“Beredar kabar di internal “Indomie telor”, Jokowi menyiapkan partai TBK berikut produk yang ditawarkan. Partai ini bisa jadi metamorfosis dari Projo-nya Budi Arie. Produk yang rencananya ditawarkan ke publik tersebut adalah “Gibran-Aminudin MaruF (GAM-F).”

Oleh M Sholeh Basyari*

DALAM podcast @Akbar Faisal Uncensored,  KH  Said Aqil Siradj (SAS), mengungkit kembali dinamika Muktamar-35 di Lampung. Sejatinya tema utama podcast tersebut terkait polemik nasab Ba’alawi. Tetapi, Kia SAS menyelipkan unek-unek dirinya terkait hasil Muktamar-35 NU.

Menurut Kia SAS, kekalahan (dirinya) itu akibat dari cawe-cawe Presiden Jokowi. “Walhasil Pak Jokowi tidak senang kalau (saya) terpilih lagi. Maka di Lampung itu semua diatur sehingga saya harus kalah. Saya tidak sebesar Gus Dur. Di Muktamar Cipasung (Gus Dur) juga digitukan oleh Pak Harto. Tetapi, Gus Dur kuat, dan menang. Saya tidak sehebat Gus Dur,” jelas Kiai SAS.

Apa yang disampaikan Kiai SAS ini, bisa saja didorong oleh sejumlah situasi kontemporer berikut. Misalnya, Prabowo yang tak kunjung selesai menata bidak, menguatnya posisi Aminudin Ma’ruf juga SAS yang belum “mendapat tempat” semenjak lengser dari Kramat Raya akhir 2022.

Bidak Prabowo

Kita tahu, serangkaian program unggulan telah digeber Prabowo. Program-program tersebut meliputi: Makan Bergizi Gratis (MBG), check kesehatan gratis, maupun penghapusan utang UMKM. Secara lebih rinci, dalam kuartal pertama tahun ini kebijakan-kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi, bisa ditrack. Mulai dari kebijakan kenaikan UMP 2024, optimalisasi penyaluran Bansos di bulan Februari dan Maret 2025, pencairan THR bagi ASN dan swasta di bulan Maret 2025.

Selanjutnya, stimulus pada bulan Ramadan yang mencakup diskon harga tiket pesawat, diskon tarif tol, program diskon belanja, program pariwisata mudik lebaran, (dan) stabilitas harga pangan juga digeber.

Langkah lebih sistemik dan programatik juga diambil. Pemerintah menyiapkan kebijakan strategis dalam hal penyiapan paket stimulus ekonomi, serta optimalisasi program makan bergizi gratis (MBG), penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan realisasi Panen Padi.

Nah, instruksi Presiden Prabowo, “Paket stimulus ekonomi (seperti) diskon tarif listrik, PPN DTP pembelian properti dan otomotif, PPnBM DTP otomotif electronic vehicle (EV) dan hibrida, subsidi pajak DTP motor listrik, PPh DTP sektor padat karya, optimalisasi program makan bergizi gratis, optimalisasi penyaluran KUR, panen padi terealisasi secara optimal”.

Selain kebijakan jangka pendek, Presiden Prabowo juga menyoroti upaya transformasi ekonomi melalui beberapa kebijakan pendorong daya saing, seperti program makan bergizi gratis, program ketahanan pangan dan energi, dan optimalisasi pengelolaan BUMN melalui Danantara.

“Optimalisasi pengolahan BUMN kita melalui konsolidasi ke dalam suatu dana investasi nasional yang akan kita launching tanggal 24 Februari yang akan datang yaitu Danantara. Danantara adalah konsolidasi semua kekuatan ekonomi kita yang ada di pengelolaan BUMN itu nanti akan dikelola dan kita beri nama Danantara (Daya Anagata Nusantara),” tambah Prabowo.

Dengan serangkaian program populis itu, idealnya Prabowo mereguk konfidensi dan popularitas membuncah. Tetapi apa lacur? Pasar dan tensi politik seakan “membalas” dengan air tuba. Pasar saham, bursa efek maupun bursa berjangka  di bursa efek berjalan fluktuatif cenderung ke arah negatif. Kurs valas terutama dolar melambung.

Pada sektor riil, penutupun Sritex, menyempitnya kesempatan kerja baik oleh desakan e-commerce maupun beralihnya pasar offline ke online, sedikit berimbas pada konfidensi jajaran tim ekonomi kabinet merah putih. Pertarungan birokrat melawan konglomerat, korporasi melawan perusahaan plat merah, bisa jadi menjadi musabab belum tuntasnya Prabowo menata bidak di lapaknya.

Dengan situasi lumayan berat seperti ini, presiden  Prabowo yang punya kedekatan khusus dengan SAS tampaknya, belum fokus memberi peran baru yang cocok kepada Ketua Umum PBNU ke-10 tersebut.

Faktor Aminudin Maruf

Beredar kabar di internal “Indomie telor”, Jokowi menyiapkan partai TBK berikut produk yang ditawarkan. Partai ini bisa jadi metamorfosis dari Projo-nya Budi Arie. Produk yang rencananya ditawarkan ke publik tersebut adalah “Gibran-Aminudin MaruF (GAM-F).

Kabarnya Jokowi berada dalam konfidensi tinggi bahwa produk ini bisa memenangkan pertarungan pasar. Lantas dimana hubungan GAM-F dengan SAS?

Sebagai tandem utama Gibran, tugas AMF nyaris seperti film tahun ’96: mission impossible. Pada misi GAM-F ini, AMF dibebani mandat plus otoritas menata dan memaksa infrastruktur dan ekosistem politik kaum nahdliyin. AMF boleh menyusun line up baru, baik terkait Kramat Raya dan lebih-lebih Raden Saleh.

Bahkan jika terpaksa, kabarnya AMF juga dibekali dan dibackup organ (gedung) merah putih  hingga partai coklat dalam mengemban misi besar ini. AMF secara ideal digadang-gadang sebagai melting point (secara berurutan) bagi tokoh paling senior SAS, CI, GI NW hingga JA.

Termasuk bagian dari menata ekosistem, yang menjadi tugas AMF  adalah “menempatkan” CI dan NW sebagai Ketum n Sekjen PBNU 2027. Dengan konstalasi seperti ini, AMF seakan memotong satu generasi NU persis layer di atasnya. Maka faktor SAS  dalam ekosistem ini, bisa saja “dikorbankan”.

Penutup

Analisis di atas seratus persen berbasis dan kelasnya adalah  “laporan indomie telor”. Dinamika, friksi serta realitas ke depan bisa sejalan, bisa juga berlawanan dengan analisis ini. Layak menjadi catatan di sini, bahwa “penyatuan” langkah kepolitikan NU kontemporer, “sengaja” dimandatkan kepada ⁶AMF, bisa jadi karena sulitnya kompromi antar elit PKB dan NU, bahkan sesama elit PBNU. Wallahu a’lam.

*Dr M Sholeh Basyari adalah pengampu “aktifis ngaji Hikam”, dosen Pascasarjana Insuri Ponorogo, Direktur Ekskutif CSIIS Jakarta.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry