prihatin karena NU sekarang selain dalam genggaman politisi, juga dalam kepungan kaum liberal.

“Keduanya sekarang satu tujuan, bagaimana merebut kekuasaan. Targetnya, umat Islam tidak lagi mempersoalkan ketika ada tokoh non-muslim menjadi presiden atau wakil presiden, atau masuknya warga asing (non-muslim) jangan sampai dipersoalkan secara agama. Justru inilah sesungguhnya politisasi agama,” tambahnya. Waallahu’alam. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.