SURABAYA | duta.co – Diam-diam ribuan hufadz Jawa Timur berdoa untuk kemenangan Prabowo-Sandi. Meski tanpa dihadiri Paslon nomor urut 02, mereka ikhlas menggelar Khotmil Quran dan doa bersama demi kemaslahatan umat, Selasa (5/2/2019) di Graha Astranawa, Surabaya.

“Hari ini kami bersama ratusan (perwakilan) hufadz dari berbagai daerah. Mohon maaf, kami hanya bisa membantu doa, memohon kepada Allah swt agar pasangan Prabowo-Sandi diberi kekuatan menata Indonesia yang lebih baik. Ribuan saudara kami (para hufadz) di Jawa Timur siap berjuang demi kemaslahatan umat,” jelas Syafi’i Ghiram kepada duta.co.

Syafi’i Ghiram (kanan) dan para hufadz (ft/ist)

Para hufadz ini datang dari berbagai organisasi, termasuk ada yang dari anggota Jam’iyyatul Qurra wal Hufadz (Jamqur)  Nahdlatul Ulama (NU). Mereka memahami, bahwa, NU secara organisasi harus netral, sesuai dengan khitthahnya. Warga NU bebas menentukan siapa yang dinilai layak memimpin negeri ini.

“Warga NU tidak ada keharusan untuk memilih salah satu calon. Pertimbangannya diserahkan kepada pribadi-pribadi. Untuk Capres-Cawapres kami menilai pasangan nomor 02 (Prabowo-Sandi) memiliki komitmen konkret untuk rakyat kecil. Kita mohon kepada Allah swt semoga Pilpres 2019 sukses dengan kemenangan Prabowo-Sandi,” jelas salah seorang anggota Jamqur NU yang datang secara pribadi dan enggan disebut namanya ini.

Ditanya tentang posisi Kiai Ma’ruf Amin yang menjadi Cawapres Jokowi, lelaki asal Tulungagung ini, mengatakan, tidak masalah. “Saya kira itu urusan pribadi Kiai Ma’ruf, bukan urusan NU. Warga NU bebas memilih dan menentukan siapa yang layak memimpin negeri ini,” jelasnya.

Ada yang menyebut tidak memilih Kiai Ma’ruf sama dengan menginjak-injak kepala NU? “Tidak. Tidak ada yang menginjak-injak kepala NU. Dulu, ketika Kiai Hasyim Muzadi dan Gus Solah mencalonkan diri sebagai Cawapres, juga banyak tokoh-tokoh NU yang tidak mendukungnya. Sama, tidak ada yang menginjak-injak kepala NU. Warga NU tetap rukun, guyub. Soal pilihan presiden, bebas,” tegasnya.

Ditambahkan, mengapa dalam Pilpres 2019, pilihan jatuh ke 02? Ini lantaran suara mayoritas rakyat kecil butuh perubahan. Mereka sudah lelah hidup serba sulit. “Saya kira semua tahu itu, dan kami bersama-sama wong cilik. Kami hanya bisa berdoa, semoga doa ini mendapat ridho-Nya, ridho Allah swt.” jelasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.