H Tjetjep Muhammad Yasin (kanan).

SURABAYA | duta.co – Ketua Harian Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah (PPKN), H Tjetjep Muhammad Yasin SH, MH menegaskan, bahwa, kelakuan Jozeph Paul Zhang, mesti dia mengaku sebagai Ps (pastor) atau pendeta, jelas tidak mewakili umat Kristiani, apalagi agama Kristen.

Meski dia bergelar Mth (Master of Theology), hinaannya terhadap Islam, jelas tidak pernah diajarkan oleh agama Kristen. Dia juga bukan satu-satunya orang Kristien yang radikal, masih terlalu banyak orang seperti dia.

“Tetapi, umat Islam harus paham, tidak terprovokasi. Karena semua itu kelakuan pribadi dia. Tidak ada ajaran agama Kristen seperti itu. Sama dalam Islam, juga demikian,” jelas Gus Yasin, pangilan akrab H Tjetjep Muhammad Yasin kepada duta.co, Senin (19/4/21).

Gus Yasin juga mendukung pernyataan Ketua PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia), Gomar Gultom, bahwa, Jozeph Paul Zhang diragukan ke-Pendeta-annya. “Masalahnya adalah sejauh mana polisi serius menangani ini. Jangan sampai ada kesan, kalau umat Islam dikejar-kejar, sementara non-muslim dibiarkan. Karena ini masalah pribadi, bukan agama yang salah,” tegasnya.

Masih menurut Gus Yasin, radikalisme ini tumbuh bisa jadi akibat dari penafsiran toleransi yang kebablasan dari tokoh-tokoh agama, termasuk tokoh Islam yang belakangan sok merasa paling toleransi. “Sekarang ini ada stigma yang  lurus menjalankan akidah, dicap radikal. Akibatnya muncul orang seperti Paul Zhang,” terangnya.

Lebih parah lagi, tambah Gus Yasin, umat Islam yang mendakwahkan akidah, juga dicap radikal, bahkan disebut berpotensi melakukan dan menciptakan pelaku kejahatan, teroris. “Ngawur kan! Dari mana tuduhan itu? Bukankah Islam mengajarkan rahmatan lil alamin. Apa kalau tidak sepaham, pasti radikal. Tidak mendukung pemerintah, radikal. Inilah stigma bahaya yang dimanfaatkan kelompok lain,” lanjutnya.

Gus Yasin juga menyoroti lembeknya hukum menghadapi non-muslim radikal. Selama ini, stigma radikal hanya disematkan kepada umat Islam. “Sekarang Allah swt tunjukkan di depan mata kita, tuh Jozeph Paul Zhang dan kawan-kawannya. Sudah lama dia provokasi umat Islam, termasuk soal isu PKI. Cuma muslim tidak terpancing, sayangnya aparat tidak kunjung bergerak.  Sekarang dia tantang polisi, kita tunggu, sejauh mana keseriusan hukum menangani dia,” ujarnya.

Lembeknya aparat penegak hukum menangani non-muslim radikal, menurut alumni PP Tebuireng, bisa jadi karena Ormas terbesar Islam di Indonesia, khususnya NU, terlihat berjalan ‘miring ke kiri’, Tidak ‘berdiri tegak’. Sibuk mengerek jargon toleransi, sehingga lupa kalau Islam tak henti-hentinya dihinakan. “Yang kita saksikan, kalau soal radikal selalu umat Islam. Padahal, non-muslim sendiri ada yang tak kalah radikal,” jelasnya.

“Saya berharap kasus Paul Zhang ini membuka mata para penuduh, bahwa radikal dan teroris tidak berhubungan dengan agama Islam. Islam itu rahmatan lil alamin. Akidah Islam itu cinta damai. Sama, semua agama juga demikian,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry