PENANGANAN : Bupati Tuban, Fathul Huda, Kapolres Tuban, AKBP Ruruh Wicaksono, Ketua DPRD Tuban, Miyadi, Komandan Kodim 0811 beserta tokoh masyarakat dan ulama melihat secara langsung simulasi penanganan jenazah pasien terkonfirmasi Covid-19 (duta.co/syaiful adam)

SURABAYA | duta.co – Kekhawatiran mantan Wapres RI HM Jusuf Kalla terkait sebaran covid-19 di Provinsi Jatim yang begitu tinggi, bahkan diprediksi bisa mengalahkan DKI Jakarta dalam jumlah kasus positif covid-19 terbukti Jumat (26/6/2020).

Pasalnya, selama bulan Juni ini penambahan kasus baru positif di Jatim hampir selalu memimpin secara nasional akibat massifnya testing yang dilakukan.

Bahkan Sabtu 27/6/2020), tercatat merupakan rekor nasional yang ke-33 dicatat Provinsi Jatim untuk penambahan kasus baru terkonfirmasi positif sebanyak 363 kasus atau mengungguli provins-provinsi lain di Indonesia, sehingga secara total di Jatim terdapat sebanyak 10.886 kasus positif covid-19.

Jumlah kumulatif tersebut menempatkan Jatim menjadi peringkat pertama jumlah kasus positif covid-19 terbanyak di Indonesia. Mengingat, provinsi DKI Jakarta yang selama ini dikenal memimpin  jumlah kasus positif covid-19 secara nasional hanya tercatat  sebanyak 10.796 kasus positif covid-19.

Realitas pahit Provinsi Jatim juga sudah diprediksi jauh hari oleh tim Satgas percepatan penanganan covid-19 Jatim.  Bahkan saat Jatim menembus angka 10.092 kasus positif covid-19 pada Rabu (23/6/2020) lalu, koordinasi dengan pemerintah pusat khususnya BNPB juga semakin intensif.

Puncaknya, pada Kamis (25/6/2020) kemarin, Presiden RI Joko Widodo turun langsung ke Jatim untuk memberikan pengarahan supaya percepatan penanganan covid-19 di Jatim  dikoordinasikan lebih baik sehingga dalam dua pekan ke depan diharapkan bisa landai dan terkendali.

Jika kemarin selisih dengan DKI Jakarta hanya terpaut 55 kasus, hari ini (Jumat, 26/6) Jatim justru telah mengungguli DKI Jakarta dengan selisih 90 kasus positif covid-19. “Penambahan kasus terkonfirmasi positif covid-19 di Jatim hari ini bertambah sebanyak 363 kasus baru, sehingga totalnya menjadi 10.886 kasus,” kata ketua gugus kuratif Satgas percepatan penanganan covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi di Surabaya, Jumat (26/6/2020).

Dari jumlah tersebut, kata Joni terdapat sebanyak 6.307 orang atau setara 57,94% yang masih dirawat. Kemudian sebanyak 3.619 orang atau setara 33,24% yang berhasil sembuh dan sebanyak 815 orang atau setara 7,49% yang meninggal dunia.

“Kita bersyukur pasien yang sembuh hari ini bertambah cukup banyak yakni 190 orang. Namun kita juga ikut berduka karena pasien yang meninggal bertambah sebanyak 17 orang,” ungkap Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya ini.

Banyaknya OTG

Daerah yang berkontribusi besar terhadap penambahan kasus baru positif masih didominasi Surabaya Raya. Rinciannya, Kota Surabaya 187, Sidoarjo 39, Kab Pasuruan 21, Gresik 17, Jombang 15, Pamekasan 15, Kab Malang 8, Kab Mojokerto 7, Bojonegoro 6, Sampang 6, Sumenep 5, Kota Probolingggo 5, Tulungagung 4, Kota Malang 4, Jember 4.

Kemudian masing-masing 3 kasus baru yakni Lamongan, Nganjuk dan Ngawi 3. Lalu masing-masing 2 kasus adalah Kab Kediri, Bangkalan, Kab Blitar dan Kota Madiun. Selanjutnya masing-masing 1 kasus yaitu Banyuwangi, Kota Pasuruan, dan Kab Probolinggo.

Sedangkan kabupaten/kota di Jatim yang berkontribusi pada kenaikan pasien yang terkonversi segatif atau sembuh, kata Joni adalah Kota Surabaya 100 orang, Tulungagung 43 orang, Sidoarjo 10 orang, Bangkalan 10 orang, Jember 6 orang, Bojonegoro 4 orang, Ponorogo 4 orang, Kota Probolinggo 3 orang, Kab Madiun 2 orang, Banyuwangi 2 orang, dan masing-masing 1 orang  yaitu Kab Pasuruan, Lamongan, Kota Malang, dan Kota Kediri.

Sementara untuk kasus PDP, lanjut Joni bertambah 171 kasus baru sehingga akumulasinya menjadi 10.137 kasus di Jatim.  “Dari julah tersebut, sebanyak 4.374 orang masih diawasi, lalu 5.554 orang sudah tak diawasi dan sebanyak 1.209 orang yang meninggal dunia,” jelasnya.

Berikutnya untuk kasus ODP bertambah sebanyak 1.264 kasus baru sehingga jumlah totalnya menjadi 29.166 kasus di Jatim. “Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.116 orang masih dipantau, kemudian 23.885 orang sudah tak dipantau dan 165 orang meninggal dunia,” ungkap Joni.

Ia juga mewanti-wanti supaya masyarakat tetap waspada dan meningkatkan kedisplinan mematuhi protokol kesehatan. Alasannya, penambahan kasus OTG meningkat drastis hingga 128.148 kasus baru, sehingga akumulasinya menjadi sebanyak 161.636 kasus di seluruh Jatim.

“Potensi OTG naik status menjadi terkonfirmasi positif covid-19 juga naik menjadi  41%. Padahal OTG ini kelihatan sehat-sehat saja tapi sudah bisa menularkan covid-19. Makanya disiplin patuhi protokol kesehatan dan terapkan pola hidup bersih dan sehat agar kita tidak tertular covid-19,” pungkas dr Joni Wahyuhadi.

Menuju Tuntas

Jawa Timur memang tidak mau setengah-setengah menangani kasus ini. Tidak heran kalau kemudian Jatim jadi hotspot baru penyebaran Covid-19 seiring. Ini lantaran Jatim melakukan penyisirian secara tuntas.

“Sebetulnya ini fenomena sudah 10 hari terakhir ketika kami mendapatkan support reagen yang cukup. Kami mendapatkan support 49.200 reagen,” kata Khofifah suatu ketika.

Dengan adanya dukungan peralatan tersebut, dia menegaskan bahwa tes cepat molekuler (TCM) digeber di sejumlah titik secara bersamaan. Hal inilah yang pada akhirnya berkontribusi pada banyaknya kasus positif di Jatim.

“Tracing yang dilakukan masif, rapid test yang dilakukan masif, dan juga pcr test yang dilakukan secara lebih progresif karena mesinnya sudah siap, maka kita akhirnya menemukan angka-angka terkonfirmasi positif cukup signifikan,” tegas mantan Menteri Sosial era Kabinet Kerja ini. (ud/cnbc)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry