Nanang Rokhman Saleh, S.Ag., M.Th.I – Dosen FKIP

Kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi, selain  memudahkan manusia dalam meningkatkan dan memperkaya nutrisi pengetahuan,  juga terbukti mampu menggeser nilai, norma dan etika kehidupan mereka sehari-hari.

Realitas ini menjadikan tanggung jawab dan tugas para pendidik tertutama orang tua makin berat dalam membentuk pribadi anak menjadi insan yang shaleh dan mulia.

Beratnya tantangan yang dihadapi para pendidik di era global tersebut, salah satunya ditandai dengan  maraknya anak (yang masih balita) telah pandai bermain handphone, tablet, komputer ataupun play station.

 Mereka terlihat sangat aktif mengikuti perubahan zaman, padahal perubahan zaman cenderung merusak. Kepandaian mereka dalam teknologi adalah bagus ketika diimbangi pendidikan yang tepat, dan berpotensi menjadi manusia bobrok ketika tidak dibekali pendidikan.

Di sinilah pentingnya peran orang tua untuk memberikan pendidikan sebelum mereka mengenal teknologi. Alquran adalah kitab dan kalam suci Allah SWTyang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman secara teoritis dan praktis bagi manusia dalam semua aspek kehidupannya, termasuk aspek pendidikan.

Menurut Alquran, anak adalah amanah (titipan) dari Allah yang harus dijaga oleh orang tua,  juga  dapat menjadi fitnah (ujian), zinah al-hayah al-dunya  (perhiasan kehidupan dunia),  ‘aduww (musuh), dan  qurrata a‘yun (penyejuk hati) bagi mereka.

 Salah satu cara menjaga amanah tersebut adalah orang tua wajib memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Amanah itu akan dipertanggungjawabkan oleh orang tua dihadapan Allah kelak di akhirat.

Dalam artikel ini, akan dikupas secara singkat tentang makna pendidikan anak, metode pendidikan  anak, materi dan tujuan pendidikan anak, dan urgensi mendidik anak dalam Alquran.

Pertama, ada tiga istilah yang digunakan oleh Alquran terkait dengan konsep pendidikan, yaitu al-tarbiyah, al-ta‘lim dan al-ta’dib. Kata al-tarbiyah memiliki pengertian memelihara dan menjaga jiwa anak didik menjelang dewasa, mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan, dan melaksanakan pendidikan secara bertahap.

Kata al-ta‘lim adalah proses pembelajaran secara terus menerus sejak manusia lahir melalui pengembangan fungsi-fungsi pendengaran, penglihatan dan hati, serta proses ta’lim tidak hanya berhenti pada pencapaian yang bersifat kognisi semata, melainkan terus menjangkau psikomotor dan afeksi. Kata al-ta’dib mengandung arti ilmu (pengetahuan), pengajaran (ta’lim) dan pengasuh (tarbiyah). Kata ini perpaduan dari kata al-tarbiyah dan al-ta‘lim.

Bila dikaji secara filosofis, ketiga istilah tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalan bingkai keilmuan, termasuk ilmu pendidikan, ta‘lim lebih mengarah kepada kajian ontologi, tarbiyah lebih mengarah pada kajian epistimologi serta dan ta’dib lebih mengarah pada kajian aksiologi.

Begitu juga, bila dikaji secara filosofis, maka ketiga istilah pendidikan tersebut juga mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam bersumber dari Allah, sebab Allah sebagai pendidik seluruh ciptaan-Nya termasuk manusia.

Landasan normatif kewajiban mendidik anak adalah Alquran dan Hadis Nabi saw. Dalam Alquran surah al-Tahrim ayat 6 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”,  menjelaskan tentang tugas setiap orang yang beriman adalah menjaga diri, istri, anak, dan  anggota keluarganya dari api neraka.

Karena itu,  tidak tepat jika dirinya sendiri berkomitmen menjadi manusia yang bertaqwa, tetapi  membiarkan anak, istri dan kerluarganya terjerumus ke jurang kehancuran. Bila  ia tidak menjaga mereka, maka perjalanan nasibnya akan menjemput kerugian dan berakhir pada penyesalan.

Hadis Nabi saw riwayat Ibn Majah yang artinya, muliakan anak-anakmu dan perbagus adab (tata kramanya)”, juga menegaskan pentingnya pendidikan bagi anak dalam proses menumbuhkan potensi dan membentuk pribadinya yang mulia. Pendidikan dimulai sejak dalam kandungan, setelah lahir (adzan,  pemberian nama, aqiqah, cukur rambut, dan khitan serta pemberian ASI), dan usia pra sekolah hingga dewasa.

Kedua, metode pendidikan anak telah disebutkan dalam Alquran sebagaimana yang diterapkan oleh Luqman Hakim dalam mendidik anak-anaknya, antara lain metode: nasehat, teladan, tanya jawab, dan pembiasaan. Keberhasilan penerapan metode itu juga diiringi dengan sifat-sifat mulia pendidik, seperti taqwa, ikhlas, kasih sayang, perhatian, sabar dan teladan yang baik.

Ketiga, materi pendidikan anak dan tujuannya adalah menanamkan tauhid dan keimanan kepada Allah (aqidah), mendirikan shalat (ibadah), berbakti kepada orang tua (akhlak), amar ma‘ruf nahy munkar; mengajak berbuat baik dan mencegah kemunkaran (da‘wah), bertutur kata dan bersikap lemah lembut terhadap sesama manusia  (sosial).

Keempat, dengan memperhatikan rambu-rambu pendidikan Alquran tersebut, dapat diharapkan urgensi pendidikan akan dicapai oleh para pendidik khususnya para orang tua dalam mencetak anak-anak menjadi manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, beramal dan berketerampilan, yang berguna untuk diri, keluarga, masyarakat, nusa dan bangsanya. Demikian semoga bermanfaat bagi kita. *

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.