SURABAYA | duta.co – Sampai detik ini, tidak semua orang paham tentang sosok KH Miftachul Akhyar yang kembali dipercaya memimpin jajaran tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) setelah terpilih sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031. Sekarang, rekam jejaknya banyak diburu orang.

“Saya yakin, masih banyak yang tersembunyi dari sosok KH Mif. Mengapa Allah SWT menunjuk kembali beliau sebagai Rais Aam PBNU. Ini bukan sebuah kebetulan, Apalagi terpilih Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz) sebagai Ketua Umum PBNU. Saya melihat ini skenario Allah SWT. Lihat!  Kurang apa penjegalan terhadap beliau (Kiai Mif),” tegas Drs Abdul Kholiq, warga NU Jombang kepada duta.co, Senin (31/8/26).

Menurutnya, salah seorang pengusaha dari Sidoarjo, terus telepon dirinya, begitu viral di media sosial soal pengadaan lift di kompleks pondok pesantren Miftachus Sunnah yang diasuh Kiai Mif. “Empat kali telepon tidak saya angkat. Saya begaya sibuk. Baru kelima kita bicara. Ternyata dia membukanya dengan kalimat ‘Saya termasuk yang mendorong pangadaan lift di sana’. Mendengar itu, saya terperanjat, apa maksudnya?,” tegas Cak Kholiq panggilan akrabnya.

Ini, jelas pengusaha tersebut, sangat penting demi NU. Bukan untuk Kiai Mif. “Tamunya semakin banyak, jamaahnya juga semakin membludak. Sementara cari parkir saja susah, harus mutar-mutar dulu, menunggu tamu yang lain pergi. Ini sering saya alami. Ironisnya tamunya tidak mengenal waktu, tengah malam pun datang,” demikian Cak Kholiq menirukannya.

Jadi? “Saya termasuk ikut bertanggungjawab, mengapa fasilitas itu harus ada. Adalah tugas warga NU untuk menempatkannya posisi beliau. Kalau tidak kita, siapa? Soal rumah Rais Aam tetap di belakang. Masak kita tega beliau pakai Toyota Kijang butut? Itu saja pertimbangannya,” jelas Cak Kholiq mengutip lelaki yang enggan disebut namanya ini.

Pun soal tantangan mengarang kitab. “Hebatnya beliau tidak terusik. Padahal sosok Kiai Mif tidak bisa lepas dari kitab kuning. Pun soal sanad ilmu, jelas. Kiai Mif adalah putra almaghfurlah KH Abdul Ghoni pengasuh Ponpes Tahsinul Akhlaq, Rangkah, Surabaya.,” pungkas Drs Abdul Kholiq, sambil meyakini bahwa Allah Swt yang menunjuknya sebagai Rais Aam PBNU.

KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin jajaran tertinggi PBNU setelah terpilih sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031. Keputusan tersebut diambil melalui musyawarah sembilan kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam majelis ahlul halli wal aqdi (AHWA).

Pemilihan Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031 berlangsung secara tertutup di Ndalem Kasepuhan atau kediaman KH Wahab Hasbullah. Lalu digelar kembali pada Minggu (30/8/2026) di lokasi Muktamar ke-35 NU, Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur.

Pengumuman hasil musyawarah disampaikan langsung oleh Anwar Iskandar, salah satu anggota AHWA terpilih, di Gedung Sidang Pleno V, Gedung Serba Guna. “Setelah melakukan musyawarah tertutup, anggota AHWA secara mufakat memutuskan bahwa nama KH Miftachul Akhyar dipilih menjadi rais am PBNU masa khidmah 2026-2031,” kata Kiai Anwar Iskandar di Gedung Sidang Pleno V, Gedung Serba Guna.

Posisi rais am menjadi jabatan tertinggi dalam struktur PBNU. Dengan keputusan tersebut, Miftachul Akhyar melanjutkan kepemimpinannya setelah sebelumnya menjabat sebagai rais am PBNU pada periode 2021-2026.

Asli Pesanten

Melansir laman NU Online, KH Mif lahir di Surabaya pada 1 Januari 1953. Ia berasal dari keluarga kiai NU yang memiliki latar belakang kuat dalam pendidikan pesantren. Ayahnya, KH Abdul Ghoni, merupakan kiai NU yang mengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya. Miftachul Akhyar merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara.

Sang ayah dikenal sebagai kiai yang sangat memuliakan tamu. Lingkungan keluarga tersebut turut menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan dan kehidupan keagamaan Miftachul Akhyar sejak masa muda.

Mengikuti jejak ayahnya, Kiai Mif kemudian menekuni pendidikan agama melalui sejumlah pesantren di Jawa. Genealogi keilmuannya bersandar pada sejumlah ulama dan kiai dari pesantren yang menjadi tempatnya menimba ilmu.

Semasa muda, Mif tercatat pernah belajar di sejumlah pesantren NU. Beberapa di antaranya adalah Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri di Jawa Timur, serta Pondok Pesantren Lasem di Jawa Tengah.

Selain pendidikan pesantren, ia juga mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki di Malang. Pengajian tersebut diikutinya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia. “Te­patnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia,” kata Abdullah Alawi mengutip Ahmad Karomi dari NU Online, Senin (31/8/2026). (din,jin,net)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry