
SURABAYA | duta.co — Pertemuan Prabowo-Megawati, yang ditunggu-tunggu banyak kekuatan politik, terlaksana, Senin 7 April. Tak banyak informasi pasca silahturahim lebaran dua tokoh tersebut. Sumber-sumber di PDIP menyebut bahwa Megawati berkepentingan untuk mengamankan kongres partai banteng bulan depan.
Sementara Nasdem, menilai sillahturahim itu hakikatnya sebuah keniscayaan. “Jadi silahturahmi antartokoh bangsa adalah sesuatu yang harus disambut positif sebagai bagian dari kebersamaan kebangsaan,” kata Hermawi saat dihubungi, Rabu (9/4/25).
Hermawi menilai silaturahmi memang harus dilakukan antarelit politik terlepas dari posisi politik yang masing-masing ambil dalam bernegara. “NasDem menyambut baik setiap silahturahmi antar tokoh, silahturahmi harus terus dilakukan terlepas dari posisi partai apakah di dalam atau di luar pemerintahan,” jelas dia.
Senada, Sekretaris Jenderal Golkar Sarmuji turut mendukung pertemuan itu karena dianggap membawa dampak positif bagi bangsa dan negara. Namun, buru-buru ia enggan menjawab dengan tegas apakah Golkar terbuka apabila PDIP bergabung kedalam Kabinet Merah Putih?
“Setiap silaturahmi akan memberikan energi positif. Silaturahmi elit akan membawa keteduhan dan keharmonisan di masyarakat,” kata Sarmuji saat dihubungi media.
“Urusan koalisi Presiden lebih tahu kebutuhannya,” sambungnya.
Setali tiga uang, Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid turut mendukung pertemuan yang berlangsung sekitar 1,5 jam itu. “Ini menunjukkan bahwa memang Pak Prabowo tidak ada masalah dengan Ibu Mega, sekaligus Pak Prabowo tidak punya masalah dengan tokoh politik yang lain,” ujar Jazilul saat dihubungi.
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menyebut Prabowo membahas sejumlah hal dalam perbincangan empat mata dengan Megawati. Salah satunya, membahas tentang tarif impor resiprokal yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap Indonesia.
“Utamanya akibat dari kebijakan Presiden Donald Trump berkaitan dengan pengenaan tarif yang digunakan untuk produk-produk Indonesia terhadap ekspor di Amerika dan banyak negara-negara yang juga terkena,” kata Muzani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (9/4).
CSIIS: Alotnya Kesepakatan Elit
Sedikit berbeda adalah analisa Dr M Sholeh Basyari. Analis politik yang juga Direktur ekskutif CSIIS (Center for Strategic on Islamic and International Studies) ini menyebut bahwa, dibalik statemen sejumlah elit parpol koalisi, terutama Golkar dan PKB, terkait pertemuan Prabowo Mega, sejatinya terselip kondisi galau.
“Galau akibat dari alotnya Prabowo menyusun bidak. Hingga hampir satu semester pemerintahan Prabowo, kesepakatan elit nyaris dead lock pada relasi Prabowo-Jokowi-Megawati. Sejumlah agenda dan program nasional, mau tak mau “terjeda” oleh relasi saling mengunci itu,” tegasnya kepada duta.co, Kamis (10/4/25).
Sholeh menambahkan, aktivitas politik Jokowi yang tetap dinamis cenderung tinggi, meski telah pensiun, ini memaksa sejumlah kekuatan politik terus menghitungnya. Sebagai sama-sama mantan presiden, Jokowi memilik posisi khas dalam politik Indonesia kontemporer. Posisi Jokowi berbeda langgam dengan SBY maupun Megawati. “Betul bahwa SBY dan Megawati punya partai, tetapi jelas Jokowi “lebih powerful” bagi Prabowo.
Menurutnya, alotnya kesepakatan elit layak “dicurigai”: jangan-jangan terjadi sebab perbedaan agenda-agenda nasional di antara mereka? “Publik menghajatkan semacam clearance dari presiden Prabowo bahwa Prabowo Jokowi SBY, serta Megawati baik-baik saja. Clarence seperti pada launching Danantara. Ini adalah “tugas” Prabowo. Bukankah Golkar, PKB, PKS, Demokrat serta PAN “selesai” di tangan Sufmi Dasco Ahmad?,” ujarnya. (mky)





































