Oleh: Suparto Wijoyo*

 

TERIMA kasih Tuhan. Matur nuwun Gusti Allah atas hujan yang Kau turunkan pada Kamis, 17 Januari 2019, sampai titik edar yang merintik menuju malam Jumat, 18 Januari 2019. Sebuah guyuran yang menyegarkan sekaligus menumbuhkan penyadaran asal mula kehidupan. Ayat-ayat Alquran memberikan ragam pesan tentang makna air hujan yang dititahkan dan atas itulah bumi menapaki jalan kehidupan.

Dari hujan yang semalam memandikan kota ini dan desa-desa tempat pembaca harian ini tinggal pastilah memberikan kesan yang spesial. Hiruk-pikuk perpolitikan tidak sejernih suara “gema air hujan yang mendentum” di jalanan yang “men-taharah-kan” zaman yang sedang gandrung demokrasi.

Debat capres-cawapres secara tematik tidak membuat para pihak gerah secara mendalam karena hujan sejatinya meluluhkan jiwa-jiwa yang kering dari gagasan serta data yang dibincang dari alibi realitas. Saya baru paham bahwa malam Jumat ini merupakan “menebarkan janji”  melalui “pagelaran drama debat” yang diseru-serukan oleh  kehendak Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang sudah terpotret sebagai “guru baik” tetapi tidak mendidik.

KPU sangat baik dan kebaikan itu adalah kebaikan yang ganjil dengan kisi-kisi yang selama ini diberitakan beredar guna mengurangi “serangan mendadak para kandidat”. Simak saja wajah para penggede politik itu melangsungkan debatnya dan saya cenderung menyaring dengan seringai yang  bertanda tanya akibat keberlanjutan janji yang terulang kembali.

Janji itu dipatri lagi dalam deret ukur yang semakin meninggi atau memanjang membentuk “jalan perjanjian”. Inilah tragedi maraton janji-janji yang harus dirajut melalui panggung yang diberi rasa  sebuah perdebatan. Janji itu dikerek kembali untuk menambah mimpi rakyat yang dikira sedang tertidur.

Ingatan warga niscaya masih amat tajam tentang kabinet bebas ketua Parpol dan rupiah yang akan menguat kalau dia berkuasa serta harga-harga stabil. Masalah HAM tertuntaskan dan korupsi bersih “disapu imaji”. Impor beras dan impor garam diharamkan.

Eh … soal penculikan 1998, isu HAM namanya yang di-sedemikianrupa-kan itulah yang diperjanjikan sambil ditonton oleh rakyatnya yang sibuk nobar (nonton bareng). Asyik memang. Debat telah membuka kesempatan aktivitas tambahan buat khalayak ramai Nusantara dengan warkop-warkop dan kedai-kedai, kafé-kafé, serta komunitas-komunitas gedongan yang menggelar nobar debat.

Realitas itulah yang menarik untuk direspons. Perhetalan politik menumbuhkan perekonomian secara inklusif. Keuangan bangsa bergulir meski yang sedang berkuasa jeda bekerja karena mengikuti jadwal acara KPU.

Justru ada yang mengambil jeda untuk tidak bekerja tetapi sibuk berdebat maka perekomomian rakyat tampak beredar dengan bukti ajang diskusi ramai di tengah guyuran hujan. Hujan yang muncrat ke tenda-tenda warung tengah kampung itu menggigilkan para pendukung agar tidak adu argumentasi tentang jagoannya. Biar mereka lebih asyik menelungkupkan sarungnya sambil leyeh-leyeh menyaksikan televisi dengan suara yang menggelora ataupun lirih-lirih saja. Kehangatan terkemas dalam selubung sarung kaum penikmat kopi malam.

Betapa rakyat menjadikan debat itu sebagai tontonan untuk mengonstruksi kembali ingatan bahwa sudah sekian tahun ini dia diberi kesempatan  mewujudkan janjinya. Lantas semalam janji lagi. Janji  dengan uraian yang dilansirkan sebagai angka-angka yang dikira data. Pikiran-pikiran teknis praktis  diusung seolah kosmologi kehendak rakyat.

Padahal sebuah negara itu harus dibangun dengan ide-ide besar dan bukan sekadar urusan-urusan operasional yang tampak untuk menunjukkan pengalamannya selama ini. Sebuah pengalaman kepemimpinan yang tidak sanggup istiqomah dengan apa yang dulu diperjanjikan bukanlah pengalaman yang perlu diteladani. Hadirnya pemimpin untuk menyodorkan janji baru dengan gagasan-gagasan besarnya itu dibutuhkan agar rakyat dapat membentuk karakter  besarnya sebagai bangsa yang besar.

Capaian kinerja yang beratribut  perlindungan hukum yang tengah dipertontonkan selama ini amatlah kentara permainannya. Hukum sedang kehilangan supremasinya karena terserah “karepe si dia” yang amat menonjol. Siapa yang mendukung tampak kelihatan tentang ketersembunyian yang ternarasikan mengenai ketidakberdayaan.

Janji-janji akhirnya  harus diperjanjikan lagi di debat-debat lanjutan nanti sambil mengujarkan simbol-simbol negara yang sejak 17 Agustus 1945 telah tuntas. Hubungan agama dan negara sepanjang kepemimpinan sebelumnya tiada menjadi problema yang membelah kerumunan umat dalam permusuhan terselubung seperti sekarang. Sikap saling ejek itu baru ada dalam sejarah kekinian Indonesia dan kondisinya sejurus waktu selaksa parade zaman manipol usdek yang penuh gunjang-ganjing.

Kepemimpinan yang mengusung kegaduhan dengan menuduh siapa saja yang tidak dalam barisannya dianggap sang pengganggu adalah manifes kebijakan yang patut diperdebatkan. Saya sangat menikmati acara debat malam tadi dengan sorot mata para kandiat dan bukan ucap semata yang harus perhatikan. Betapa parade ini memang layak dilihat tetapi bukan untuk mendesahkan bangunan bangsa yang sudah benar tetapi dengan kepemimpinan yang pandai berjanji meski telah mencecerkan janjinya.

Itulah keajaiban bagi siapa yang berkesadaran. Tidak semua orang dapat melakukan tebaran janji di tengah situasi janji-janji sebelumnya masih berserakan. Kemampuan melakukan serakan janji itu sangat membutuhkan keteguhan hati dan keberanian diri. Siapa yang mampu melakukan itu menunjukkan dialah orang kuat penuh kekuasaan. Orang semacam ini sangat berkekuatan besar meski bukan yang harus diteladani untuk kemaslahatan umat.

Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah yang berkebaikan dengan janjinya sedasar ajaran berlomba-lombalah menuju kebaikan, bukan menuju “kuat berjanji kembali”. Inilah kekuatan yang melintas dalam benak saya di tengah jelang debat dimulai sambil  nyaman membaca karya Buya Hamka, Bohong di Dunia (1961). Benar Buya, bohong itu hanya ada di dunia, sebab di akhirat tidak bisa berbohong, termasuk menumpuk janji lagi di tengah arakan janjinya selama ini.

 

*Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum &  Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.