Oleh: Suparto Wijoyo*
KEHENDAK itu menjadi karep, yakni maksud untuk meraih kekuasaan. Sebuah karep kadang-kadang sangat ganjil dipahami karena mempertahankan atau meraihnya harus menumpahkan semangat yang sulit ditandingi oleh ikhtiar macam apa pun. Hari-hari ini rakyat menyaksikan betapa kekuasaan itu hendak dikukuhi dengan sembarang cara, termasuk yang sangat viral adalah ragam “diskon atau bonus”.
Suara lawan sering didiskon, sementara suara untuk dirinya diberi bonus berlipat-lipat sampai tidak ada perkalian dalam pelipatan yang sangat “brutal” itu. Begitulah yang direkam oleh pakar-pakar IT yang memang ahli di bidang “pemantauan data komputer”. Melihat tayangan yang ramai di belantara dunia maya, sungguh pelanggaran Pemilu itu nyata walaupun untuk mengatakan hal ini saya sendiri tidak memiliki nafas prasangka.
Dalam lantun dan langgam peribadatan puasa Ramadan, pastinya sangat menyesakkan ruhani atas apa yang dipamerkan oleh mereka yang hendak mengukuhi kekuasaan. Kritik kepada para calon sudah dikira menjungkalkan yang tengah bertengger di “dampar kencono”.  Logika rakyat cenderung diajari tentang pengaburan segala hal termasuk mengaburkan posisi calon ataukah pelaga dalam palagan. Calon itu setahu orang yang bernalar tetaplah calon, bukan pihak yang sedang “berkomando”.
Tetapi di negara “sapu jagad” itu terbersit keberadaan negara yang aparaturnya mengimani bahwa ini adalah calon bukan sembarang calon. Sebab ini adalah calon yang memang berpunya segala hal. Terhadap hal ini sepantasnya dikenang sebagai pihak yang kerap mendemonstrasikan kehendak berkuasanya amat telanjang, tanpa ditutupi walau dengan selembar daun kelor yang sangat lembek.
Apalagi soal pemanggilan tokoh-tokoh yang dianggap “toko-toko aksesoris” kesepahaman gelora rakyat. Lantas pada bejana sosial itu tumbuh gerakan yang dinamakan “kekuatan para pelamun” yang memimpikan adanya singgasana. Inilah celoteh yang sangat dihindari oleh Cak Mispon, kolega sepertaruhan jiwa-raga yang hendak mengabdikan diri kepada kekuatan dari daulat rakyat.
Daulat yang membutuhkan “tunggangan mekanik” yang tersistem sehingga tidak semua pihak boleh mengakses “pedati itu”. Tetapi yang aneh adalah ada suatu jeda tentang ketahanan bernegara mengenai kenyataan atas tercerabutlah suara kehendak untuk berkuasa secara total. Instrumen-instrumen yang digunakan menghitung sering diblokir secara rapi oleh pemegang kendali utama “sang operator”.
Panitia gawe besar ini sekarang nyaris “lupa diri” atau sejatinya “tidak tahu” atas dirinya sendiri. Hal ini sampai pada masa jelang periode panggilan agung yang menyebut nama paling spektakuler dalam ajaran beragama. Azan itu berkumandang jelang berbuka. Biasa saja bukan?
Tetapi seruan azan itu sejatinya tanda menaruh jeda untuk beberapa jenak waktu agar manusia berkesempatan beraudiensi dengan Rabbnya. Sepanjang Ramadan 1440 Hijriyah ini saya sangat menikmati gerakan umat, emak-emak, ibu-ibu, dan anak-anak yang  melangkah menuju musala, langgar, surau, dan masjid terdekat. Beberapa kawan lama memberikan sebersit kenangan betapa saat-saat  pergi menuju rumah Tuhan yang mewarnai sisik-melik Ramadan amatlah membekas.
Berpuluh tahun peristiwa berjalan beriring guna meramaikan Tarawih ternyata menyiratkan nilai dan menggelarkan tikar hikmah paseduluran yang mengesankan. Anak-anak melanjutkan tradisi bertarawih yang kadang-kadang guyon-gegojekan yang menyelingi. Suara anak-anak itu menabuh lubuk hati kekhusukan salat tetapi tidaklah membatalkannya. Karena suara anak-anak itu bukanlah “penistaan” melainkan buncahan keceriaan yang dipanggul dalam kenangan sepanjang hayatnya.
Untuk itulah kehadiran anak-anak yang meramaikan tempat-tempat tarawih biarlah demi membangun “sepasukan” GM (Generasi Muslim) yang kelak tetap memakmurkan masjid-masjidnya. Gang-gang sempit ternyata terasa longgar dalam jejak orang sembahyang, termasuk di kampung-kampung nun jauh dari metropolitan. Gemerlap mukena yang memanjang memutih dengan kelebat ke kanan dan ke kiri mengikuti gerak tangan pengenanya, terpotret seperti labirin yang mengabarkan “jalan surga”. Mukena itu  seperti sayap-sayap merpati putih yang amat tertata. Iringan itu mengingatkan pada “ajaran sai” di kala Siti Hajar menempuh takdirnya “mendaki dan menuruni” Bukit Shofa dan Marwah. Betapa kelebat mukena itu menyuarakan damainya batin dan energiknya raga penyusur “ihdinashshiratal mustaqim”.
Belalak mata tidak bisa berdusta. Dalam persaksian di jalan-jalan Kota Pahlawan, di ruas-ruas pinggiran maupun jantung perkotaannya, dalam pekan-pekan ini terus berkelebat seruan-seruan yang “menari ditiup angin” dalam selongsong “festival ajakan” yang belum kupahami: sebagai kebencian ataukah kewaspadaan. Saya  mengerti betapa luka menghunjam dalam,  menyayat perih. Ucap duka dan doa bersama dipanjatkan, bahkan  saya gelar  dengan “telungkup doa keselamatan” sambil mengkristalkan tekad kutukan atas  kejahatan yang “menyembelih suara rakyat”. Atas gelegak Pemilu yang terasa semakin seru itulah semua orang beradab dituntun tetap menjaga nalar sehat yang terawat.
Gelora dan teriakan atas “kecurangan” itu  mengaduk ruhani pembuatnya maupun pembacanya, pendengarnya. Keteradukan yang bisa saja menjadi sangat “kelam” hingga tidak mampu lagi membedakannya dengan  ajaran agama. Telunjuk ungkapan yang beredar dan dapat dibaca siapa saja yang melewatinya, amatlah jelas, meski kadang-kadang mudah dielak.
Ramainya suara “mendemonstrasikan kehendak” itu menunjukkan tingginya tingkat solidaritas warga  dan wujud  kesigapan. Pun pesitiwa ini “menimbulkan produk kebijakan lintas negara”. Pakar-pakar IT dari manca negara  secara khusus  menyodorkan diri untuk membantu pengamanan suara rakyat  dari tindakan salah input. Niat baik ini  pastilah “tanda simpati” yang tidak elok untuk ditepikan. Terima kasihlah atas jasa mulia dari negeri siapa saja yang menjunjung tinggi keheormatan demokrasi.
Ya… di sebuah hajatan demokrasi yang orang-orangnya konon amat terdidik itu ternyata ada yang tega menuliskan sebuah kata yang ujungnya mungkin tidak disadarinya. Ada  “godaan”  yang membawa ujaran: perjuangan itu bukan sahid tapi sangit. Kenapa urusan “mengakali suara” itu dikaitkan dengan terminologi yang semua warga  tahu ke mana arahnya?  Adakah  kecurangan atau upaya “yang menghalalkan segala hal”  itu sebagai bentuk jihad dan jahat?
Marilah semua komponen di bulan Ramadan ini meneduhkan hati umatnya dan bertindak bijak tanpa menjejak ajaran untuk memberikan alibi atas “kesalahan input” yang berkelanjutan. Kehendak berkuasa itu jangan dimobilisasi pada “pasar gelap” peradaban.
*Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga
 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry