Imam Wihdan Zarkasyi, ST MM (Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD kota Kediri) (dok/duta.co)

Oleh : Imam Wihdan Zarkasyi, ST MM
(Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD kota Kediri)

MENCOBA berdiri sejenak di tepi Sungai Brantas.Di mana pun titiknya, di Jembatan Lama yang sudah satu setengah abad lebih berdiri, di taman kota yang ramai sore hari, atau di sudut kecil yang sepi di gedung-gedung kampus yang makin meninggi, lihatlah sungai itu mengalir. Tenang, Tidak terburu-buru. Seperti yang sudah dilakukannya selama ribuan tahun.

Sungai ini pernah menyaksikan hal-hal besar. Hampir seribu tahun lalu, di tepinya lah Dahanapura, Kota Api, berdiri sebagai pusat peradaban yang melahirkan karya sastra terbesar dalam sejarah Jawa Kuno. Mpu Sedah dan Mpu Panuluh menulis Bharatayuddha di lingkungan sungai ini. Raja Jayabaya memadukan kekuasaan dengan kebijaksanaan di kota yang dibelah oleh aliran yang sama.

Aksara Kadiri kuadrat menyebar dari Jawa hingga Sumatera, semuanya bermula dari tepi sungai ini. Lalu sungai itu terus mengalir. Kerajaan runtuh, tapi Brantas tetap ada. Pesantren-pesantren tumbuh di dekatnya. Sekolah-sekolah berdiri. Kampus-kampus bermunculan satu per satu. Hari ini, lebih dari dua puluh perguruan tinggi beroperasi di Kota Kediri dan sekitarnya. 1PM kota ini 81,88 – di atas rata-rata nasional. Bandara sudah beroperasi. Jalan tol sedang dibangun untuk menghubungkan.

Tapi ada satu hal yang belum berubah selama ini: cara kita memandang Brantas.Selama ini, kita melihat Brantas sebagai pemisah. Garis yang membelah kota menjadi timur dan barat. Mojoroto di satu sisi, Kota dan Pesantren di sisi lain. Begitu juga komponen-komponen pendidikan kita: kampus satu belum intens saling bicara dengan kampus lain, pesantren berjalan sendiri, sekolah mengurus urusannya masing-masing, pemerintah mengawasi dari kejauhan. Semua ada, semua bekerja, tapi masing-masing.

Kita punya dua puluh lebih perguruan tinggi, tapi apakah ada forum di mana rektor-rektornya duduk bersama membicarakan masa depan pendidikan Kediri? Kita punya pesantren sekaliber Lirboyo dan kampus-kampus modern, tapi seberapa sering tradisi keilmuan pesantren dan rigor akademik universitas saling menyapa? Kita punya dunia usaha besar dan kecil, tapi seberapa dalam keterlibatan mereka dalam proses pendidikan?

Bukan sekadar merekrut lulusan, melainkan ikut membentuk kurikulumnya? Semua komponen itu ada di kota yang sama, di sepanjang sungai yang sama. Tapi mereka belum terhubung.Gagasan ini bukan tentang membangun jalan atau gedung baru. Ini tentang membangun koneksi.

Membangun sebuah kerangka berpikir, cara baru untuk membaca ekosistem pendidikan Kota Kediri sebagai satu kesatuan yang saling terhubung, persis seperti Sungai Brantas yang mengalir menyatukan seluruh wilayah kota tanpa mengenal batas kecamatan. Sebuah “Koridor” di Aliran Sungai Brantas

Bayangkan jika seluruh perguruan tinggi di Kediri membentuk satu konsorsium (kerja bersama), bukan untuk melebur identitas, melainkan untuk berbagi. Berbagi mata kuliah melalui kredit transfer, sehingga mahasiswa UIN Syekh Wasil bisa mengambil kelas teknologi di Politeknik Kediri, dan mahasiswa Universitas Kadiri bisa belajar sastra Jawa Kuno dari ahli filologi di UIN. Berbagi laboratorium, perpustakaan digital, dan data riset. Berbagi mimpi tentang kota ini. Bukankah Kampus Merdeka, Merdeka Belajar.

Bayangkan jika pesantren dan kampus mulai berdialog, bukan dialog seremonial di acara peringatan hari besar, melainkan intens melakukan dialog substantif tentang bagaimana tradisi pembelajaran kitab kuning yang sudah berusia seabad bisa saling memperkaya dengan metodologi riset modern. Kedua tradisi ini sudah hidup berdampingan di kota yang sama selama puluhan tahun. Mereka hanya belum pernah benar-benar dipertemukan.

Bayangkan jika dunia usaha di Kediri, dari korporasi besar hingga UMKM kreatif, tidak hanya menunggu lulusan di pintu keluar kampus, melainkan terlibat dalam proses pendidikan: memberikan masukan kurikulum, membuka program magang yang bermakna dan mendanai riset yang menjawab tantangan nyata industri lokal. Bayangkan jika mahasiswa mengerjakan tugas akhir bukan tentang kasus di Jakarta atau Surabaya, melainkan tentang persoalan nyata di Kediri yang solusinya bisa langsung diterapkan.

Dan bayangkan jika pemerintah kota menaikkan fungsi dari bukan hanya menjadi pengawas dan pemberi izin, melainkan menjadi konduktor yang mempertemukan semua pemain ini dalam membangun satu orkestra multiparadigma. Memfasilitasi dialog, menyediakan data, membuat kebijakan yang mendorong kolaborasi lintas institusi.

Itulah Brantas Knowledge Corridor. Bukan bangunan fisik. Melainkan saluran imajiner, aliran pengetahuan, seperti sungai yang mengalir, menghubungkan semua titik di sepanjang jalannya.

Mengapa gagasan ini memakai nama Brantas?
Karena Brantas sudah mengajarkan sesuatu yang penting kepada kita selama seribu tahun: air mengalir dengan menghubungkan, bukan memisahkan. Ia tidak berhenti di satu titik. Ia tidak memilih hanya melewati satu kecamatan. Ia mengalir melewati semuanya, menyentuh semua sisi kota, memberi kehidupan kepada semua yang ada di tepiannya.

Ekosistem Pendidikan Kediri perlu belajar dari sungainya sendiri. Berhenti menjadi kolam-kolam terpisah. Mulai mengalir sebagai satu arus. Dan ada satu alasan lagi. Dahanapura berdiri di tepi Brantas. Menamai koridor pengetahuan ini dengan nama Brantas berarti mengatakan: Kita melanjutkan apa yang dimulai seribu tahun lalu di tepi sungai yang sama. Bukan dengan batu dan prasasti, melainkan dengan koneksi dan kolaborasi. Bentuknya berbeda, esensinya sama, kota ini adalah tempat di mana ilmu mengalir dan terhubung.

Di Hari Pendidikan Nasional ini, Kota Kediri tidak perlu mencari identitas pendidikannya dari jauh. Identitas itu sudah mengalir di sini, 7 kilometer dari selatan ke utara, menembus jantung kota.Yang dibutuhkan bukan anggaran triliunan untuk membangun sesuatu yang baru. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menghubungkan apa yang sudah ada – kampus dengan kampus, pesantren dengan universitas, akademisi dengan pengusaha, guru dengan dosen, mahasiswa dengan santri. Membuat mereka berbicara, bertukar, berkolaborasi.

Karena dua puluh api kecil yang menyala terpisah tidak seterang satu api besar yang menyala bersama. Brantas Knowledge Corridor adalah undangan untuk menyalakan api itu bersama-sama. Bukan dengan membangun gedung baru, melainkan dengan membangun jembatan pikiran antara setiap orang yang peduli pada pendidikan di kota ini.

Kota Kediri – Di Mana Api Ilmu Tak Pernah Padam. Sekarang, mari kita buat apinya mengalir sebagaimana Brantas. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Untuk Kediri, dan untuk api yang tak pernah padam. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry