
“Rivalitas Saudi dan Iran memang tajam. Keduanya bagaikan minyak dan air yang tidak bisa larut meski keduanya sesama benda cair (sesama muslim).”
Oleh Achmad Murtafi Haris (dosen UIN Sunan Ampel Surabaya)
SEORANG teman berpapasan dan bertanya, “mana tulisannya tentang Iran, saya pingin lihat tulisan yang pro Iran”. Menurut hemat penulis, di Indonesia secara umum lebih banyak yang membela Iran daripada Amerika-Israel. Mulai dari mantan pejabat pemerintah seperti mantan dubes RI untuk Iran hingga akademisi kampus, semuanya membela Iran. Yang secara aktif membela Israel hanya segelintir orang seperti Monique Rijkers, aktivis yang berdarah Yahudi yang mengusulkan agar pengungsi Gaza ditampung di Indonesia dan dijadikan provinsi ke-35.
Hal ini lantaran besarnya kecintaan warga Indonesia terhadap Gaza. Selain Monique, yang belakangan heboh membela Israel adalah Abu Jandah yang sampai dikeluarkan oleh Aiman dalam diskusi di kanal televisi. Keberadaan Monique setidaknya mewakili kelompok silent (seperti kaum Kristiani) yang pro-Israel dalam konflik Palestina. Sikap diam kelompok pro-Israel di Indonesia bisa dimaklumi karena besarnya dukungan warga Indonesia terhadap Palestina. Hanya di Papua barangkali yang berani terang-terangan membela Israel dan mengibarkan bendera bintang Daud di banyak tempat di Indonesia.
Dalam sebuah acara penguatan moderasi beragama yang diadakan oleh lembaga Kristen, ketika tanpa sengaja perbincangan mengarah ke konflik Israel-Palestina, tampak bahwa para peserta yang semuanya Kristen, bersikap pro Israel. Penulis yang dalam paparan tampak pro Palestina pun mendapat sanggahan dari salah satu peserta. Penulis pun menjelaskan bahwa dalam Palestina terdapat 2 faksi yang pro perundingan yaitu Fatah yang mendominasi wilayah Tepi Barat dan faksi yang kontra perundingan dan memilih jalan perang yaitu Hamas yang mendominasi Gaza. Maka dalam perang kali ini yang muncul ke permukaan bukan nama Palestina tapi Gaza dan Hamas vs. Israel. Peserta pun mulai faham tentang kompleksitas konflik Palestina dan faham adanya blok-blok dan jaringan masing-masing berikut negara-negara Arab yang terbelah dalam sikap melawan Israel.
Keterbelahan ini pula yang membuat dunia Islam mayoritas diam dan tidak terseret dalam perang melawan Israel meskipun mereka sesama muslim. Yaitu bahwa mayoritas negara Arab berada pada kelompok perundingan. Sementara Hamas yang kontra, hanya didukung Iran dan jaringan Syi’ah.
Secara kemanusiaan semua negara muslim membantu warga Gaza, tapi untuk ikut terlibat perang, nanti dulu. Uni Emirat Arab disebut penyumbang tertinggi untuk Gaza, yaitu 1,6 milyar USD, disusul Arab Saudi dan Qatar 1 milyar USD, sementara Indonesia sekitar 12 juta USD. Sumbangan Indonesia akan jauh bertambah jika 8000 tentara dikerahkan melalui Board of Peace untuk menjaga gencatan senjata di Gaza. Yang menarik sumbangan kemanusiaan dari dunia Islam untuk Gaza masih jauh jika dibandingkan sumbangan Amerika yang mencapai 10 milyar USD pada 2025. Amerika yang pembela utama Israel ternyata juga penyumbang kemanusiaan terbesar untuk Gaza. Dunia secara umum terketuk hatinya untuk ikut meringankan beban warga Gaza dan tidak membiarkan mereka menjadi korban kebringasan perang dan serangan Israel yang justru banyak memangsa warga sipil.
Kini, setelah perang berubah menjadi Amerika-Israel vs. Iran, negara teluk yang menjadi donatur terbesar untuk Gaza, kini menjadi musuh Iran karena kawasannya digunakan sebagai pangkalan militer Amerika. Dalam diskusi Presiden Prabowo dengan para jurnalis dan pengamat baru-baru ini, presiden menyebut kompleksitas konflik karena sesama negara muslim berhadapan, yaitu antara Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab vs. Iran. Ketika Iran hanya merudal tempat pangkalan Amerika berada, mereka tidak bereaksi. Tapi, setelah Iran merudal kilang minyak ARAMCO, kerajaan Saudi mulai bereaksi bahwa dirinya akan tidak tinggal diam jika terjadi lagi.
Iran tidak punya banyak pilihan membalas. Ketika kilang minyaknya dibom Amerika, maka pelampiasannya adalah ke kilang minyak sekutu Amerika. Sebab terlalu jauh baginya untuk merudal kilang minyak Amerika. ARAMCO yang semula dimiliki oleh Saudi dan Amerika dianggap mewakili kilang minyak Amerika dan pantas diserang. Sementara dewan Keamanan PBB mengecam serangan Iran ke negara tetangga dan menuntut kedua pihak Amerika-Israel dan Iran untuk menghentikan eskalasi serangan.
Rivalitas Saudi dan Iran memang tajam. Keduanya bagaikan minyak dan air yang tidak bisa larut meski keduanya sesama benda cair (sesama muslim). Dalam banyak hal mereka bertolak belakang. Dalam aliran agama satu sama lain berhadapan. Sebagai pentolan puritan, Saudi memandang Syi’ah sebagai ahli bid’ah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang asli. Dalam sejarah politik, Saudi berdiri atas dukungan Amerika dan Inggris agar wilayahnya lepas dari kekuasaan Turki Ottoman. Berdirinya negara Saudi mengawali berdirinya negara yang dahulu di bawah Ottoman. Ini otomatis meneguhkan bubarnya kekhalifahan Turki. Pada Perjanjian Darin 1915, Inggris mengakui kekuasaan keluarga Sa’ud atas Nejed, menggaji dan mengembangkan militernya. Dukungan berlanjut ke pengakuan Dinasti Sa’ud sebagai penguasa Hejaz (perjanjian Jeddah 1927) yang berlanjut dengan pendirian Kerajaan Arab Saudi pada 1932. Semenjak ditemukan sumur minyak pada 1938, induk semang beralih ke Amerika Serikat dengan berdirinya Arabian-American Oil Company (ARAMCO) yang sekarang menjadi milik Saudi sepenuhnya dan berubah nama menjadi Saudi ARAMCO.
Sebaliknya, Republik Islam Iran justru berdiri setelah mengusir Amerika dari Iran yang merupakan penopang rezim Shah Reza Pahlevi yang ditumbangkan Ayatullah Ruhullah Chumaini. Dukungan Amerika atas Reza Pahlavi adalah nyata semenjak penjatuhan rezim sebelumnya Mohammad Mosadegh (1953). Pahlevi pun menjadi mitra utama Amerika di kawasan dengan imbalan minyak yang seperti halnya Arab Saudi, dikelola oleh Amerika. Negara Paman Sam membangun militer Iran dan instalasi nuklir yang di kemudian hari, setelah revolusi Islam Iran (1979), diteruskan oleh rezim Mullah dan menjadi ancaman bagi Amerika dan Israel sendiri.
Jika rezim ayatullah berdiri dengan mengusir dominasi Amerika di Iran, kebalikannya rezim Sa’ud berkuasa dengan dukungan Amerika. Jika rezim ayatullah berdiri dengan mendudukkan doktrin Syi’ah dasar negara, rezim Saudi justru mendudukkan faham wahabi yang anti Syi’ah dan tasawwuf sebagai ideologinya. Dua perkara fundamental inilah yang membuat keduanya tidak bisa larut laksana minyak dan air.
Lebih lanjut dukungan Amerika terhadap Saudi menjadikan Saudi makmur dan ekspansi Wahabisme dengan kekuatan dananya menjalar ke semua dunia Islam. Munculnya gerakan Islam garis keras yang menjadi masalah keamanan di banyak negara muslim tidak lepas dari pengaruh ekspansi Wahabisme yang berasal Saudi Arabia. Dari sinilah Iran sangat benci dengan Amerika karena dianggap pangkal permasalahan yang membuat Arab Saudi menjadi kuat dan faham wahabi menyebar. Pemimpin revolusi Iran Ayatullah Ruhullah Chumaini yang sangat diagung-agungkan oleh kaum Syi’ah Iran dan Syi’ah dunia, tidak hanya dianggap sesat, dia bahkan dianggap Yahudi dan tanda kebesaran syetan (ayatusyaitan) bukan ayatullah. Inilah sebab mengapa setiap setelah shalat kaum Syi’ah Iran meneriakkan yel-yel: “mati Amerika,mati Israel” karena dianggap ada di balik kisruh umat Islam di belahan dunia.
Dukungan Amerika terhadap Israel juga membuat krisis Palestina tidak kunjung berakhir. Israel yang menjadi sangat kuat membuatnya tidak bergeming terhadap pelbagai tuntutan dunia untuk berdirinya negara Palestina. Seandainya Amerika tidak ada di belakang Israel, Israel tentu tidak sepede ini untuk mengabaikan desakan dunia. Yel-yel “mati Amerika” ini akhirnya menjadi alasan Trump menyerang Iran. 47 tahun Iran tidak henti-hentinya meneriakkan Amerika mati, kini saatnya kamu saya bom biar mati, gumam Trump dalam hati. (*)





































