Catatan Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa; Kitab Tanbihu Al Mughtariin karya Syeikh Abdul Wahab Asy Sya’rani; Kamis, 08 Januari 2025

Oleh: Abdur Rahman El Syarif

Pagi selepas Subuh itu terasa dingin dan bening. Langit Condet masih berwarna pucat, seolah belum sepenuhnya terjaga. Di pendopo Pasulukan Al-Masykuriyah, para murid duduk dalam keheningan yang khidmat. Sebagian hadir secara fisik, sebagian lain menyimak dari balik layar, namun hati mereka berkumpul dalam satu arah: menata cinta agar tetap suci karena Allah.

Ngaji Qalbu kembali berlanjut pada Kitab Tanbīhu al-Mughtarrīn karya Syeikh ‘Abdul Wahhab Asy-Sya‘rani. Pagi itu, Sang Guru mengajak para murid menyelami satu tema yang halus namun menentukan keselamatan batin: hubungan dengan sesama karena Allah.

Beliau mengawali dengan kisah Sufyān ats-Tsaurī, seorang imam besar yang keras menjaga kejernihan niat. Sufyān berkata, jika seseorang melakukan pelanggaran lalu kita diam dan enggan mengingatkan, sesungguhnya itu tanda tidak adanya cinta kepada Allah. Amar ma‘ruf tidak boleh lahir dari kemarahan, tetapi dari cinta, amar ma‘ruf bil ma‘ruf.

Allah menegaskan:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. At-Taubah: 71)

Cinta karena Allah bukan sekadar perasaan hangat, tetapi keberanian menjaga sesama agar tidak terjatuh lebih jauh. Diam demi kenyamanan pribadi adalah tanda cinta yang telah tercemar.

Sang Guru lalu menyampaikan riwayat Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu: kelak seorang hamba dihadapkan kepada Allah, lalu ditanya, “Apakah engkau mencintai seorang wali karena Aku?” Sebab mencintai kekasih Allah sejatinya adalah mencintai Allah sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

قال الله تعالى: المتحابون فيَّ على منابر من نور، يغبطهم النبيون والشهداء

“Allah berfirman: Orang-orang yang saling mencintai karena-Ku akan berada di atas mimbar-mimbar cahaya; para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka.” (HR. مسلم)

Maka Sang Guru berpesan dengan suara yang lembut namun menghunjam: cintailah para kiai kampung, para mursyid yang istiqamah, yang menyalakan syiar tanpa pamrih dan tanpa sorot kamera. Mereka adalah lentera-lentera kecil yang menjaga malam umat agar tidak sepenuhnya gelap.

Namun cinta karena Allah juga menuntut ketegasan batin. Imam Hasan al-Bashri mengingatkan: memutus hubungan dengan orang fasiq untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan berarti memutus fisik, melainkan memutus di dalam hati. Kita tetap hadir, tetap menyapa, tetapi membenci kefasikan itu sendiri, dengan tujuan meluruskan, bukan menghakimi.

Beliau memberi contoh Gus Miek, yang justru mendekati para penikmat dunia malam. Fisiknya dekat, hatinya tetap terjaga. Cinta yang demikian adalah dakwah sunyi.

Sufyān ats-Tsaurī bahkan berkata, ketika ditanya apakah orang fasiq yang wafat harus dilayati, beliau menjawab: tidak. Ini bukan kebencian personal, melainkan peringatan keras agar kefasikan tidak dinormalisasi.

Dalam penjelasan lain, Sang Guru menyinggung sosok Mu‘āwiyah. Ia seorang alim dan pejuang dakwah, namun memiliki cinta pada kekuasaan. Imam Asy-Sya‘rani menilai dengan adil: Mu‘āwiyah mencintai dunia, tetapi tidak berhenti berdakwah. Tasawuf mengajarkan keseimbangan pandangan—tidak membabi buta mencela, tidak pula memutihkan segalanya.

Hasan al-Bashri berkata dengan tajam: siapa yang mengaku mencintai seseorang karena Allah tetapi tidak menampakkan kebaikan, maka cinta itu dusta. Cinta sejati melahirkan akhlak, bukan sekadar klaim.

Abu Hanifah memperingatkan: menyukai ahli neraka karena jasa atau keuntungan adalah kesalahan besar. Cinta yang dibangun di atas manfaat akan runtuh bersama runtuhnya manfaat itu.

Karena itu para salaf berkata dengan keras: lebih baik berkawan dengan anjing daripada dengan orang fasiq. Bukan merendahkan makhluk, melainkan menggambarkan bahaya batin yang ditimbulkan oleh kebersamaan yang salah.

Ahmad bin Hambal menegaskan, tidak ada yang lebih berharga daripada duduk bersama orang-orang shaleh dan memperhatikan amal mereka. Sebaliknya, tidak ada yang lebih berbahaya daripada terus-menerus berkumpul dengan orang fasiq.

Sang Guru mengibaratkan orang shaleh seperti tumbuhan harum. Jika murid mendekat dan menghirup aromanya, bau itu akan terbawa menuju Allah, dan hati pun menjadi tenteram.

Imam Asy-Sya‘rani mengajak setiap murid merenung: apakah engkau mencintai dan membenci seseorang karena Allah? Jika hubungan dibangun karena nafsu dan kepentingan, maka menangislah dan perbanyak istighfar siang dan malam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. مسلم)

Bagi orang beriman, dunia terasa seperti penjara: jauh dari Kekasih, terpisah dari yang dicinta. Karena itu orang-orang shaleh selalu rindu berjumpa dengan Allah, rindu yang membuat mereka berhati-hati terhadap istidrāj: kekayaan, kesuksesan, dan kekuasaan yang justru menggelapkan hati.

Pagi kian terang. Namun di dada para murid, terasa satu kesadaran baru: mencintai karena Allah adalah jalan sunyi, penuh seleksi batin, namun di sanalah hati diselamatkan dari gelap dunia.

#NgajiQalbu
#PonpesAlMasykuriyah
#AliMasykurMusa
#CintaKarenaAllah
#TanbihulMughtarrin

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry