“Ramadhan adalah  ‘madrasah’ atau ‘karantina’ yang berorientasi menggembleng hawa nafsu yang berontak menjadi jinak, mengeras menjadi lunak. Pun bagi mereka yang terbiasa merasa hebat, menjadi merasa tak terlalu hebat, dan mereka yang merasa  paling benar, suka menyalahkan, menjadi tak gelap mata dengan kebenarannya.”
Oleh: Ahmad Karomi*

SATU bulan penuh umat Islam dari lintas suku, partai, negara serempak melatih diri agar menjadi insan yang bertakwa sesuai firman Allah “yaayyuhalladzina amanu kutiba alaikumussiyam kama kutiba alalladzina min qablikum laallakum tattaqun”. Poin dari siyam (puasa red.)  adalah melatih diri agar menjadi manusia yang bertakwa dalam arti yang sesungguhnya.

Semisal, mereka yang kerap obral caci-maki, bohong, mencuri, menggunjing menjadi berhenti caciannya, kebohongannya, pergunjingannya, bahkan mengubah seluruh ‘bad habitnya’ menjadi ‘good habit’. Persis, ibadah haji yang mabrur.

Masih kita ingat dengan baik, selama berada di bulan Puasa kita sering melantunkan doa “allahumma innaka afuwwun karimun tuhibbul afwa fa’fu annaa” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi mulia. Engkau menyukai “afwu/sifat maaf”, maka maafkanlah kami).

Kalimat indah yang dilangitkan tersebut bukan tanpa maksud. Sebab “Afuwwun dan Afwu” saling berkait paut. Allah pemaaf bagi hambaNya dan menyukai sifat maaf yang dilakukan hambaNya, maka Allah memaafkan seluruhnya. Namun dengan catatan, ada bentuk konkret “saling memaafkan antarsatu sama lain”.

Dari sinilah, ada secuil pesan yang tersembunyi, bahwa “Allah dzat Pemaaf bagi mereka yang juga memaafkan orang lain”. Artinya ada dua dimensi yang patut diperhatikan; yaitu hablun minallah (Allah dengan Hamba) dan hablun minannas (Hamba dengan Hamba).

Seorang hamba yang memiliki kesalahan kepada Allah akan mudah terselesaikan dengan istighfar taubat. Lain halnya dengan hamba yang memiliki khilaf kepada sesama. Ia harus meminta maaf terlebih dahulu kepada yang dianiaya, sebab meminta maaf atau saling memaafkan itu butuh ‘lapang dada’ dan mental matang agar tercapai makna kasih sayang selama kesalahan itu wajar.

Mengapa demikian? Sebab kesalahan yang tidak wajar seperti maaf-memaafkan kepada para penggasak uang rakyat, teroris dan makar lainnya, biasanya sangat ‘berat hati’ untuk mereka yang menggasak miliaran uang rakyat (selama tak meminta maaf dan mengembalikan uang curiannya). Namun, itu semua kembali kepada kematangan jiwa masing-masing.

Dari sinilah pentingnya peran hasil berpuasa. Di saat hati berontak, tidak terima akan perlakuan mereka yang mendzalimi, kita berusaha untuk mendamaikan diri kita sendiri. Mengedepankan kelembutan, perbaikan dan kebaikan. Bukan keburukan dengan keburukan. Makian dengan cemoohan. Sebab Allah berfirman, “innal hasanaat yudzhibna assayyiat” (sesungguhnya perbuatan baik bisa menghapus keburukan).

Walhasil, Ramadhan adalah  ‘madrasah’ atau ‘karantina’ yang berorientasi menggembleng hawa nafsu yang berontak menjadi jinak, mengeras menjadi lunak. Pun bagi mereka yang terbiasa merasa hebat, menjadi merasa tak terlalu hebat, dan mereka yang merasa  paling benar, suka menyalahkan, menjadi tak gelap mata dengan kebenarannya. Sehingga insan-insan yang telah melakoni puasa ramadhan, bergegas menyongsong hari penuh berkah ini  untuk ‘menjemput’ pancaran sifat rahman-rahim yang terimplementasikan dalam kehidupan sehari-sehari.

Mari, di hari raya penuh kegembiraan ini kita songsong: Idul fitri, Minal Aidin wal Faizin, Afuwwun, Ngaturake sedoyo keluputan dengan ragam bahasa dan makna yang mengguyur deras. Kesampingkan keakuan menuju kebersamaan untuk meraih hari bermaafan yang agung. Sehingga tercipta umat Islam yang benar-benar bertakwa, dan saling kasih sayang. (*)

*Ahmad Karomi, Blitar, 14-Juni-2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.