Tampak dari kanan (Presiden Jokowi, mantan Presiden SBY dan Prabowo Subianto) FT/rmol
“Prabowo jelas TIDAK BISA solat, sama, seperti saya. Solatnya penuh lalai (ghoflah). Prabowo dan saya butuh terus belajar agar BISA SOLAT. Walau saya yakin, tidak akan BISA SOLAT, sebagaimana solat Kanjeng Nabi.”

Oleh: Abasovie (Surat Pembaca)

KATA UAS (Ustad Abdul Somad): Cari orang BODOH sekarang, sulit. Semua orang, PINTAR. Lihat panggung ILC TvOne, di sana tidak ada orang bodoh. Persis dunia sosmed kita, pintar semua.

Tidak jelas! Siapa menasehati siapa? Siapa menggurui siapa? Orang pintar sibuk cerita untuk dirinya sendiri. Persis, surat pembaca ini, untuk diri sendiri.

Di dunia medsos, mudah sekali kita memuji, mencaci orang. Kita puji habis Jokowi, kita caci maki Prabowo. Atau sebaliknya. Bahkan hal-hal yang sifatnya privasi, urusan solat, misalnya.

Prabowo sendiri sangat tidak berkenan, jika solatnya dipamerkan. Karena itu urusan pribadi dengan Sang Kholiq, Allah swt.

Kalau sekedar memuji solat Jokowi bagus, tertib, runtut, iqomat-nya baik, tidak masalah. Tetapi menyebut Prabowo TIBA BISA solat, ini berbahaya. Sama buruknya dengan menyoraki bacaan al-fatekah Jokowi saat pembukaan MTQ.

Simak kalimat bijak KH Saerozi Lamongan. Kata beliau, memiliki perasaan lebih baik dari orang lain, dijamin tidak akan bisa masuk surga Allah swt.

Kiai Saerozi menyuguhkan kalimat simpel: Kalau ada orang mengatakan ‘Saya orang bodoh, tetapi tidak bodoh-bodoh amat’. Kalimat ini sudah menunjukkan kesombongan, karena masih merasa ada orang lain yang lebih bodoh darinya. Subhanallah!

Prabowo TIDAK BISA Solat? Kalimat ini menyebar luas di grup WA. Tumpang tindih komentarnya. Solat seperti apa? Solat seperti siapa? Kalau sekedar ruku’, sujud, i’tidal, masak Prabowo tidak bisa. Tapi toh tanpa gerakan itu, asal ada alasan syar’i, sah-sah saja.

Barangkali solat seperti siapa? Jika ini, nanti dulu. Kalau seperti solat kanjeng Nabi Muhammad saw, siapa bisa? Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah saja, gagal. Jangankan seperti Sayyidina Ali, untuk bisa ‘berdialog’ dengan Gusti Allah swt dalam satu rakaat saja, impossibel, susahnya bukan main.

Dari sini, Prabowo jelas TIDAK BISA solat, sama, seperti saya. Solatnya penuh lalai (ghoflah). Pak Prabowo dan saya, butuh terus berlatih agar BISA SOLAT. Walau saya yakin, tidak akan BISA SOLAT, sebagaimana solat Kanjeng Nabi.

Astaghfirullah al-adzim! Jalan keluarnya: Perbanyak istighfar, perkuat solat berjamaah. Karena kita, sesungguhnya, kita TIDAK BISA solat. (*)

*Surat pembaca duta.co,10 Okt 2018, dari Masjid Al-Ikhlas, Graha Permata, Krian.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.