“Membaca Rekam Jejak, Menimbang Tipologi Kepemimpinan, dan Menyongsong Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua.”
Oleh: Abdur Rahman El Syarif *)

MENJELANG Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, ruang publik Nahdliyin kembali dipenuhi berbagai diskusi mengenai masa depan organisasi. Nama-nama tokoh mulai diperbincangkan, rekam jejak kembali dibaca, dan harapan terhadap kepemimpinan masa depan terus mengemuka. Dalam dinamika tersebut, pernyataan H.A. Effendy Choirie atau Gus Choi yang menyebut tiga kader NU, yakni: Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, dan Prof. Dr. Masykuri Abdillah, menarik untuk dicermati.

Terlepas dari konteks penyebutan nama-nama tersebut, terdapat pesan yang lebih penting untuk direnungkan. Gus Choi seolah mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki kekayaan kader yang luar biasa. Organisasi yang memasuki abad keduanya ini tidak kekurangan figur dengan kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, maupun pengabdian kepada bangsa. Karena itu, diskusi tentang tokoh sebaiknya tidak berhenti pada persoalan nama, melainkan menjadi pintu masuk untuk membaca tipologi kepemimpinan yang dimiliki NU.

Muktamar bukan hanya forum memilih pengurus. Dalam tradisi NU, Muktamar merupakan momentum bermusyawarah untuk menentukan arah perjalanan jam’iyah. Oleh sebab itu, pembicaraan mengenai figur akan lebih bermakna apabila diiringi pembacaan terhadap pengalaman, kontribusi, dan karakter kepemimpinan yang mereka representasikan.

Tipologi Kepemimpinan Inklusif

Nama pertama yang disebut adalah Prof. Dr. Nasaruddin Umar. Selama beberapa dekade, beliau dikenal sebagai ulama, akademisi, dan cendekiawan Muslim yang memberikan perhatian besar terhadap kajian Al-Qur’an, tafsir, dan moderasi beragama. Kiprahnya di dunia akademik dan pemerintahan memperlihatkan konsistensi dalam mengembangkan wajah Islam Indonesia yang inklusif, dialogis, dan terbuka terhadap kerja sama lintas agama.

Dalam berbagai forum internasional, Prof. Nasaruddin Umar menjadi salah satu representasi penting Islam Indonesia. Beliau memperlihatkan bagaimana otoritas keilmuan dapat dipadukan dengan kemampuan membangun dialog antarkelompok, baik di tingkat nasional maupun global. Pengalaman tersebut mencerminkan tipologi kepemimpinan yang bertumpu pada pengaruh intelektual dan diplomasi kebudayaan.

Bagi NU, pengalaman seperti ini menunjukkan pentingnya menjaga tradisi keilmuan sekaligus membangun komunikasi dengan dunia internasional. Di tengah meningkatnya tantangan global, kemampuan menghadirkan Islam Indonesia sebagai wajah Islam yang damai menjadi modal yang tidak dapat diabaikan.

Tipologi Kepemimpinan Integratif

Figur kedua adalah Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa. Rekam jejak beliau memperlihatkan perjalanan pengabdian yang membentang dari dunia kemahasiswaan, kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, hingga lembaga-lembaga negara. Sebagai akademisi, beliau aktif mengembangkan pemikiran kebangsaan dan tata kelola pemerintahan. Di sisi lain, beliau tetap berakar pada tradisi pesantren dan kehidupan Nahdlatul Ulama.

Yang menarik, perjalanan tersebut menunjukkan kesinambungan pengabdian yang jarang dijumpai pada seorang tokoh. Hampir setiap fase kehidupannya diisi dengan amanah kepemimpinan dalam organisasi yang berbeda, namun tetap berada dalam satu garis besar: pengabdian kepada umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Pada fase kemahasiswaan, beliau ditempa dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) hingga dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar PMII pada periode 1991–1994. Pada masa kepemimpinannya, PMII menegaskan kembali hubungan interdependensi dengan Nahdlatul Ulama sebagai rumah ideologis dan kultural, sekaligus memperkuat posisi PMII sebagai organisasi kader yang tetap mandiri dalam dinamika gerakan mahasiswa.

Memasuki fase kepemudaan, beliau terus mengembangkan kapasitas kepemimpinan melalui Gerakan Pemuda Ansor dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Keterlibatan di kedua organisasi tersebut memperluas ruang pengabdiannya dalam membangun jejaring kepemudaan, memperkuat semangat kebangsaan, serta mendorong kolaborasi lintas organisasi dan generasi.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, pengabdiannya berlangsung dalam spektrum yang luas. Beliau pernah mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Perekonomian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dengan fokus pada penguatan ekonomi warga dan kemandirian jam’iyah. Selanjutnya, beliau dipercaya memimpin Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) sebagai Ketua Umum pada periode 2012–2021, dengan penekanan pada pengembangan tradisi intelektual, penguatan jejaring akademik, dan kontribusi pemikiran strategis bagi NU dan bangsa. Saat ini, beliau mengemban amanah sebagai Mudir ‘Ali Idarah ‘Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) periode 2025–2030, organisasi tarekat resmi di lingkungan Nahdlatul Ulama yang menaruh perhatian pada pembinaan spiritual, penguatan akhlak, dan pelestarian tradisi tasawuf Ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam ranah kenegaraan, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa mengemban amanah sebagai Anggota DPR RI selama dua periode, yaitu 1999–2004 dan 2004–2009. Dalam periode tersebut, beliau juga dipercaya memimpin Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di DPR RI. Setelah itu, beliau menjabat sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia periode 2009–2014, dengan ruang lingkup tugas pada penguatan akuntabilitas, transparansi, dan tata kelola keuangan negara.

Di samping kiprah akademik, organisasi, dan kenegaraan, kehidupan beliau juga lekat dengan tradisi tasawuf. Sebagai Mursyid Thariqah dan pembimbing spiritual di lingkungan JATMAN, beliau kerap menekankan pentingnya adab, keseimbangan antara dimensi lahir dan batin, serta pengabdian yang berorientasi pada kemaslahatan. Dalam perspektif ini, kepemimpinan dipahami bukan semata sebagai otoritas, melainkan sebagai amanah yang menuntut keikhlasan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral.

Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana dunia pesantren, akademik, organisasi, pemerintahan, dan spiritualitas dapat bertemu dalam satu lintasan pengabdian. Terlepas dari dinamika dan peran yang diemban pada setiap masanya, perjalanan tersebut memberikan gambaran mengenai salah satu corak kepemimpinan yang tumbuh melalui pengalaman lintas bidang dan kesinambungan pengabdian kepada masyarakat, Nahdlatul Ulama, dan bangsa Indonesia.

Bukan berarti model kepemimpinan seperti ini merupakan satu-satunya bentuk yang dibutuhkan. Namun, ia memperlihatkan bahwa kader-kader NU memiliki pengalaman yang sangat beragam dan dapat menjadi modal penting dalam menjawab tantangan zaman.

Tipologi Kepemimpinan Intelektual-Kebangsaan

Nama berikutnya adalah Prof. Dr. Masykuri Abdillah. Selama ini beliau dikenal sebagai akademisi dan pemikir Islam yang memberikan perhatian besar pada hubungan antara Islam, demokrasi, konstitusi, dan kehidupan berbangsa.

Kontribusinya banyak hadir melalui dunia pendidikan tinggi, penelitian, dan pengembangan pemikiran Islam kontemporer. Gagasan-gagasannya membantu memperkuat posisi Islam Indonesia sebagai agama yang mampu berdialog dengan nilai-nilai demokrasi, hak konstitusional warga negara, serta kehidupan masyarakat yang majemuk.

Tipologi kepemimpinan yang tercermin dari perjalanan beliau adalah kepemimpinan berbasis pemikiran. Dalam organisasi yang memiliki jutaan anggota seperti NU, tradisi intelektual tetap menjadi salah satu pilar utama yang menjaga arah gerak organisasi agar tetap berpijak pada ilmu, argumentasi, dan tradisi keilmuan yang kuat.

Kekayaan Kader, Kekuatan Nahdlatul Ulama

Membaca ketiga tokoh tersebut memperlihatkan bahwa Nahdlatul Ulama sesungguhnya memiliki spektrum kepemimpinan yang sangat kaya. Ada figur yang menonjol dalam diplomasi keagamaan dan komunikasi global. Ada yang memadukan pengalaman pesantren, organisasi, pemerintahan, dan spiritualitas. Ada pula yang menguatkan fondasi intelektual dan pemikiran kebangsaan.

Keragaman ini menunjukkan bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada besarnya jumlah anggota, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Sejak didirikan oleh para muassis, NU memang tumbuh sebagai ruang yang mempertemukan ulama, intelektual, birokrat, profesional, akademisi, dan tokoh masyarakat dalam satu ikatan jam’iyah.

Karena itu, diskusi mengenai figur sebaiknya tidak dipahami sebagai upaya mengerucutkan pilihan pada seseorang, melainkan sebagai kesempatan untuk membaca kekayaan pengalaman yang dimiliki para kader terbaik NU.

Kepemimpinan NU Memasuki Abad Kedua

Memasuki abad kedua, tantangan Nahdlatul Ulama semakin kompleks. Transformasi digital, perubahan demografi, penguatan ekonomi umat, pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga dinamika geopolitik global menuntut organisasi terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.

Di tengah perubahan tersebut, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan pembaruan. Tradisi tetap menjadi akar yang memberi identitas, sedangkan pembaruan menjadi ikhtiar agar organisasi tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Mungkin inilah pesan yang dapat dipetik dari diskusi yang berkembang menjelang Muktamar. Bukan semata tentang siapa yang disebut atau siapa yang akan dipilih, tetapi tentang kesadaran bahwa Nahdlatul Ulama memiliki kader-kader dengan pengalaman yang beragam, yang masing-masing telah memberi kontribusi nyata dalam bidang keilmuan, organisasi, pemerintahan, maupun kebangsaan.

Pada akhirnya, Muktamar akan menjadi ruang musyawarah bagi para muktamirin untuk menentukan arah organisasi sesuai mekanisme yang telah diwariskan para muassis. Sementara bagi warga Nahdliyin, diskusi mengenai figur hendaknya menjadi momentum memperkaya cara pandang tentang kepemimpinan. Sebab, yang akan terus diwariskan oleh Nahdlatul Ulama bukan hanya pergantian kepemimpinan, melainkan juga tradisi adab, musyawarah, ilmu, dan pengabdian kepada umat, bangsa, serta kemanusiaan.

Wallahu A’lamu Bi Ash-Shawab

*)Penulis adalah Pemerhati Sosial Keagamaan
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry